Nadiem Makarim Menghimbau Kurangi Ceramah di Abad 21, Guru di Bone Malah Ceramahi Murid Berjam-jam Hingga Murid Pingsan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Sudah tidak zamannya lagi setiap hari murid kita datang ke sekolah mendengarkan ceramah, dan setelah itu, di akhir semester, para murid ditest. Hal ini ditegaskan oleh Nadiem Makarim dalam orasi ilmiahnya pada acara Dies Natalis ke-64 Universitas Padjajaran belum lama ini.

“Itu bukan pembelajaran yang kita maksud di abad ke-21, dan bukan dimaksud dalam kebijakan merdeka belajar yang sedang kita upayakan”, tegas Nadiem.

Lebih lanjut ia menegaskan, harusnya kesempatan tatap muka digunakan guru dan murid untuk fokus pada diskusi, debat, mengerjakan proyek bersama, melakukan presentasi dan mendapatkan feed back dari kelas.

Namun untuk mewujudkan harapan tersebut, tampaknya masih dibutuhkan proses transformasi di sunia pendidikan dalam banyak aspek. Karena kecenderungan untuk berceramah, berpangkal pada banyak aspek terkait budaya dan kompetensi gurunya.

Ceramah berjam-jam hingga menyebabkan murid pingsan

Terkait pengajaran dengan metode ceramah ini, peristiwa tanggal 17 September 2021 yang terjadi di SMP Negeri 3 Boccoe Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, bikin geleng-geleng kepala.

Seorang guru SMP tersebut, Usman namanya, mengumpulkan murid dalam kelas dan memberikan ceramah hingga ber-jam-jam. Ini menyebabkan para murid tidak hanya kelelahan, dua orang murid bahkan pingsan karena kelaparan.

Baca Juga : KIP-K Merdeka, Wujud Terbaru Kehadiran Negara Bagi Kelangsungan Pendidikan Anak Keluarga Miskin

Kejadian ini viral di media sosial setelah diunggah pada akun facebook milik salah satu orang tua murid yang anaknya pingsan tersebut. Pada unggahan tersebut tertulis, para murid dikurung dari pk 07.00-15.00 di dalam kelas. Orang tua berharap unggahannya dibaca oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone.

Benar, unggahan tersebut kemudian dibaca oleh Kepala Dinas. Ia kemudian memerintahkan agar dicek kebenaran unggahan tersebut.

Setelah diselidiki, Sekretaris Dinas Pemdidikan Kabupaten Bone, Nursalim menjelaskan, para murid bukan dikurung tetapi diberikan ceramah. Namun ceramah yang diberikan terlalu panjang.

Nursalim menjelaskan, Usman masuk ke kelas VII saat para murid hendak pulang, sekitar pk. 11.00 WITA. Usman kemudian memerintahkan para siswa untuk tetap berada di dalam kelas, bahkan ia mengunci pintu.

Ceramah baru berakhir pk 15.00 WITA, ketika murid kelaparan dan dua dari antara mereka pingsan. Belakangan diketahui, Usman memiliki riwayat kelainan jiwa. Tahun 2016 dipindahkan ke sekolah ini karena melakukan kegiatan yang sama.

Masyarakat Menunggu Transformasi di Dunia Pendidikan

Selain masalah ceramah, yang oleh Nadiem Makarim diingatkan untuk tidak lagi digunakan dalam mengajar karena menurutnya di abad 21 menggunakan metode ceramah bukan lagi zamannya.

Baca Juga : Kabar Dari Sekolah, Catatan Pendidikan Pada Hari Pendidikan Nasional, Tahun 2021

Juga masalah bagaimana sekolah dikelola oleh pemerintah daerah. Kualitas pengelolaan pemerintah daerah seperti apa jika murid bisa diajar oleh seseorang yang mengidap kelainan jiwa?

Jadi masalah pendidikan kita bukan cuma bagaimana melakukan transformasi terkait proses belajar mengajar sehingga guru menguasai dan mampu menerapkan pendekatan pengajaran konstruktivisme pada saat mengajar, tetapi juga dapat mendorong proses transformasi birokrasi pendidikan kita.

Persoalan terakhir ini tampaknya mendesak untuk mendapat perhatian Nadiem Makarim. Bagaimana mungkin kejadian seperti di SMPN 3 Boccoe Kabupaten Bone itu luput dari pengawasan Kepala Sekolah? Ke mana Kepala Sekolah pada hari itu?

Jika pada hari itu Kepala Sekolah tidak berada di tempat, di mana wakil Kepala Sekolah? Dan bagaimana mungkin seorang dengan kelainan jiwa tetap dibiarkan mengajar?

Saya membaca hasil investigasi sebagaimana yang dijelaskan ileh Nursalim, justru yang peduli pada murid-murid yang diceramahi oleh Guru Usman adalah Ibu Kantin, bukan guru piket, atau minimal wakil Kepala Sekolah.

Oleh karena itu, transformasi birokrasi pendidikan tampaknya merupakan salah satu pekerjaan rumah penting Menteri Pendidikan Riset dan Teknologi, karena birokrasi pendidikan di daerah adalah kepanjangn tangan dari Kemendikburistek. Jika birokrasi pendidikan di daerah bermasalah, bagaimana bisa mendorong perubahan di sekolah?

Foto:lampusatu.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of