Hakekat Pendidikan Menurut Driyarkara: Memanusiakan Manusia Muda

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Jika hari-hari ini pendidikan sering direduksi menjadi urusan ijazah, nilai, dan lapangan kerja, maka Romo Nicolaus Driyarkara, SJ (1913-1967) mengajak kita kembali ke pertanyaan paling dasar; apa sebenarnya hakikat pendidikan itu? 

Bagi Driyarkara, filsuf, pendidik dan mantan rektor IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, pendidikan bukan hanya urusan transfer informasi dari guru kepada siswa. Pendidikan bagi Driyarkara,  adalah perbuatan fundamental. 

Tulisan ini akan secara singkat membahas tema penting tersebut; pendidikan sebagai perbuatan fundamental, hominisasi dan humanisasi sebagai dua proses yang tak terpisahkan, tiga dimensi pendidikan, dan ciri manusia terdidik menurut Driyarkara. Berikut uraiannya. 

  1. Pendidikan sebagai perbuatan fundamental

Kata fundamental bagi Driyarkara punya dua arti. Pertama, pendidikan itu fundamental karena mengubah, menentukan, dan membentuk hidup manusia. Pendidikan seharusnya tidak sekedar menambah pengetahuan, tetapi secara asasi mengubah peserta didik menjadi pribadi yang berbeda. 

Kedua, pendidikan itu seharusnya berpangkal pada sikap fundamental cinta murni, yaitu cinta yang mengarah pada kepentingan yang dicintai (peserta didik), dan bukan kepentingan yang mencintai (pendidik; guru, orang tua). 

Karena itu, pendidik tidak bisa sembarangan. Yang pantas memanusiakan manusia muda hanyalah orang dewasa yang kompeten, untuk mengkomunikasikan pribadinya. Bagi Driyarkara, mendidik bukan seperti mengisi botol kosong, melainkan komunikasi eksistensial dari hati ke hati. Isinya bukan sekedar informasi, tetapi pribadi itu sendiri. 

Driyarkara memandang pendidikan sebagai komunikasi eksistensia manusiawi yang autentik kepada manusia muda supaya dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Inilah perbuatan fundamental yang Driyarkara maksudkan. 

  1. Hominisasi dan humanisasi; dua proses yang tak terpisahkan

Inti rumusan Driyarkara yang paling terkenal adalah: Mendidik adalah memanusiakan manusia muda. Yaitu hominisasi dan humanisasi. Hominisasi adalah proses pertumbuhan biologis kodrati menjadi manusia. Bayi lahir sebagai makhluk biologis; ia makan, minum, tumbuh, berkembang biak, sama dengan hewan. 

Baca juga : Memahami Imposter Syndrome: Apa Itu, Mengapa Terjadi dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Melalui pendidikan ia dimasukkan ke dalam lingkungan hidup manusiawi secara minimal. Ia belajar bahwa makan bukan sekedar memasukkan makanan tetapi makan dengan tata cara, etika, dan tahu mana miliknya dan mana yang bukan miliknya. 

Humanisasi adalah tingkat yang lebih tinggi. Jika hominisasi  adalah menjadi homo (manusia secara biologis), maka humanisasi adalah menjadi human (manusia secara biologis), maka humanisasi adalah menjadi human (manusiawi secara budaya). Di sini tubuh dan alam jasmani diangkat ke taraf alam budayawi. 

Berkat pendidikan, manusia tidak hanya tergantung pada alam, tetapi bisa menciptakan dunianya sendiri lewat ilmu, teknologi, dan kebudayaan. Berpakaian bukan sekedar menutup tubuh agar tidak kedinginan, tetapi menjadi ekspresi moral dan estetika. 

Dua proses ini, tidak bisa dipisahkan. Tidak ada hominisasi tanpa humanisasi. Manusia harus mengangkat dirinya sendiri untuk hidup sesuai dengan kodratnya sebagai pribadi, sebagai subjek yang mengerti diri, menempatkan diri dalam situasinya, mengambil sikap dan menentukan dirinya. 

  1. Tiga dimensi pendidikan menurut Driyarkara

Dari pemikiran Driyarkara tentang hominisasi dan humanisasi itu, lahir tiga inti pendidikan; pendidikan adalah pemanusiaan anak; pendidikan adalah pembudayaan anak; pendidikan adalah pelaksanaan nilai. Berikut uraiannya:

  • Pendidikan adalah pemanusiaan anak

Artinya pendidikan memanusiakan anak didik sehingga anak didik pada akhirnya dapat memanusiakan dirinya sendiri.

  • Pendidikan adalah pembudayaan anak 

Artinya pendidik membudayakan anak, anak membudayakan dirinya sendiri. Manusia hidup dalam Mit-Welt (dunia bersama)  dan Mit-Sein (ada bersama manusia lain). Makanya pendidikan harus menumbuhkan kepekaan budaya, menghargai pluralisme. 

  • Pendidikan adalah pelaksanaan nilai

Artinya pendidikan adalah perjumpaan antara aktivitas pendidik dengan aktivitas anak didik untuk mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan hanya competence (kemampuan berpikir), tetapi juga conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa). 

Baca juga : Ekspansi Muhammadiyah Di Bidang Pendidikan: Dari Langgar Kauman, Menjadi Jaringan Pendidikan Islam Modern Terbesar di Dunia

Pemikiran-pemikiran pendidikan inilah yang membedakan Driyarkara dari pemikiran pragmatis yang ia kritik keras. Ia menulis:

Pandangan pragmatis adalah pandangan yang hanya mengingat guna yang langsung dan konkrit dari sesuatu. Pandangan pragmatis itu membawa bahaya kesempitan. Pendidikan hanya mengejar gambaran manusia yang cakap untuk bekerja dan mendapatkan uang. Orientasi nilai pasar menjadi tujuan bukanlah gambaran manusia yang sebenarnya. 

Jika pendidikan hanya untuk bekerja, maka pendidikan menjadi komoditas ekonomis. Padahal, bagi Driyarkara, pendidikan mesti diarahkan pada kodrat rohani manusia. 

  1. Ciri manusia terdidik ala Driyarkara

Kontribusi terbesar Driyarkara  adalah menjadikan pendidikan formal sebagai arena untuk mengedepankan hakikat kemanusiaan secara utuh. Manusia terdidik menurut Driyarkara memiliki empat ciri humanisme:

  • Cultural sensibility; memiliki kepekaan budaya, menghargai pluralisme, dan multikulturalisme.
  • Historically attentive; memperhatikan tantangan sejarah yang terus menerus berubah. 
  • Philosophically creative; mampu memprakarsai terobosan dan menemukan makna baru dalam hidup. 
  • Academic excellence  and sensitivity to justice; unggul secara akademik sekaligus peka terhadap keadilan dan ketidak adilan. 

Tujuan akhirnya jelas; agar setiap peserta didik menjadi manusia yang semakin mengerti baik dan buruk, serta mampu mengambil keputusan tepat dan berguna, dan tidak hanya untuk diri sendiri tetapi orang di sekitarnya. 

Di zaman ketika ijazah diperdebatkan apakah itu certificate of attendance atau has been awarded, pemikiran Driyarkara menampar kita dengan pertanyaan yang lebih mendalam: Ijazah apapun yang kau pegang, apakah kau sudah menjadi manusia yang manusiawi? Apakah pendidikanmu  sudah membuatmu mampu menjalankan hidup sebagai manusia, yang berpikir, berhati nurani, dan peduli pada sesama? 

Itulah hakikat pendidikan. Bukan mencetak manusia robot yang cerdas, tapi manusia yang dengan kecerdasannya memiliki kepekaan dan kepedulian pada sesama di sekitarnya. 

Foto: Elsaonline.com

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments