Dampak Adiksi Gadget, Gangguan Kecemasan, dan Bullying Bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Di masa kini, kita tidak bisa berjauhan dengan gadget, terutama handphone dan laptop. Kita seolah tidak bisa hidup tanpa gadget. Terlebih lagi, di masa pandemi yang membuat kita terkurung di rumah ini.

Kita jadi semakin mudah merasa bosan dan kesepian sehingga sering kali handphone menjadi pelarian kita, entah itu sekadar scrolling timeline media sosial, menonton video ataupun film, ataupun bermain game online.

Pada Jumat, 26 November 2021, SMA Candle Tree mengadakan webinar dengan topik HEAL (Help, Empower, Adapt, Learn) dengan tujuan menambah pengetahuan para murid tentang dampak buruk dari adiksi gadget dan game online pada remaja.

Webinar yang dibawakan oleh Universitas Atma Jaya ini juga membahas tentang gangguan kecemasan pada remaja dan perilaku bullying beserta dengan dampaknya pada siswa sekolah.

Webinar dimulai dengan pertanyaan yang diajukan kepada salah satu murid tentang game online yang dimainkan dan durasi bermain game setiap harinya. Setelah pertanyaan pembuka tersebut, pembahasan materi diawali dengan pengungkapan fakta bahwa ada banyak remaja yang memainkan gadget lebih dari 6 jam dan durasinya terus bertambah, entah itu bermain game online ataupun membuka media sosial.

Hal ini dibuktikan dengan peningkatan unduhan game online yang kini mengalami peningkatan sebesar 75% dan durasi bermain game online yang mengalami peningkatan sebesar 47%. Bahkan, sebagian remaja tidak bisa jauh dari handphone atau merasa kurang nyaman bila tidak memegang handphone.

Baca Juga: Jadwal SNMPTN 2022 Telah Dibuka, Ayo Bersiap! Jangan Sampai Terlambat Mendaftar.

Hal tersebut sudah bisa dikategorikan sebagai adiksi gadget, yaitu perilaku obsesif terhadap penggunaan gadget yang akhirnya mengganggu kehidupan dan kinerja seseorang. Lalu ada juga adiksi game online, yaitu pola perilaku yang mengakibatkan ketergantungan terhadap game online.

Adiksi ini dapat terjadi karena berbagai faktor, misalnya faktor-faktor intrapersonal seperti rasa kepercayaan diri yang rendah, faktor kepribadian, dan usia, ataupun faktor-faktor interpersonal seperti hubungan keluarga dan interaksi sosial yang kurang baik.

Adiksi terhadap gadget maupun game online ini dapat memberi dampak yang buruk bagi kita, contohnya memengaruhi kesehatan fisik, mengganggu kesehatan mental (dapat menyebabkan gangguan mental, salah satunya gaming disorder), mengganggu interaksi sosial antarsesama, meningkatkan kecemasan, mengganggu fungsi kognitif dan psikologis, dan lain-lain.

Untuk menghindari dan menghentikan adiksi gadget ataupun game online, kita bisa membuat jadwal rutinitas atau membatasi main gadget, misalnya maksimal 2-3 jam sehari.

Upaya ini dapat kita lakukan agar tidak mengganggu aktivitas lain, seperti waktu belajar dan istirahat. Selain itu, ada beberapa upaya lain untuk menghentikan adiksi tersebut, seperti attention switching, dissuasion, education, dan parental mentoring.

Setelah membahas mengenai adiksi gadget, pembahasan selanjutnya dalam webinar ini adalah mengenai gangguan kecemasan pada remaja, khususnya selama pandemi Covid-19 dan dalam persiapan PTM (Pembelajaran Tatap Muka).

Baca Juga: Ini Cara Belajar Efektif Menurut Harvard University

Dalam webinar ini, disebutkan bahwa perasaan cemas adalah hal yang normal jika masih terkendali. Namun, bila rasa cemas itu semakin memburuk hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, maka bisa disebut gangguan kecemasan.

Seseorang yang terkena gangguan kecemasan ini menjadi kehilangan kendali, sulit konsentrasi karena selalu terfokus pada kecemasannya, dan berbagai gejala kognitif, fisiologis, perilaku, serta afektif lainnya.

Terlebih lagi, di masa pandemi ini, terdapat banyak hal seperti adanya aturan-aturan baru (misalnya PSBB dan PPKM), rasa takut akan terinfeksi Covid-19, dan juga menurunnya interaksi sosial yang membuat kita lebih rentan terkena gangguan kecemasan ini.

Namun, kita bisa mencegahnya dengan cara menyesuaikan diri dengan perubahan atau lingkungan yang baru, mengatur waktu dengan baik, istirahat dan tidur yang cukup, olahraga, berpikir positif, bijak dalam mengakses informasi di internet, dan sebagainya.

Pembahasan terakhir dalam webinar ini adalah mengenai perilaku bullying dan dampaknya pada siswa sekolah Tentu, kata bullying ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Bullying bisa diartikan sebagai perundungan, bisa verbal, nonverbal, dan lain-lain.

Bullying bisa terjadi di mana saja, bahkan di sekolah sekalipun. Namun, kini, cyberbullying adalah salah satu yang paling sering terjadi karena gadget dan media sosial sudah menjadi bagian dari hidup kita.

Baca Juga: Nadiem Makarim ; Kurikulum Baru, Bakal Diberlakukan Tahun Depan

Semua orang jadi bisa melakukan apa saja di media sosial, termasuk cyberbullying, yaitu bullying yang dilakukan melalui teknologi digital seperti media sosial.

Cyberbullying itu sendiri dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu flaming, harassment, denigration, cyberstalking, impersonation dan outing and trickery. Contohnya, antara lain mencemarkan nama baik seseorang, mengirim pesan dengan maksud menghina, dan menyebarkan rahasia orang lain.

Dampak dari bullying ini bukan hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga oleh pelakunya. Korban akan merasa cemas, takut, menjadi pemurung, mengalami gangguan tidur.

Korban juga kehilangan kepercayaan diri, dan mengalami luka-luka di tubuhnya jika bullying dilakukan secara fisik. Di sisi lain, pelaku bullying bisa saja dikucilkan dari lingkungan sosial karena ia sudah melakukan suatu tindakan kriminal.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan jika ada orang di sekitar kita merupakan korban bullying? Kita cukup mendengar cerita atau keluh kesahnya. Temani saja, karena ia pasti butuh seseorang untuk menemaninya supaya ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Selain itu, bisa juga dengan meminta bantuan profesional, yaitu melakukan konsultasi pada psikolog.

Webinar berjudul HEAL ini meningkatkan kesadaran murid-murid SMA Candle Tree untuk bisa mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti adiksi gadget dan gangguan kecemasan. Webinar ini juga membantu para murid agar lebih sadar betapa bahayanya bullying bagi semua pihak.

Penulis adalah Siswi Kelas XI IPA 1 SMA Candle Tree 

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of