Depoedu.com-Pada agama Yahudi, masa dulu daun palma sering digunakan dalam perayaan “sukkot” (Feast of Tabernacles), tradisi dalam Masyarakat Yahudi sebagai pengingat akan perlindungan Tuhan.
Sukkot juga perayaan ucapan Syukur kepada Tuhan atas segala berkat dan perlindungan hidup. Berlangsung selama tujuh hari dimulai dari tanggal 15 bulan Tishri dalam Kalender Yahudi.
Sukkot adalah perayaan penting dalam agama Yahudi, yang membantu umat Yahudi mengingat sejarah mereka, mengucap syukur atas berkat Tuhan, dan membangun kesadaran spiritual
Minggu Palma merupakan rangkaian memasuki pekan hari suci dalam liturgi Katolik, perayaan misa dalam agama Kristen Katolik untuk memperingati Yesus masuk di kota Yerusalem.
Umat mengelu–elukan menyambut Yesus sebagai raja dengan mengangkat dan melambai–lambaikan daun palma penuh suka cita. Perayaan yang identik dengan umat melambaikan daun palma penuh sukacita, daun palma diartikan sebagai suatu simbol penyambutan kemenangan raja (Yesus).
Daun palma juga merupakan simbol dari berkat, harapan dan kehidupan. Daun palma melambangkan kemenangan Yesus sebagai Raja dan Mesias ketika Ia memasuki Yerusalem (Matius 21:1-11).
Umat Yahudi menggelar daun palma dan jubah mereka di jalan sebagai tanda penghormatan kepada Yesus, seraya berseru: Hosana diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.
Perayaan Minggu Palma yang penuh suka cita dengan pemberkatan daun palma di luar gereja dan juga sering ada perarakan untuk mengingat dan mengenang saat Yesus masuk ke Kota Yerusalem.
Nyanyian suka cita dengan meriah mewarnai perarakan seluruh umat menyambut raja yang datang sampai di gedung gereja. Perayaan ekaristi mulai berganti dalam suasana sedih, liturgi sabda tentang kisah sengsara dan penderitaan Yesus.
Salib dan patung–patung diselubungi kain sebagai tanda Yesus sungguh menunjukkan dirinya sebagai manusia.
Perbedaan suasana liturgi ini sebagai pengingat bagi umat Katolik bahwa kemeriahan sorak-sorai yang dilakukan dalam penyambutan Yesus sebagai Raja, ada penderitaan yang harus ditanggung oleh Yesus, penderitaan untuk menebus segala dosa–dosa manusia.
Umat mengenang peristiwa Yesus di Yerusalem dengan perayaan ekaristi / ibadat pemberkatan daun palma sebagai bentuk lambang kemenangan Yesus Kristus dan sekaligus memulai kisah sengsara, wafat disalib dan kebangkitan-Nya pada hari raya Paskah.
Baca juga : Lima Sikap yang menjadi Benang Inspiratif dari Prilly Latuconsina untuk Menenun Kesuksesan
Mengenangkan sengsara Tuhan adalah hari peringatan dalam liturgi Gereja Kristen, terutama Gereja Katolik Roma.
Mengingatkan dan memaknai Yesus masuk ke Yerusalem menunggangi keledai, bukan kereta Kerajaan yang megah, hal ini melambangkan perdamaian dan kerendahan hati yang diwartakan oleh Yesus.
Menunjukkan kemanusiaan-Nya di dunia bagi umat kristiani yang diharapkan memiliki sikap rendah hati dan selalu membawa kedamaian bagi orang lain.
Dalam tradisi Kristen, daun palma juga melambangkan kehidupan kekal dan kebangkitan, karena pohon palma tetap hijau bahkan di tengah gurun. Daun palma yang diberkati sering disimpan di rumah sebagai benda sakramentali untuk mengingatkan umat akan iman mereka.
Daun palma yang diberkati akan dibawa pulang dan biasanya daun palma tersebut akan diletakkan di salib sebagai pertanda kehidupan yang penuh berkat dan kehidupan baru. Di tahun berikutnya, daun palma yang sudah diberkati dalam Perayaan Minggu Palma akan dikumpulkan dan dibakar untuk Rabu Abu.
Daun palma mengingatkan umat Katolik akan kesetiaan Kristus hingga wafat-Nya. Umat Katolik membawa daun palma yang diberkati sebagai tanda komitmen untuk mengikuti jejak Yesus, termasuk dalam penderitaan dan kemenangan Rohani.
Umat Katolik harus mampu mengikuti Yesus, kesetiaan, kehidupan kekal, dan kesaksian iman.
