Mengapa Bangsa Indonesia Menetapkan Tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan?

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Proklamasi kemerdekaan Indonesia bukan titik akhir perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Belanda yang telah merasakan kekayaan Indonesia selama ratusan tahun enggan mengakui kemerdekaan Indonesia.

Bahkan mencoba masuk kembali ke Indonesia untuk menancapkan kolonialisme dan imperialismenya. Sementara pihak Sekutu yang telah memenangkan Perang Dunia II merasa memiliki hak atas nasib bangsa Indonesia.

Penyerahan Jepang kepada Sekutu tanpa syarat tanggal 14 Agustus 1945 membuat analogi bahwa Sekutu memiliki hak atas kekuasaan Jepang di berbagai wilayah, terutama wilayah yang sebelumnya merupakan jajahan negara-negara yang termasuk dalam kelompok Sekutu. Belanda adalah salah satu negara yang berada di pihak ini.

Bagi Sekutu dan Belanda, Indonesia dalam masa vacum of power atau kekosongan pemerintahan. Karena itu, logika Belanda adalah kembali berkuasa atas Indonesia seperti sebelum Indonesia direbut Jepang. Dengan kata lain, Belanda ingin menjajah kembali Indonesia.

Bagi Sekutu, setelah selesai PD II, negara-negara bekas jajahan Jepang merupakan tanggung jawab Sekutu. Sekutu memiliki tanggung jawab pelucutan senjata tentara Jepang, membebaskan tentara Sekutu yang ditawan Jepang dan melakukan normalisasi kondisi bekas jajahan Jepang.

Baca Juga : Tarakanita Tangerang: Harmoni Dalam Keberagaman

Pasukan Sekutu mulai mengambil alih daerah kekuasaan Jepang. Belanda yang beraliansi dengan tentara Sekutu berusaha merebut kembali Indonesia. Hal ini dimulai pada 29 September 1945 ketika Allied Forces Netherland East Indies (AFNEI) mulai mendarat di Tanjung Priok di bawah pimpinan Letjen Sir Philip Christison. Pasukan Sekutu diboncengi Netherland Indies Civil Administration (NICA) pimpinan Van Der Plass.

Awalnya, kedatangan tentara Sekutu disambut terbuka oleh pihak Indonesia. Namun, setelah diketahui bahwa pasukan Sekutu tersebut diboncengi NICA yang dengan terang-terangan ingin menegakkan kembali kekuasaan Hindia-Belanda maka sikap Indonesia pun berubah menjadi curiga dan mulai mengadakan perlawanan.

Berbagai upaya bangsa asing untuk bercokol menguasai kembali bangsa Indonesia ditentang dengan berbagai cara. Pertempuran heroik dengan korban ribuan jiwa terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Aksi rakyat seperti Perjuangan rakyat Semarang dalam melawan tentara Jepang dan Pengambilalihan Kekuasaan Jepang di Yogyakarta. Sementara itu peristiwa heroik lain yang terkenal di antaranya Pertempuran Surabaya, Pertempuran Palagan Ambarawa, Pertempuran Medan Area, Bandung Lautan Api, dan Operasi Lintas Laut Banyuwangi-Bali.

Tidak terhitung dengan jelas berapa jumlah korban jiwa dari pertempuran mempertahankan bangsa Indonesia tersebut, bahkan banyak pahlawan tidak dikenal yang berguguran.

Pada tanggal 25 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby mendarat di Surabaya. Pada tanggal 27 Oktober 1945, terjadi kontak senjata yang pertama antara arek-arek Surabaya dengan pasukan Sekutu (Inggris).

Baca Juga : Memperingati Hari Pahlawan, PT Kereta Api Indonesia Bagikan Tiket Gratis Untuk Guru Dan Tenaga Kesehatan

Kontak senjata itu meluas dan terjadi berulang kali hingga tanggal 30 Oktober 1945 menewaskan Brigjen A.W.S. Mallaby akibat mobil yang ditumpanginya hangus terbakar. Mengenai penyebab tewasnya perwira kerajaan Inggris tersebut, hingga saat ini masih menjadi perdebatan.

Beberapa sumber menyebutkan Mallaby tewas setelah aksi tembak menembak terhadap rakyat Surabaya. Sumber lain mengatakan bahwa Ia terbunuh akibat granat dari anak buahnya yang berusaha melindungi. Namun, granat itu melesat dan terkena mobil Mallaby. Terbunuhnya Mallaby itu pun memantik kemarahan dari tentara Sekutu.

Terkait dengan peristiwa ini, pada tanggal 9 November 1945, tentara sekutu mengeluarkan ultimatum kepada warga Surabaya melalui selebaran kertas. Ultimatum tersebut berisi tuntutan agar warga Surabaya menyerahkan semua senjata kepada tentara Sekutu sebelum jam 06.00 pagi hari berikutnya, 10 November 1945.

Namun, warga Surabaya menolak tuntutan itu termasuk salah satu tokoh kunci yang terkenal pada saat itu yakni Sutomo (Bung Tomo) yang mampu membakar semangat juang para pejuang lewat siaran-siaran radionya.

Kontak senjata secara besar-besaran antara kedua pihak pun tak terelakkan yang memakan sekian banyak korban jiwa para pahlawan..

Karena itu melalui Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional, Bangsa Indonesia menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Baca Juga : Bad Influencers: Antitesis Pendidikan Karakter

Keputusan Presiden tersebut ditandatangani oleh Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno. Selanjutnya setiap tanggal 10 November Bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Pahlawan.

Hari Pahlawan yang kita peringati hendaknya jangan hanya mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan terdahulu.

Akan sangat ironi bila memperingati hari pahlawan sebatas seremoni saja tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu sebagai generasi muda, kita harus mampu memberi makna baru atas tonggak bersejarah kepahlawanan dengan mengisi kemerdekaan sesuai dengan tugas dan profesi kita masing-masing seiring perkembangan zaman.

Menghadapi situasi seperti sekarang, kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Bangsa ini sedang membutuhkan pemulihan untuk Indonesia maju. Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis.

Penulis adalah Guru Sejarah pada SMA Negri 1 Lewolema

Foto:news.detik.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of