Depoedu.com-Lebaran adalah sebutan untuk perayaan hari raya umat Islam baik Idul Fitri maupun Idul Adha yang dirayakan setiap tahun. Idul Fitri dirayakan setiap tahun setelah umat Islam mengakhiri rangkaian ibadah puasa selama Bulan Ramadhan, sebulan penuh.
Secara etimologis, kata Idul Fitri terdiri dari kata Id, dan Fitri. Kata Id menggambarkan perayaan yang berulang-ulang atau siklus. Sedangkan kata Fitri berasal dari kata Fitrah berkaitan dengan salah satu ajaran Islam yang amat penting.
Fitrah berarti manusia dilahirkan dalam kejadian asal yang suci dan bersih sehingga manusia itu bersifat hanif yang artinya, secara alamiah, manusia merindukan dan mencari yang benar dan baik.
Jadi, bagi manusia kebenaran dan kebaikan harusnya alamiah dan natural. Sedangkan kejahatan dan kepalsuan tidak alamiah, tidak natural. Oleh karena itu, bertentangan dengan jati diri manusia yang ditetapkan oleh Allah.
Karena pada hakekatnya manusia bersifat hanif, maka kepalsuan dan tindakan jahat manusia bertentangan dengan jati diri dan hati nurani. Maka setiap kepalsuan mengganggu ketentraman manusia. Itulah dosa.
Baca juga : Keutamaan Dan Tanda-Tanda Datangnya Malam Lailatul Qadar Di Bulan Ramadhan
Dalam sebuah tulisan, sebagai upaya menjelaskan tentang Fitrah dan Hanif, Profesor Nurcholish Madjid mengutip pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah SAW, tentang apa itu dosa.
Rasulullah SAW menjawab, “Dosa ialah sesuatu yang terbetik dalam hatimu dan kamu tidak suka orang banyak mengetahuinya.”
Kita tidak suka orang banyak mengetahui apa yang terbetik dalam hati kita, jika yang terbetik itu sesuatu yang bertentangan dengan suara hati kita.
Oleh karena itu, dengan sendirinya dosa akan menjadi sumber kesengsaraaan batin dan dalam banyak kasus, dosa juga menjadi kesengsaraan lahir dalam berbagai bentuk psikosomatik.
Dosa dalam pikiran dengan berbagai akibatnya dapat terakumulasi menjadi perbuatan zolim. Dalam Bahasa Arab, zolim yang juga memiliki makna gelap. Dosa dan kezoliman membuat hati dan jiwa manusia menjadi gelap.
Oleh karena itu, manusia tidak lagi sanggup menangkap kebenaran dan kebaikan. Nurani kita menjadi rusak dan berubah menjadi nafsu. Ini adalah pangkal kehancuran dan kesengsaraan manusia.
Baca juga : Ajarkan Empat Hal Ini Agar Puasa Anak Di Bulan Ramadhan, Menjadi Ibadah
Oleh karena itu Alllah SWT dengan rahmat-Nya memberi kita kesempatan untuk menyucikan diri dari dosa-dosa melalui ibadah puasa sebulan penuh di Bulan Ramadhan.
Profesor Nurcholish Madjid mengatakan, “Jika ibadah puasa di Bulan Ramadhan dijalani dengan sepenuh hati dan setulus jiwa, maka manusia mendapat rahmat pengampunan dari Allah. Kita dibersihkan dari dosa-dosa dan kembali menjadi Hanif”.
Namun karena dosa tidak hanya merusak hubungan antara Allah dengan manusia sebagai individu, tetapi juga merusak hubungan sosial kemanusiaan, antara individu dengan manusia lain, maka kita juga perlu saling maaf memaafkan sesama manusia.
Ketika itulah kita menang melawan dosa kita dan kembali ke fitrah kita, sebagai manusia yang kembali menjadi hanif. Itulah makna sesungguhnya dari Hari Raya Idul Fitri.
Semoga kemenangan yang kita rayakan di Hari Raya Idul Fitri tahun ini, menjadi modal untuk hidup bersama yang lebih manusiawi dan toleran di masa depan. Sehingga kehidupan bersama di negeri ini menjadi lebih baik.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Foto:detik.com

[…] Baca juga : Ketahuilah Makna Hari Raya Idul Fitri Yang Sesungguhnya […]
[…] Baca Juga: Ketahuilah Makna Hari Raya Idul Fitri Yang Sesungguhnya […]