Depoedu.com-Sabtu pagi, 26 September 2026, ada yang berbeda dengan suasana di Sekolah Tarakanita Blok Rawamangun. Saat menapakkan kaki di gerbang sekolah, kita akan melihat peserta didik dan segenap komunitas sekolah mengenakan busana nuansa Jepang.
Ada yang mengenakan kimono, yukata, hakama, haori hingga ke kostum anime. Dari gerbang masuk, kita telah disambut dengan gapura khas Jepang dengan ornamen dan lampion khas Jepang yang berwarna-warni. Ornamen serupa juga menghias lorong-lorong hingga ke sudut-sudut ruang kelas.
Di halaman utama sekolah tampak panggung besar dengan latar belakang bertuliskan “Mirai no Matsuri Tarakanita”. Di panggung itu selama seharian peserta didik menunjukkan kreativitas mereka melalui lomba karaoke, fashion show, maupun pementasan odori.
Ornamen dan lampion pun terlihat tergantung pada seutas tali yang membentang di atas hamparan lapangan luas. Di lapangan itu terdapat juga tenda-tenda kecil tempat para pedagang menjajakan aneka jenis makanan dan minuman.
Aroma takoyaki terasa begitu menyengat hidung. Ya, itulah hari kedua pelaksanaan Japanese Festival yang tahun ini diberi tema Mirai no Matsuri atau Festival Masa Depan Tarakanita Blok Rawamangun.
Di bawah hangat sinar mentari pagi, acara hari kedua pun diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ibu Liana. Semua hening, seraya memohon kehadiran dan penyertaan Tuhan agar acara dapat berjalan dengan lancar.
Berkenan memberikan penguatan Bernardus Boli, S.S. M.Pd. Pada intinya beliau berpesan agar semua panitia berkoordinasi, berkomunikasi dan bersinergi dengan baik untuk kesuksesan bersama.
“Kita ingin, akhiri hari ini dengan baik, tingkatkan koordinasi dan sinergi kita agar semua acara berjalan dengan baik. Sukses kita hari ini adalah sukses kita di SPMB nanti. Semoga Tuhan menyertai langkah kita semua.” pungkas Bernardus.
Baca juga : BNN Kota Tangerang Selatan Gelar Perkemahan Bakti SAKA Anti Narkotika
Hari itu, festival masih diramaikan dengan berbagai lomba dan pentas seni oleh peserta didik di jenjang TK, SD, dan SMP. Ada lomba fashion show untuk jenjang TK, chopstick challenge untuk jenjang SD, menghias bento untuk jenjang SD, dan lomba face painting untuk jenjang SMP, serta lomba makan takoyaki untuk semua jenjang dan umum.
Lomba makan takoyaki yang dilangsungkan di lapangan utama menjadi satu lomba yang paling seru dari sekian lomba yang ada. Peserta lomba terlihat begitu antusias dan berebut cepat dalam menghabiskan takoyaki. Wajahnya belepotan dan membuat penonton tertawa gembira.
Sementara itu di sudut ruangan yang lain, tepatnya di aula sekolah lantai 8. Di situ ada catwalk yang dipakai untuk anak-anak TK fashion show. Mereka berjalan di atas panggung kecil dengan kostum ala Jepang.
Ada yang pakai kimono, ada yang pakai kostum anime favoritnya. Wouw, penampilan mereka yang begitu percaya diri mampu mengundang decak kagum setiap mata yang memandangnya.
Menjelang siang, panggung utama mulai diisi dengan berbagai pentas seni. Ada penampilan band dari anak-anak SMP dan SMK, juga dari guru-guru SMP. Meski matahari begitu terik, mereka tetap semangat dalam bermain musik dan membawakan lagu.
Pengunjung yang tadinya bergerombol di tempat-tempat teduh pun berbondong menuju tengah lapangan dan ikut bergoyang bersama.
Untuk menyemarakkan acara, MC memberikan kuis. Beberapa kali MC melempar pertanyaan tentang Jepang kepada penonton. Penonton yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar langsung mendapatkan hadiah. Dan keberadaan kuis tersebut menjadikan suasana lapangan tidak pernah sepi.
Baca juga : Mirai No Matsuri Japanese Festival Tarakanita Blok Rawamangun 2026
Di pojok sekolah lantai dasar ada sebuah ruangan kecil, disebutnya Fujian Room. Ruangan itu menyedot perhatian pengunjung, namun justru terkesan paling tenang.
Di ruangan tersebut beberapa pengunjung memperoleh kesempatan untuk melakukan tea ceremony. Di Fujian Room beberapa pengunjung bisa melihat dan terlibat langsung dalam tata cara minum teh ala Jepang.
Bagaimana cara memegang cangkir, cara menuang, dan cara meminumnya semua ada aturannya. Ternyata bukan sekadar minum teh, tapi ada nilai ketenangan dan rasa hormat di dalamnya.
Banyak orang tua yang betah lama-lama disana, terlebih karena mereka dipandu langsung oleh Ms. Ayane Yukata, Ms. Yurike Ueda, dan Ms. Miki Mugiwara yang ketiganya didatangkan langsung dari negeri Sakura.
Menjelang sore, acara menuju ke bagian akhir. MC membacakan pemenang lomba. Setiap pemenang dipanggil ke panggung dan diberikan goody bag dan piala sebagai bentuk apresiasi dari panitia.
Dan acara pun telah selesai. Acara yang bukan saja untuk mengenalkan budaya Jepang kepada peserta didik. Namun lebih dari itu, acara ini menjadi tempat bagi peserta didik untuk belajar tentang nilai-nilai CC5 (compassion, competence, conviction, creativity, dan community).
Mereka belajar kompeten dalam mengatur acara, kreatif dalam membuat karya, dan belajar apa itu kebersamaan dalam sebuah komunitas.
Semoga kegiatan seperti ini bisa terus ada, dan menjadi bekal dasar hidup baik bagi peserta didik, agar tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berintegritas, yang siap berbakti pada keluarga, bangsa dan negara.
