Depoedu.com-Seharusnya kemerdekaan rakyat Indonesia bukanlah sekedar bebas dari belenggu penjajahan fisik pada 17 Agustus 1945. Lebih dari itu, kemerdekaan adalah amanah untuk terus membangun bangsa agar bagsa Indonesia dapat berdiri sejajar dengan negara lain di dunia, dengan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
81 tahun berlalu, wajah dunia telah berubah drastis; kini kita hidup di era digital, di mana batas antar negara memudar, informasi bergerak secepat kilat, dan teknologi menguasai hampir setiap aspek kehidupan. Di tengah perubahan besar ini, cara kita mengisi kemerdekaan pun harus beradaptasi, tanpa melupakan nilai luhur yang menjadi fondasi bangsa.
Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke 81, tulisan ini hendak mengajak Eduers untuk merumuskan kembali bagaimana dunia pendidikan mengisi kemerdekaan di era digital ini. Berikut uraiannya.
Dunia pendidikan mengisi kemerdekaan di era digital
Mengisi kemerdekaan di era digital berarti menguasai kemajuan teknologi sebagai sarana, bukan sebagai tujuan. Artinya penguasaan teknologi kemudian digunakan untuk pengembangan sumber daya manusia melalui lembaga pendidikan. Inilah upaya yang sekaligus membekali generasi muda, siap memasuki dunia kerja.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat indeks literasi digital tahun 2025 baru mencapai 3,54 dari skala 5. Ini menunjukkan bahwa literasi digital belum digarap sepenuhnya. Sementara itu, Deloitte pada tahun 2026 mencatat, 87 persen milenial Indonesia sudah menggunakan Artificial Intelligence (AI) dalam aktivitas sehari-hari.
Angka ini bahkan melampaui rata-rata global yang baru mencapai 74 persen. Capaian ini menyiratkan potensi masalah yang sangat besar karena di satu pihak AI digunakan untuk berbagai kepentingan, meskipun para pengguna belum memiliki literasi digital yang memadai.
Data lain menggambarkan kesenjangan yang besar antar wilayah di Indonesia dalam hal infrastruktur digital. Data dari Deloitte menunjukkan bahwa masih terdapat lebih dari 12.000 sekolah di Indonesia yang belum terhubung internet yang stabil. Oleh karena itu, 23 persen siswa masih terhambat dalam proses belajar mereka.
Baca juga : Pentingnya Literasi Keuangan bagi Remaja dan Dampaknya Bagi Masa Depan Mereka
Padahal kemajuan internet, AI, dan platform digital membuka akses ilmu pengetahuan yang tak terbatas bagi siapa saja. Pelajar atau mahasiswa Indonesia di wilayah terpencil kini dapat mempelajari materi pelajaran atau perkuliahan dari sekolah atau universitas ternama di dunia.
Guru Indonesia dapat menggunakan media pembelajaran yang interaktif yang tersebar di internet agar materi lebih mudah dipahami murid. Masyarakat luas bisa turut mengawasi jalannya pemerintahan dan menyuarakan aspirasi dengan lebih cepat.
Penguasaan literasi digital, keterampilan analisis data, serta kemampuan berinovasi dengan teknologi, menjadi syarat mutlak agar bangsa ini tidak tertinggal, tidak kembali terjajah oleh keterbatasan pengetahuan dan mampu bersaing di kancah global. Inilah salah satu wujud kemerdekaan berpikir dan berkreasi yang sesungguhnya.
Namun kemudahan yang datang bersama datangnya era digital juga membawa tantangan besar. Data menunjukkan 68,4 remaja pernah menjadi penyebar informasi tanpa memverifikasi kebenarannya, dan 56,1 persen masih kesulitan membedakan fakta dan hoaks.
Data lain menunjukkan bahwa 45,35 persen remaja pernah menjadi korban perundungan siber, sementara 38,41 persen lainnya mengaku pernah melakukannya. Di tengah limpahan informasi, banyak generasi muda justru terjebak dalam arus berita bohong, ujaran kebencian, gaya hidup tidak sesuai dengan budaya dan menyalahgunakan teknologi.
Kita melihat banyak anak muda cerdas secara intelektual, mahir mengoperasikan perangkat canggih, namun lemah dalam kesabaran, kurang menghargai perbedaan, mudah menyerah pada kesulitan, hingga lupa sopan-santun dan tanggung jawab. Padahal, survei LSI-UIII 2026 mencatat 86 persen generasi Z mengakui keberagaman sebagai kekayaan bangsa.
Data seperti ini ternyata belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan memilah informasi dan menjaga ruang digital. Kecerdasan tanpa karakter bagaikan pedang tajam di tangan orang yang tidak bijak, bisa melukai orang lain, bahkan menghancurkan pemiliknya sendiri.
Kemerdekaan yang kita jaga akan menjadi sia-sia jika yang lahir hanyalah generasi yang pandai, namun tidak memiliki rasa cinta tanah air, kejujuran, empati dan rasa tanggung jawab. Maka tugas utama pendidik dan seluruh elemen bangsa saat ini adalah menyeimbangkan kecerdasan dengan pembentukan karakter yang kuat.
Baca juga : Kualitas Udara Jakarta Dan Bahayanya Bagi Perkembangan Kognisi Anak
Kurikulum Merdeka yang diperkuat dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) berupaya mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pembentukan profil pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis proyek. Tiga langkah kongkrit dapat diupayakan.
Pertama, tanamkan nilai-nilai kebangsaan dan etika dalam setiap penggunaan teknologi. Ajarkan bahwa kemajuan teknologi harus digunakan untuk memberi manfaat, bukan merugikan; untuk mempersatukan, bukan untuk memecah belah; untuk menjunjung tinggi kebenaran, bukan untuk menyebarkan kebohongan.
Kedua, perkuat fondasi moral dan budaya bangsa sejak usia dini, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan pembelajaran tentang kejujuran, disiplin, gotong royong, rasa hormat dan semangat rela berkorban demi kepentingan bersama.
Ketiga, berikan ruang bagi generasi muda untuk berkreasi, namun tetap dalam bimbingan agar setiap langkah yang diambil selaras dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan oleh para founding father.
Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang beradab, cerdas dan merdeka jiwanya. Di era digital saat ini, pesan ini semakin relevan.
Mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, bukan hanya soal upaya menguasai teknologi setinggi-tingginya melainkan memastikan bahwa kemajuan tersebut dicapai oleh generasi yang memiliki akar budaya yang kuat, hati yang luhur dan jiwa yang mencintai tanah air.
Hanya generasi yang cerdas sekaligus berkarakter kokoh yang akan mampu menjaga, mempertahankan dan membawa kemerdekaan Indonesia menuju masa depan Indonesia yang gemilang, mulia dan abadi. Selamat merayakan hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke-81. Merdeka.
