Upaya Pengembangan Keterampilan Hidup dan Orientasi Proses Belajar di Sekolah Kita

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Dalam tulisan ini, keterampilan hidup dikelompokkan menjadi dua, dilihat dari sifatnya. Pertama, keterampilan yang bersifat elementer. Dikatakan elementer karena merupakan keterampilan yang sangat mendasar dan melekat pada eksistensi manusia sebagai manusia. 

Keterampilan yang termasuk dalam keterampilan elementer ini adalah keterampilan berpikir dan keterampilan komunikasi. Dalam keterampilan berpikir ada keterampilan belajar. Sedangkan secara spesifik yang termasuk dalam keterampilan komunikasi adalah keterampilan berbicara dan menulis.

Pengembangan keterampilan berpikir dan keterampilan belajar ini berjalan paralel dengan pengembangan kemampuan komunikasi; menulis dan berbicara. Artinya individu dapat menulis dan berbicara dengan baik jika memiliki keterampilan berpikir, dan ini adalah hasil dari proses belajar. 

Namun harus disadari bahwa keterampilan berpikir dapat berkembang jika individu terus berinteraksi dengan lingkungan sosial dan alam kebendaan di sekelilingnya secara aktif, di antaranya melalui membaca dan proses belajar. Interaksi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan, menghasilkan informasi,dan pengetahuan baru melalui proses berpikir. 

Interaksi dari proses berpikir, belajar, dan komunikasi tersebut terus mengembangkan keterampilan berpikir individu hingga sampai pada tingkat keterampilan berpikir yang tertinggi, yang disebut kreativitas. 

Sebaliknya, jika individu memiliki hambatan internal maupun eksternal untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial dan alam kebendaan, individu biasanya mengalami hambatan berpikir, sekaligus kemampuan komunikasinya. Kondisi ini pada gilirannya akan menjadi penghambat tumbuh kembang individu terutama sebagai makhluk sosial. 

Kedua, keterampilan yang bersifat instrumental. Termasuk dalam keterampilan ini adalah kemampuan teknis yang harus dikuasai oleh individu yang membuatnya efektif ketika melakukan hal-hal yang bersifat teknis vokasional misalnya terkait karier dan pengembangannya. 

Penguasaan tersebut ditandai dengan penguasaan teknis metodologis berkaitan dengan profesi yang digeluti maupun penguasaan terhadap peralatan vokasional berkaitan dengan profesi tersebut. Misalnya, seorang wartawan harus menguasai teknis peliputan berita, teknis menulis berita dan fasih menggunakan peralatan kerja seperti komputer atau kamera. 

Baca juga : Empat Strategi Menciptakan Pembelajaran Efektif

Atau seorang guru harus menguasai metodologi mengajar, keterampilan membimbing murid menyelesaikan masalah, keterampilan komunikasi dengan murid dan orang tua, keterampilan mendengarkan murid, keterampilan teknis evaluasi pengajaran dan fasih menggunakan peralatan kerja seperti seperti komputer untuk bekerja.

Jika keterampilan tersebut dikuasai, baik oleh wartawan maupun oleh guru maka wartawan dan guru tersebut dikatakan menguasai keterampilan instrumental yang membuat mereka lebih efektif mencapai tujuan hidup atau menyelesaikan pekerjaan mereka. 

Dari dua keterampilan ini;  elementer dan instrumental,   pertanyaannya bukan, keterampilan mana yang lebih penting dikuasai dari keduanya, melainkan ini soal efektivitas bekerja. Jika masalahnya adalah soal efektivitas bekerja, maka jawabannya adalah individu harus menguasai keduanya.  

Orientasi Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah Kita 

Kualitas keterampilan yang dikuasai oleh individu merupakan hasil dari sebuah proses belajar yang dijalani. Semakin baik kualitas proses belajar tersebut, sangat menentukan kualitas keterampilan yang dikuasai individu. Proses tersebut sangat ditentukan oleh orientasi pendidikan dan pengajaran yang dibangun di sekolah-sekolah kita. 

Ahli psikologi belajar seperti B.S Bloom mengatakan, untuk menguasai sebuah keterampilan, individu harus melalui proses yang terdiri dari tujuh tahap. Tahap pertama oleh Bloom disebut persepsi. Ini adalah tahap di mana individu menggunakan pengetahuannya untuk membedakan ciri yang berbeda pada objek berdasarkan ciri-ciri dari objek tersebut.  

Misalnya untuk dapat terampil menulis sebuah artikel, seorang harus memiliki pengetahuan tentang kata, kalimat, alinea, tanda baca dan memiliki pengetahuan tentang topik yang ditulis. Ia harus mengenali ciri-ciri dari hal-hal di atas dengan baik. 

Setelah persepsi, tahap berikutnya adalah tahap kesiapan di mana individu secara mental siap untuk melatih sebuah hal yang baru yakni kemampuan menulis yang dinyatakan dalam kesiapan secara mental. 

Menurut Bloom, untuk sampai pada penguasaan keterampilan, masih ada  kurang lebih lima tahap yakni gerakan terbimbing, di mana individu dibimbing oleh guru, gerakan yang berulang di mana individu mengulang-ngulang gerakan tersebut, melakukan kembali hal yang dilatihkan tersebut. 

Baca juga : Regulasi Tentang Hak Hidup, Upaya Negara Melindungi Janin

Setelah itu, tahap berikutnya, individu melatih kemampuan yang lebih kompleks (gerakan kompleks) dengan lancar, semakin sesuai dengan petunjuk dan semakin efisien. Dalam hal menulis, individu sudah dapat menggabung-gabung kalimat yang saling terkait untuk membentuk sebuah alinea yang utuh, bahkan membuat alinea berikutnya yang terkait dengan alinea-alinea sebelumnya.  

Setelah itu, memasuki tahap yang lebih kompleks yaitu tahap penyesuaian pola keterampilan mencakup kemampuan misalnya dalam keterampilan menulis, individu dapat menerima masukan dari orang lain dan menempatkan dalam struktur tulisannya tanpa merusak logika berpikir tulisan secara keseluruhan.  

Tahap yang terakhir adalah tahap kreativitas. Menurut Bloom, pada tahap ini, individu sudah memiliki keterampilan yang sangat tinggi bahkan sudah dapat mengembangkan kreativitasnya sendiri yang menghasilkan karya tulisan baru yang sangat orisinil.

Sayangnya tujuh tahap pembelajaran keterampilan ini tidak selalu terjadi dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah kita. Bahkan seringkali pembelajaran yang seharusnya berorientasi pada penguasaan keterampilan tersebut, berhenti hanya pada penguasaan pengetahuan. 

Bahkan proses belajar mengajar berhenti pada ranah kognitif bahkan ranah kognitif tingkat rendah seperti pengetahuan, bahkan tingkat berikutnya pada ranah kognitif yakni pemahaman pun tidak tercapai. Sehingga anak mengetahui apa itu kalimat, apa itu alinea tetapi tidak dapat menulis  alinea. 

Itulah orientasi proses belajar mengajar kita, dalam waktu hampir tujuh dasawarsa pasca kemerdekaan, proses belajar mengajar di sekolah-sekolah kita berorientasi lebih pada penguasaan pengetahuan bukan pada penguasaan keterampilan hidup. Apalagi pengajaran tidak pernah dijadikan sarana untuk proses belajar berpikir.  

Padahal, untuk dapat hidup secara efektif, produktif, apalagi profesional, individu tidak hanya membutuhkan pengetahuan melainkan juga kemampuan afektif dan penguasaan keterampilan hidup; baik keterampilan yang bersifat elementer maupun yang bersifat instrumental.

Dan pengembangan keterampilan hidup,  baru serius digarap melalui pemberlakuan Kurikulum Merdeka terutama sejak ujian nasional dihentikan. Kita berharap proses yang masih berada di tahap transisi ini akan diteruskan ketika terjadi pergantian kekuasaan di negeri ini pasca pemilu 2024.

Foto: Magelang Express

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments