Belajar Grammar Penting ga ya? Penting lah!

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Selama ini kita melihat bahwa di Indonesia, banyak sekolah ingin menjadikan bidang studi Bahasa Inggris sebagai bidang studi andalannya. Berbagai hal dilakukan untuk mewujudkan keinginan itu, mulai dari memakai buku pelajaran Bahasa Inggris yang terkesan canggih, memberdayakan guru-guru asing yang lancar berbahasa Inggris, hingga memasang papan bertuliskan nama-nama institusi asing, untuk menunjukkan kerjasama sekolah dengan institusi asing tersebut. Langkah-langkah semacam itu diambil, karena memang di masyarakat kita, semua yang berbau asing umumnya dianggap lebih baik dan merupakan jaminan mutu.

Pada kenyataannya, buku canggih, guru asing dan papan nama institusi asing tidak selalu membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris bagi mayoritas siswa siswi. Itulah sebabnya, beberapa sekolah sudah mulai banting setir, meninggalkan buku Bahasa Inggris yang terlalu canggih, dan mulai beralih menggunakan buku Bahasa Inggris yang lebih sederhana. Sebenarnya, apa sih esensi dari belajar Bahasa Inggris itu?

Pembelajaran Bahasa Inggris secara komprehensif, seharusnya mencakup enam aspek dalam pembelajaran bahasa, yaitu : vocabulary (kosakata), grammar (tata bahasa), listening (mendengarkan), speaking (berbicara), reading (membaca), dan writing (menulis).

Vocabulary dan grammar termasuk ranah pengetahuan berbahasa, sedangkan listening, speaking, reading, writing termasuk ranah ketrampilan berbahasa.

Pengetahuan berbahasa merupakan pemahaman konsep, dan karenanya harus diajarkan terlebih dahulu, agar siswa bisa melakukan latihan ketrampilan berbahasa dengan baik dan benar. Namun pada kenyataannya, dalam pelajaran di banyak sekolah di Indonesia, seringkali aspek pengetahuan berbahasa itu (terutama grammar) diabaikan, karena ada anggapan salah kaprah, yang menyatakan bahwa grammar tidak penting, dengan dasar argumen bahwa anak Amerika tidak pernah belajar grammar, tapi toh bisa lancar berbahasa Inggris juga.

Kalau kita pikirkan secara lebih mendalam, tentu saja anggapan itu menyesatkan. Esensi belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi dengan menggunakan kalimat yang baik dan benar. Vocabulary memberi pembekalan kosakata, sedangkan grammar menjadi panduan untuk merangkai kosakata itu menjadi kalimat yang baik dan benar. Oleh karena itu, vocabulary dan grammar wajib diajarkan. Bahkan anak Amerika pun harus belajar vocabulary dan grammar. Hanya saja, cara belajar vocabulary dan grammar pada anak Amerika dan anak Indonesia, memang berbeda caranya, tergantung pada kedudukan Bahasa Inggris bagi anak tersebut, yaitu sebagai First Language (bahasa asli), Second Language (bahasa kedua), atau Foreign Language (bahasa asing).

Seorang anak dikatakan mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa asli, apabila Bahasa Inggris merupakan bahasa yang pertama kali dipelajari anak tersebut, saat dia mulai belajar berbicara. Cara belajarnya melalui percakapan sehari-hari di lingkungan keluarganya, di mana anak tersebut mendapatkan pendampingan intensif dari orangtuanya. Saat anak tersebut mengucapkan kalimat yang terdengar aneh, orangtuanya akan langsung mengoreksi dengan cara memberi contoh kalimat yang benar, dan si anak akan diminta menirukannya. Di sinilah anak tersebut belajar grammar. Jadi, walau dia tidak belajar grammar melalui kertas catatan dan latihan soal, tapi dia tetap belajar grammar yang dilakukan secara lisan, dengan bimbingan orangtuanya.

Seorang anak dikatakan belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, apabila Bahasa Inggris menjadi bahasa yang dipelajari, setelah anak tersebut menguasai bahasa aslinya. Cara mempelajarinya juga melalui percakapan sehari-hari dari lingkungan sekitarnya. Contohnya, anak Singapura yang berbicara dengan bahasa aslinya di lingkungan keluarga, tetapi harus berbicara Bahasa Inggris di lingkungan luar keluarganya. Di sini, saat anak mengucapkan kalimat yang terdengar aneh, dia akan dikoreksi oleh orang-orang di sekitarnya. Dengan kata lain, anak tersebut juga belajar grammar, yang dilakukan secara lisan, dengan bimbingan lingkungan sekitarnya.

Seorang anak dikatakan belajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, apabila Bahasa Inggris merupakan bahasa yang dipelajari melalui situasi yang diatur secara sadar dan sengaja, yaitu di dalam kelas Bahasa Inggris. Di sini sumber belajar anak tersebut sangat terbatas, yaitu guru Bahasa Inggrisnya. Jadi, di saat anak mengucapkan kalimat yang terdengar aneh, orang yang bisa mengoreksinya hanya guru Bahasa Inggrisnya.

Pada kenyataannya, guru Bahasa Inggris tidak selalu bisa mengoreksi kesalahan siswanya, dikarenakan ada tiga kendala utama, yaitu :

  1. Adanya keterbatasan waktu interaksi, di mana interaksi hanya terjadi saat pelajaran Bahasa Inggris di kelas saja.
  2. Adanya ratio guru dan siswa yang relatif besar, di mana satu guru harus menangani puluhan anak sekaligus.
  3. Kompetensi guru yang masih kurang menguasai materi Bahasa Inggris, dan umumnya guru semacam ini akan mengatakan bahwa grammar tidak penting.

Di sinilah akan terjadi suatu kondisi, di mana anak membuat kalimat yang terdengar aneh, dan tidak pernah mendapat koreksian yang memadai. Apabila hal itu terjadi berulang-ulang, akhirnya anak tersebut akan mengalami permasalahan serius dalam penggunaan Bahasa Inggrisnya. Secara ringkas ada tiga jenis permasalahan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai berikut :

  1. Slip (kesleo lidah), yang merupakan hal manusiawi, karena sebagai manusia memang bisa salah bicara atau salah tulis secara tidak sengaja. Di sini, si pembuat kesalahan umumnya bisa mengoreksi kesalahannya sendiri.
  2. Effort (berusaha), yang merupakan permasalahan ingin bicara atau menulis, tapi tidak tahu caranya. Hal tersebut merupakan hal yang wajar dalam proses belajar, dan akan teratasi saat si anak diberi informasi yang benar terkait ketidaktahuannya.
  3. Error (ngawur) yang merupakan permasalahan yang sangat serius dan memprihatinkan, karena error timbul dari pemahaman konsep yang salah. Error yang diulang-ulang, tanpa pernah ada yang mengoreksi, pada akhirnya akan menimbulkan benang kusut dalam pemahaman Bahasa Inggris. Contoh, penulis sering menjumpai siswa SMA, yang masih menulis hal berikut : you is, I lives, she haves, two book, dll dsb. Dampak serius error itu terutama akan dirasakan saat siswa diharuskan mengambil test berbahasa Inggris yang berstandard internasional, seperti TOEFL atau IELTS.

Karena error sangat sulit diatasi, maka error harus diminimalkan, bahkan sebisa mungkin harus dicegah agar tidak terlanjur terjadi. Sekolah bisa mencegah error dengan cara mengontrol dua faktor utama dalam proses pembelajaran, yaitu : materi dan guru.

Materi pelajaran Bahasa Inggris ada yang berupa buku lokal, ada yang berupa buku import. Semua ada plus minusnya sendiri. Buku lokal pada umumnya lebih murah, tapi secara kualitas bisa jadi meragukan, karena rawan kesalahan. Sebaliknya, buku import memang harganya lebih mahal, tapi isinya lebih terjamin. Apabila tujuan pemilihan buku adalah untuk mencegah terjadinya error, tentunya buku import menjadi pilihan yang lebih logis.

Masalahnya, buku import juga ada dua macam, yaitu :

  1. Buku ESL (English as a Second Language = Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua), yang mempunyai ciri berupa materi yang padat, luas, campur aduk, sarat dengan soal-soal latihan tanpa disertai pemahaman konsep memadai.
  2. Buku EFL (English as a Foreign Language), yang mempunyai ciri berupa materi dengan lingkup terbatas dan fokus, serta bacaan sederhana.

Untuk sekolah internasional yang memang bisa merekrut guru-guru asing yang profesional, penggunaan buku ESL bisa dilakukan. Terlebih, siswa yang memilih bersekolah di sekolah internasional, umumnya juga berasal dari keluarga di mana orangtuanya juga bisa berbahasa Inggris. Sebaliknya, untuk sekolah nasional, di mana siswa yang umumnya berasal dari keluarga yang tidak bisa berbahasa Inggris, dan oleh karenanya hanya bisa belajar Bahasa Inggris dari guru Bahasa Inggrisnya, maka penggunaan buku ESL justru akan menjadi beban. Banyak sekolah nasional memilih buku ESL, karena terjebak pada imej berupa guru asing dan buku canggih sehingga luput mempertimbangkan daya dukung sekolah dan kondisi siswanya.

Kondisi semakin diperparah saat penggunaan buku ESL yang sarat latihan tapi minim pemahaman konsep itu diajarkan guru lokal yang kurang menguasai materi Bahasa Inggris, ataupun guru asing yang kurang memahami metode pengajaran. Lebih jauh lagi,  materi buku ESL yang padat itu harus diselesaikan dengan alokasi waktu yang mepet, dan saat ulangan, siswa juga dituntut untuk mendapat nilai KKM. Akibatnya, akan terjadi situasi di mana guru akan berkejaran dengan waktu untuk mengejar materi, dan soal ulangan akan dirancang supaya siswa bisa mendapat nilai di atas KKM. Pada akhirnya,  akan tercipta siswa-siswa yang ‘seolah-olah bisa cas cis cus berbahasa Inggris’, walau sebenarnya adalah bahasa Inggris yang error alias ngawur-ngawuran. Siswa semacam itu juga punya nilai raport di atas KKM, walau sebenarnya ketuntasan nilai itu tidak dibarengi pemahaman ilmu yang memadai. Pada akhirnya, saat siswa tersebut harus mengikuti test terstandard yang diberikan institusi lain, dia akan mengalami kesulitan untuk soal-soal terkait pemahaman konsep.

Untuk membenahi hal tersebut, sudah saatnya sekolah dan orangtua merubah mindset mereka. Materi canggih bukan jaminan, karena materi canggih yang tidak sesuai justru akan menjadi beban. Selama ini, banyak sekolah nasional memilih materi canggih berdasarkan persepsi bahwa buku yang diterbitkan nama besar dan dipakai di banyak sekolah ternama, adalah buku yang bagus. Padahal, masing-masing sekolah menghadapi situasi yang berbeda-beda. Pemilihan buku harus berdasarkan pertimbangan logis dan profesional, dengan mengacu pada tiga hal utama sebagai berikut :

  1. Apakah buku tersebut sesuai dengan daya dukung sekolah dan kondisi siswa?
  2. Apakah isi buku tersebut bisa menjadi pijakan bagi pihak sekolah untuk membuat materi pendampingnya, sehingga bisa meningkatkan pemahaman materi dan memperluas wawasan berpikir siswa?
  3. Apakah jumlah materi dalam buku bisa diselesaikan secara realistis dalam kerangka waktu yang dihitung berdasarkan kalendar akademis?

Pemilihan materi yang sesuai merupakan solusi yang bisa dilakukan dalam jangka waktu pendek. Tetapi, materi yang sesuai tetap harus diajarkan oleh guru yang kompeten. Maka, untuk pembenahan jangka panjang, sekolah profesional juga harus bisa memberikan bimbingan teknis bagi guru yang membutuhkan. Walau ada guru lokal dan asing yang benar-benar profesional, tapi masih banyak juga guru lokal dan asing yang masih membutuhkan pendampingan.

Pada umumnya, guru lokal membutuhkan pendampingan terkait pemahaman materi Bahasa Inggris, sedangkan guru asing membutuhkan pendampingan terkait metode dan langkah pengajaran. Sudah menjadi pengetahuan umum, banyak orang asing yang bisa dengan mudah bekerja menjadi ‘guru’ Bahasa Inggris di Indonesia, walaupun sebenarnya tidak punya ijazah guru dari universitas yang diakui di negara asalnya. Kalaupun secara formal ‘guru’ tersebut seolah-olah punya sertifikat pelatihan, bisa jadi itu merupakan pelatihan instan yang sekedar formalitas. Itulah sebabnya, walau ‘guru’ asing bisa lancar berbahasa Inggris, dia tetap butuh pendampingan dari pihak sekolah, dalam hal metode dan langkah pengajaran.

Guru lokal dan asing juga harus diatur ranah pengajarannya. Guru lokal bisa ditugaskan untuk mengajarkan pemahaman konsep (vocabulary dan grammar) yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia sehingga bisa dipahami siswa. Reading dan writing juga sebaiknya diajarkan oleh guru lokal yang kompeten. Guru asing lebih sesuai untuk diberdayakan dalam pelatihan listening dan speaking.

Sudah saatnya sekolah nasional berani tampil percaya diri, berani berpikir mandiri dan logis untuk  merombak sistem pengajaran Bahasa Inggrisnya, terutama karena penguasaan Bahasa Inggris merupakan hal yang penting untuk bersaing di era globalisasi ini . Test Bahasa Inggris berstandard internasional semacam TOEFL dan IELTS menjadi salah satu indikator untuk menilai kemampuan berbahasa Inggris seseorang. Dalam test semacam itu, walau terkadang tidak diujikan secara langsung, tetapi grammar termasuk salah satu kriteria penilaian. Akhir kata, belajar grammar penting ga ya? Penting lah! (Oleh : Stephanie Pangestu / Foto: trip1.org)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of