Relevankan untuk Masa Sekarang? “ Pilar Pendidikan Ki Hajar Dewantara”

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Membicarakan pendidikan di Indonesia tidak akan bisa lepas dari nama tokoh besar yang sangat peduli dan concern dalam mengembangkan pendidikan masyarakat pribumi sejak awal. Ki Hajar Dewantara yang memiliki nama asli Soewardi Soerjaningrat lahir dari keluarga bangsawan Pakualaman, Yogyakarta. 

Cucu dari Paku Alam III ini mengenyam pendidikan  ELS  (Europeesche  Lagere School) – Sekolah Rendah untuk Anak-anak Eropa. Kemudian dapat kesempatan masuk STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen) biasa disebut Sekolah Dokter Jawa, walaupun tidak selesai.

Sebagai seorang yang berpendidikan dan latar belakang kehidupan sosial politiknya, Ki Hajar memiliki pandangan luas dan jauh untuk masa depan masyarakat pribumi.

Beliau sudah memikirkan bagaimana cara masyarakat pribumi mendapatkan pendidikan tanpa ada diskriminasi dari politik Belanda. Pengalaman menjadi guru dan jurnalis di beberapa media saat itu membuatnya terdorong memajukan pendidikan bumiputera. 

Berjuang melalui bidang pendidikan dan mendirikan sekolah dengan sistem pendidikan sendiri yang sesuai dengan kondisi masyarakat pribumi. Menurutnya, masyarakat pribumi tidak akan maju jika menggunakan sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif dan meninggalkan nilai–nilai luhur budaya asli Indonesia.

Demi mewujudkan idealisme, Ki Hajar mendirikan sekolah Taman Siswa di Yogyakarta pada tahun 1922. Menyelenggarakan pendidikan bagi anak–anak pribumi dengan penanaman kuat pada karakter nilai–nilai budaya. 

Dalam pendidikan bagi anak, Ki Hajar memberikan gagasan tripusat pendidikan, bahwa dalam perkembangannya seorang anak menerima pendidikan di tiga tempat utama.

Pertama, lingkungan keluarga yang menjadi awal mulai dari seorang anak mendapatkan pendidikan pertama kali. Keluarga juga menjadi tempat pendidikan dasar dan utama bagi seorang anak.

Kedua, lingkungan perguruan merupakan pendidikan lanjut dari keluarga dimana seorang anak akan mengalami pembelajaran baik dari ilmu pengetahuan maupun nilai–nilai budaya di perguruan/lembaga sekolah seorang anak bisa mengembangkan intelektualnya dan karakter.

Baca juga : Rekrutmen Guru Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil Dibuka Kembali. Ini Penjelasan Kemendikdasmen

Ketiga, lingkungan kemasyarakatan merupakan tempat bagi seorang anak lebih bisa bersosialisasi sesuai fungsi dan perannya. Dalam masyarakat inilah seorang anak mempraktikkan secara nyata apa yang sudah diperoleh di lingkungan keluarga dan perguruan/lembaga sekolah.

Lingkungan keluarga, perguruan/lembaga sekolah dan masyarakat saling berkaitan dan merupakan hubungan timbal balik dalam mempengaruhi perkembangan anak.

Ketiga lingkungan hidup tersebut sangat berpengaruh edukatif/pendidikan  dalam pembentukan kepribadian Sang Anak. Orang tua mempunyai tanggung jawab besar dalam mendidik seorang anak sejak usia dini, menanamkan dasar–dasar baik bagi seorang anak. 

Orang tua juga bertanggung jawab mengembangkan kecerdasan emosional dan intelektual sesuai dengan usia anak. Sekolah menjadi media bagi seorang anak untuk mengembagkan apa yang sudah dimiliki dan kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari.

Hubungan masing–masing lingkungan tidak bisa dipisahkan, tidak boleh salah satu lingkungan pendidikan menyerahkan sepenuhnya kepada lingkungan pendidikan lain. 

Ki Hajar Dewantara mengungkapkan pentingnya ketiga lingkungan tersebut. Lebih baik lagi untuk mencapai perkembangan kepribadian seorang anak apabila terjalin kerjasama yang kuat dari ketiga lembaga tersebut.

Ki Hajar dalam mengembangkan pendidikan bagi masyarakat pribumi memperkenalkan konsep trilogi pendidikan yang sesuai dengan  nilai budaya nusantara/Indonesia.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, para pendidik atau guru harus mampu dan mau memberikan contoh yang baik kepada para siswanya. Keteladanan sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak baik dalam pembelajaran maupun perilaku.

Ing Madya Mangun Karsa, guru harus mau memberikan motivasi semangat kepada para murid. Semangat yang dibangun menjadi penggerak kesadaran akan pembelajaran/pendidikan.  

Baca juga : Pengumuman Kelulusan dan Pelepasan Siswa Angkatan Pertama SMK Negeri 1 Titehena

Tut Wuri Handayani, guru selalu mendorong kepada para siswa untuk terus dan terus menjalani pendidikan dengan keseriusan dan tanggung jawab.

Ki Hajar Dewantara juga mengenalkan sistem Among dalam pendidikan, sistem among ini pada prinsipnya merupakan pendidikan yang didasarkan pada Asih, Asah, Asuh  (kasih sayang).  Pendidikan yang menekankan pada kemerdekaan peserta didik untuk berkembang sesuai kodrat alam dan zamannya. 

Guru berperan sebagai pamong (pembimbing) yang menuntun, bukan memaksa. Sistem Among ini dalam perkembangan di pendidikan Indonesia memadukan trilogi yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara..

Sistem Among  ini  dalam pendidikan atau pembelajaran harus berpusat pada anak (child-centered). Penyelenggaraan pendidikan di sekolah harus  berjiwa kekeluargaan, menciptakan lingkungan belajar yang ramah aman, nyaman, dan  ada kemerdekaan bagi para siswa. 

Pendidikan ini jika dijalankan dengan baik akan dapat membentuk pribadi anak yang mandiri, bertanggung jawab, berkarakter baik. Seorang anak juga dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara intelektual, emosional, dan sosial untuk, mencapai kebahagian hidup.

Filosofi yang diajarkan oleh Ki Hajar ini  mencerminkan pendekatan pendidikan yang menyeluruh. Seorang pendidik harus  mampu menjadi teladan, inspirator dan pendukung bagi murid-muridnya. 

Memberikan pendidikan yang utuh bagi anak sehingga mampu membentuk manusia yang memiliki kematangan dalam kecerdasan intelektual, emosional dan sosial.

Gagasan, idealisme dan perjuangan Ki Hajar sampai sekarang masih sangat relevan  dalam membangun pendidikan berakar kuat pada nilai-nilai kebangsaaan. Membentuk kepribadian manusia Indonesia secara utuh, cerdas dan berintegritas, berakhlak mulia. 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments