Akhir Tahun dan Spirit Kemanusiaan yang Tak Berakhir

Event
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Riak-riak kegembiraan menyambut tahun baru (baca: 2022) semakin terasa. Dalam hitungan beberapa saat lagi, kita dengan terpaksa harus mengakhiri relasi keintiman dengan tahun 2021. Tentu kita tidak menyebutnya sebagai tahun lama.

Itu hanyalah waktu. Sebuah etape kehidupan sekaligus saksi yang melukiskan banyak kisah, baik suka dan duka, susah dan senang, hingga tertawa dan menangis bersama. Kita sudah memainkan peran dengan status kita masing-masing.

Beribu harapan muncul agar hidup harus selalu diwarnai dengan hal-hal yang baik. Setiap tujuan dan impian akan tercapai. Bahkan kita pun tak jarang selalu melantunkan nada permohonan agar dijauhkan dari hal-hal yang tak diinginkan.

Sekiranya dibukakan dan dilancarkan perjalanan hidup. Dijauhkan dari setiap tantangan dan rintangan. Sayangnya akal kita tak mampu memprediksi lebih jauh akan apa yang terjadi di kemudian hari.

Harapan terkadang tak seirama dengan kenyataan. Kita tak perlu menghindarinya. Kita justru merayakan dan menikmati setiap kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Hingga kini di penghujung tahun 2021, hidup dan kehidupan kita masih berada dalam cengkeraman virus covid-19. Penyakit menular ini rasanya masih terus nyaman seiring dengan pola dan laku hidup kita yang menganggap penyakit tersebut sebagai hal yang biasa, bahkan tak perlu ditakutkan.

Baca Juga: Pendidikan Partisipatif Dalam Keluarga

Konsekuensi logisnya semakin terasa. Bahwa pola dan tingkah laku kita masih belum bisa move on dari jaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, dan tidak berkerumun. Bahkan tidak jarang, sebagian dari kita sudah merasa nyaman dengan perilaku tersebut.

Sungguh aneh ketika melihat sesama anak manusia melakukan hal-hal yang tak sejalan dengan kebiasaan banyak orang di masa pandemi. Meski demikian, rasa optimisme kita agar pandemi segera berakhir terus mengencang.

Kerja keras dan cerdas dari pemerintah semakin nampak. Upaya pemenuhan vaksinasi terus digencar. Begitu pun hal lainnya, terutama pada upaya pemulihan ekonomi. Ya, kita masih berada dalam satu tarikan nafas panjang bahwa pandemi akan segera berakhir. Kita siap menyambut tahun baru sekaligus merayakan kematian dari virus covid-19. Ini merupakan nada pengharapan agar segera menjadi kenyataan.

Pandemi covid-19 memang menjadi fokus dan titik konsentrasi, bukan hanya bagi pemerintah, melainkan juga di kalangan masyarakat akar rumput. Namun, kita masih menyisahkan banyak kisah lain terutama bencana alam yang meluluhlantahkan nasib banyak orang di bumi pertiwi ini.

Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Flores Timur hingga erupsi gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur. Di sana ada isak tangis warga. Semuanya berlalu begitu saja. Di layar kaca, kita menyaksikan puing-puing kehidupan.

Bukan hanya puing-puing tonggak perekonomian masyarakat setempat, tetapi juga puing-puing sesama anak manusia. Air mata kita pun berlinang. Tak terbendung. Inilah simpati. Nyatanya naluri kehidupan kita tak berhenti di situ.

Meski ekonomi masih tertati-tati, tetapi spirit dan semangat kemanusiaan spontan membangkitkan kita untuk memusatkan hati dan pikiran menuju ke saudara-saudari kita di tempat yang terdampak bencana.

Spirit Kemanusiaan

Penghujung tahun menyisahkan rindu sekaligus menyambut cinta dan harapan. Ada yang sudah terlewatkan. Iya itu adalah pengalaman. Ada yang akan terjadi dan segera kita sambut. Itu adalah harapan.

Tak jarang, kita pun beramai-ramai melantunkan nada dan ucapan syukur serentak terima kasih atas tahun yang sudah lewat. Menyambut tahun baru, kita selalu mendendangkan harapan agar semua yang dijalani terasa baik-baik saja.

Kegagalan pada tahun sebelumnya, tidak terulang kembali di tahun yang baru. Bahkan kita sendiri sudah memiliki target, apa yang akan saya lakukan di tahun baru.

Jika segala macam bentuk kegagalan dan peristiwa-peristiwa duka harus segera berakhir di tahun 2021, maka satu hal yang tak akan pernah berakhir adalah spirit kemanusiaan.

Naluri kita sejak lahir yaitu menyatukan diri dengan sesama dan lingkungan sekitar hendaknya menjadi warning sekaligus pembenaran tunggal akan hidup bersama dan bersaudara. Bahwa solidaritas kemanusiaan itu perlu dibangun dan dihidupkan sejak dini. Hanya dengan kerja kolektif, spirit gotong royong, dan saling toleransi yang menghantarkan kita pada gerbang kesejahteraan dan keselamatan bersama.

Baca Juga: Iriana Joko Widodo: Hari Ibu Tak Cukup Dengan Ucapan Selamat

Pandemi covid-19 berikutnya bencan-bencana alam atau pun non-alam hanya dapat dilawan dengan spirit kemanusiaan. Tanpa spirit bersama itu, semuanya akan menjadi sia-sia.

Merayakan akhir tahun dan menyambut tahun yang baru sesungguhnya merajut kembali benang-benang persaudaraan yang mungkin kian tersusut bersama keangkuhan, egoisme dan kesombongan pribadi kita.

Tahun baru masih dengan spirit dan semangat yang baru. Bahwa sejatinya nilai-nilai kemanusiaan itu tidak pernah dan seharusnya tak akan pernah berakhir. Ia adalah sebuah keabadian. Harus selalu dihidupi dan dilakoni oleh sesama anak manusia.

Mari menyambut tahun yang baru dengan spirit kemanusiaan yang kokoh dan kuat. Tinggalkan segala macam keangkuhan dan kesombongan. Segala egoisme dan kepentingan diri. Mari kita lawan berbagai macam bentuk ketidakmapanan dengan kerja-kerja kolektif.

Lagi dan lagi, akhir tahun bukan mengakhiri segalanya, tetapi awal yang baik untuk masa yang baru. Sejatinya, kita semua adalah saudara yang lahir, hidup, dan dibesarkan oleh bumi pertiwi. Selamat Tahun Baru 2022.

Foto: tribunnews.com

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca Juga : Akhir Tahun Dan Spirit Kemanusiaan Yang Tak Berakhir […]