Depoedu.com-Tekanan hidup menyebabkan banyak orang tidak hanya stres, melainkan juga mengalami depresi. Depresi adalah gangguan suasana hati, yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya disukai. Ini adalah gejala yang umum didapati pada orang dewasa.
Namun, saat ini depresi bukan hanya dialami oleh orang dewasa melainkan juga mulai dialami oleh anak-anak. Tahun-tahun terakhir, jumlah kasus depresi dan gangguan kecemasan pada anak menunjukkan peningkatan, terutama di kota-kota besar. Depresi adalah gejala gangguan kesehatan mental yang perlu menjadi perhatian, apalagi pada anak.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Seoul Metropolitan Office Education seperti dilaporkan Hai Bunda, menyimpulkan tren memburuknya kondisi psikologis pada anak usia dini. Studi tersebut melibatkan 113 Sekolah Dasar (SD) dan melibatkan 3.754 siswa SD. Studi tersebut melibatkan ahli mental health. Para siswa diajak berdiskusi tentang kondisi emosi mereka.
Dari proses studi tersebut disimpulkan bahwa para responden mengalami peningkatan gejala kecemasan dan depresi dari tahun ke tahun. Studi berlangsung dari tahun 2021, 2022, hingga tahun 2023. Selain itu, pada rentang waktu yang sama, para responden juga menunjukkan peningkatan sensitivitas emosi dan sifat pesimistis.
Baca juga : Implementasi Yang Lateral Dari Keputusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pendidikan Gratis
Studi tersebut juga menyimpulkan ada 5 faktor penyebab depresi yang dialami oleh anak-anak tersebut yaitu: tekanan akademis, hubungan antara teman sebaya, gaya hidup yang terpapar teknologi, kurang waktu tidur, kerap membandingkan diri sendiri dengan kehidupan teman sebaya. Ini adalah faktor eksternal.
Studi tersebut juga menemukan faktor lain yang bersifat internal terutama pola asuh dari orang tua terhadap anak. Anak yang mengalami pola asuh yang protektif menyebabkan anak lebih mudah cemas dan cepat menyerah ketika menghadapi masalah sepele.
Selain itu, menurut studi tersebut, anak dengan pola asuh protektif memiliki daya tahan emosional yang rendah sehingga gampang mengalami gangguan kecemasan dan gampang depresi. Selain pola asuh, media sosial juga dinilai berperan memperburuk kesehatan mental anak di Korea Selatan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Depresi pada anak ternyata tidak hanya dialami oleh anak-anak Korea Selatan, depresi juga dialami oleh anak-anak Indonesia. Beberapa peneliti menyimpulkan hal tersebut seperti dikutip oleh Iga Ayu Saputri dalam penelitiannya. Mengutip Haryanto, ia menyampaikan data bahwa 5 persen anak Indonesia mengalami depresi.
Baca juga : Tunjangan Sertifikasi akan Dicairkan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Awal Juni Ini?
Ia juga mengutip data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia Yogyakarta yang menyimpulkan bahwa 3 persen anak sekolah Indonesia mengalami gangguan depresi. Selain itu, Ayu Saputri juga mengutip data peneliti lain yang melaporkan bahwa anak usia 10-12 tahun mengalami depresi mulai dari yang ringan hingga berat.
Kondisi ini harusnya diantisipasi oleh para stakeholder di bidang pendidikan dengan kebijakan pendidikan untuk mencegah gejala depresi tersebut menjadi masalah kesehatan mental yang lebih berat. Namun hingga kini tindakan antisipasi tersebut belum juga muncul dari para stakeholder pendidikan.
Lihat saja unit kerja bimbingan dan konseling sebagai unit kerja yang bertanggung jawab pada masalah kesehatan mental anak di sekolah, dibiarkan tidak berfungsi dengan baik bahkan tidak ada di banyak Sekolah Dasar. Bahkan fungsi bimbingan konseling tidak dianggap penting oleh banyak Kepala Sekolah.
Kita berharap data seperti ini, menggugah para penanggung jawab kebijakan pendidikan untuk untuk melakukan antisipasi, melalui kebijakan pendidikan yang tepat. Dengan demikian gejala seperti itu bisa dicegah, agar depresi yang dialami tidak menjadi masalah kesehatan mental yang lebih berat. Bukankah masa depan negeri ini ada di tangan anak-anak ini?
Foto: Siloam Hospitals
