Depoedu.com-Setiap orang punya waktu untuk berproses “menggali” lagi pengalaman hidup, mengingat dan mengumpulkan kembali memori dari masa lampau. Memberi kesempatan untuk mengevaluasi diri, baik perilaku, iman / kehidupan rohani, dan yang paling penting dalam kesempatan ini ada komitmen untuk suatu pembaharuan hidup.
Rekoleksi, dari istilah “Retro” (Latin), artinya mengumpulkan kembali, “recollect” (Inggris) berarti mengingat kembali. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rekoleksi dapat dimaknai sebagai khalwat atau pengasingan diri untuk mencari ketenangan batin dan pikiran.
Berbagai bentuk kegiatan dalam rekoleksi pada dasarnya memiliki tujuan yang sama untuk membantu para peserta menyadari penyertaan Tuhan. Mengajak para peserta untuk sejenak melepaskan diri dari berbagai rutinitas keseharian.
Meluangkan waktu sejenak berkomunikasi dengan Tuhan. Berkonsentrasi akan kesadaran pada pertumbuhan kehidupan rohani, pertobatan dan pembaharuan pembentukan karakter.
Kegiatan rekoleksi dalam Katolik merupakan pembinaan iman, mengolah kehidupan rohani secara singkat untuk merenungkan, mengevaluasi, dan memperbarui hubungan dengan Tuhan.
Baca juga : Tantangan Mengembangkan Budaya Sekolah yang Sehat dan Berkemajuan
Rekoleksi dijadikan momen mempersiapkan hati, doa, pantang dan puasa mati raga, dan pertobatan berlangsung beberapa jam atau satu hari berbeda dengan retret yang bisa sampai dua atau tiga hari. Bertujuan mencari ketenangan batin, merefleksikan hidup, dan merasakan kembali cinta Tuhan.
Rekoleksi keluarga misalnya, mengingatkan bahwa keluarga merupakan harkat martabat dari Allah yang harus dirawat melebihi harta benda dan kesuksesan karir pekerjaan.
Bermakna untuk kegiatan mengevaluasi kehidupan rumah tangga, berkeluarga, pembaharuan dan komitmen dalam perbaikan hubungan setiap anggota keluarga. Mewujudkan keluarga sebagai “Gereja Kecil, Gereja Rumah Tangga” (Ecclesia Domestica) yang berpusat pada kasih Yesus sendiri.
Mengandalkan bimbingan Roh Kudus, pendampingan Tuhan dalam keluarga agar keluarga mampu berbuah dalam kasih Kristus dan bijaksana dalam mengambil keputusan, menyelesaikan permasalahan kehidupan rumah tangga.
Masing individu diberi waktu “rehat” sejenak, misal sebagai karyawan berintrospeksi diri dalam pekerjaan. Mengevaluasi kinerja, hubungan dengan sesama karyawan, dengan atasan dan menghadirkan Allah dalam setiap pekerjaan dan di lingkungan kerja.
Baca juga : UNAIR Buka Jalur Mandiri untuk Siswa Berprestasi. Ini Jadwal Pendaftaran dan Persyaratannya
Berfokus kembali dalam rangka memperdalam spiritualitas, meningkatkan hubungan baik sesama karyawan. membangun karakter positif. Rekoleksi menjadi ruang “istirahat” sejenak dari rutinitas pekerjaan.
Rekoleksi adalah peristiwa menata kembali hati dan pikiran, menyadari makna panggilan sebagai karyawan. Masing-masing pribadi yang dipanggil dalam karya Allah melayani sesama dengan penuh kasih.
Rekoleksi sangat membantu bagi karyawan untuk mengingatkan hakikat manusia dalam setiap pekerjaan, kembali ke sumber kasih yaitu Yesus dan memperbaharui semangat dan etos kerja. Kita di “upgrade” lagi dalam melayani sesama melalui pekerjaan kita dan akan menjadi berkat bagi orang lain maupun diri kita sendiri.
Rekoleksi dalam bentuk apapun kegiatannya akan menjadi momen paling berharga dalam setiap individu. Kita semua diajak untuk kembali menata hati dan batin, lebih menghidupkan lagi kekuatan rohani.
Rekoleksi menghantar kita untuk tetap bersandar pada kasih Allah di keluarga, pekerjaan, masyarakat dan gereja. Rekoleksi menuntun dan memberikan kekuatan baru dalam memperbaiki diri dan memperbaharui hidup.
