TK Strada Bhakti Nusa; Makan Bersama, Mengasup Nilai

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – “Meningkatkan kepedulian terhadap sesama, menghargai keberagaman, dan berjuang demi terpeliharanya lingkungan hidup”, demikian salah satu rumusan misi Perkumpulan Strada. TK Strada Bhakti Nusa, salah satu sekolah binaan Perkumpulan Strada yang beralamat di Vila Melati Blok F Kelurahan Jelupang – Tangerang Selatan ini sebulan sekali, mengadakan makan bersama.

Kegiatan ini melibatkan para orang tua, yang menerima pembagian tugas secara bergiliran menyiapkan berbagai macam menu untuk makan bersama ini. Makan bersama merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam rangka menyelaraskan misi Perkumpulan Strada tersebut. “Anak-anak belajar untuk menghargai makanan, dari mana makanan itu berasal, siapa saja yang berperan menghasilkannya” terang Ibu Laurensia Tri Wahyuni, Kepala Sekolah TK Strada Bhakti Nusa.

 “Selain itu, anak-anak dapat mengenal berbagai bentuk, warna, dan rasa makanan” sambung Ibu Mathilda Kurnita S.Pd, guru yang menjadi kordinator makan bersama, pada saat sosialisasi kegiatan ini di awal tahun pelajaran.

Sejauh yang kami amati, kegiatan sederhana ini memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengasup banyak nilai kehidupan. Nilai-nilai yang menjadi bekal hidup mereka. Beberapa di antaranya:

Anak Belajar Mandiri. Setiap kali jadwal makan, anak-anak dilatih untuk mengambil alat makan, mengambil makanan dan makan sendiri. Sementara di rumah, banyak dari kita para orang tua memilih untuk menyuapi mereka.

Dalam antrian menunggu giliran, anak-anak belajar kesetaraan. Menghargai dirinya dan juga orang lain. Memberi kesempatan kepada orang di depannya untuk mengambil bagiannya. Tidak menyela antrian. Tidak juga memberikan gilirannya kepada orang lain. Menghargai dirinya sendiri yang sudah mengantri.

Anak-anak diharuskan untuk menghabiskan makanan yang diambilnya. Totalitas, adalah nilai berikutnya yang dapat mereka pelajari. Mungkin ada menu makanan tertentu yang tidak sesuai dengan selera mereka, namun bagaimanapun makanan itu harus habis.

Dengan menghabiskan makanan, anak-anak juga belajar bertanggungjawab. Mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka ambil ke dalam piring mereka. Menghabiskan makanan adalah juga bentuk rasa syukur dan ungkapan terima kasih. Bahwa ada banyak keringat dan kerja keras yang menghasilkan setiap makanan yang dimakan.

Menghabiskan makanan juga adalah bentuk kepedulian kepada sesama. Tidak sedikit dari anak-anak seusia mereka di belahan bumi lain kekurangan makan. Detik.com menulis bahwa ada lebih dari tujuh juta anak-anak menghadapi kerawanan pangan di Yaman. “Hari ini, 1,8 juta anak-anak di bawah usia lima tahun menghadapi kekurangan gizi akut” (02.11.2018). Di Indonesia ada 19 juta penduduk mengalami kelaparan (viva.co.id, 24.08.2018). Pada saat yang sama ada 1,3 triliun ton makanan terbuang setiap tahun. (kumparan.com, 10.07.2018).

Jika setiap orang Indonesia menyisakan 1 butir saja nasi di piring maka ada 250 juta butir nasi terbuang sia-sia. Jika dikonversikan ke dalam gramatur, di mana 1 gram berisi 50 butir nasi, maka 250 juta butir nasi setara dengan 5.000 kg atau 5 ton nasi yang terbuang setiap kali makan. (depoedu.com, 09.10.2018)

Hal lain yang tidak kalah menarik dari kegiatan ini adalah dilibatkannya orang tua untuk menyiapkan berbagai menu sesuai dengan daftar yang diberikan dari sekolah. Tentu ada banyak pendapat. Sebagian berpendapat ini tidak praktis, sebaiknya sekolah saja yang menyiapkannya tinggal biayanya dikomunikasikan ke orang tua, namun sebagian yang lain justru senang dilibatkan. Melibatkan orang tua dalam bentuk seperti ini adalah salah satu sinergi positif antara sekolah dan orang tua, untuk secara bersama-sama terlibat aktif dalam setiap proses pendidikan anak-anaknya. (Oleh: Senuken)

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca Juga : TK Strada Bhakti Nusa; Makan Bersama, Mengasup Nilai […]