Depoedu.com-Jika ada satu organisasi yang membuktikan bahwa pendidikan adalah bentuk jihad yang paling panjang dan konsisten, itu adalah Muhammadiyah. Ekspansi tersebut tidak dimulai dari gedung mewah, tetapi dari sebuah langgar kecil di Kauman Yogyakarta pada 1 Desember 1911, bahkan sebelum Muhammadiyah resmi berdiri pada tahun 1912.
Pada hari itu, KH Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, sebuah sekolah agama modern yang memadukan pelajaran agama dan pelajaran umum. Saat itu, ide ini dianggap aneh; santri kok belajar berhitung dan geografi?
Lebih dari 100 tahun kemudian, ide “aneh” itu telah menjelma menjadi jaringan pendidikan raksasa. Tulisan ini hendak menyajikan ke hadapan pembaca gambaran tentang skala ekspansi Muhammadiyah dalam angka, filosofi ekspansi yang dihayati para pelaku, dan fase ekspansi yang terjadi. Berikut uraiannya.
- Skala ekspansi: Angka yang sulit dibayangkan
Dari satu Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah yang didirikan di sebuah langgar kecil pada 1 Desember 1911, hingga saat ini menunjukkan perkembangan dan ekspansi yang sangat konsisten. Data per Agustus 2025 dari Majelis Diktilitbang Pengurus Pusat Muhammadiyah, menunjukkan skala perkembangan yang fantastis.
Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, Muhammadiyah berhasil mendirikan lebih dari 5.300 sekolah formal dari SD hingga SMA/SMK. Rinciannya, ada 2.453 SD/MI, 1.599 SMP/MTs dan 1.294 SMA/MA/SMK. Jika ditambah dengan lembaga pendidikan usia dini yang dikelola Aisyiyah, angkanya melompat menjadi lebih dari 20.000 satuan TK, PAUD, belum lagi 444 pondok pesantren modern.
Ekspansi Muhammadiyah di jenjang pendidikan tinggi, inilah yang paling fenomenal. Dari gagasan Kiai Hisyam yang muncul dalam suatu rapat muktamar Muhammadiyah yang pada saat itu dipimpin oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1920, yang kala itu ditertawakan oleh peserta muktamar.
Pada saat itu, kebanyakan peserta muktamar berpikir; “Muhammadiyah tidak punya dokter, tidak punya banyak sarjana bergelar doktor, tidak punya apa-apa kok mau bikin universitas mewah?” Namun dengan konsistensi pada cita-cita dan terus berekspansi, kini telah berdiri 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) per Mei 2026.
Jumlah tersebut terdiri dari 103 Universitas Muhammadiyah, 30 Sekolah Tinggi Muhammadiyah, 24 Institut Muhammadiyah, 5 Politeknik Muhammadiyah dan 2 Akademi Muhammadiyah. Di mana 21 di antaranya sudah terakreditasi unggul oleh badan akreditasi nasional.
Baca juga : Pemikiran Cendekiawan Indonesia Soedjatmoko tentang Pendidikan: Pembangunan adalah Proses Belajar
Data lainnya menunjukkan Muhammadiyah kini menjadi ormas Islam yang memiliki Fakultas Kedokteran terbanyak dengan dengan 23 Fakultas Kedokteran, dengan 7 di antaranya adalah kedokteran gigi dan 16 program spesialis.
Kini ekspansi yang dilakukan oleh Muhammadiyah sudah lintas negara dengan mendirikan TK ABA di Kairo, Mesir, Muhammadiyah Australia College di Victoria, dan Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di Perlis.
- Filosofi di balik ekspansi: Sedikit bicara, banyak bekerja
Ekspansi Muhammadiyah adalah cerita panjang bagaimana Muhammadiyah bertahan di tengah semua iklim percaturan politik Indonesia, bertahan di semua pergantian kekuasaan. Ini hanya bisa terjadi karena Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan memiliki tiga etos sebagai berikut:
Pertama, Islam sebagai dinul amal dan dinul hadharah.
Bagi Muhammadiyah, Islam bukan sekedar ritual, tetapi agama amalia. Maka setiap ilmu yang dipelajari harus diamalkan dan amal yang dilakukan harus berlandaskan ilmu. Inilah yang sering ditegaskan oleh Haedar Nashir.
Maka baginya, amal usaha pendidikan adalah upaya untuk menjadikan umat Islam setara dengan bangsa lain yang lebih maju. Maka upaya yang harus terus dilakukan adalah dari dinul amal (agama amal) harus naik menjadi dinul hadharah (agama peradaban).
Kedua, tajdid; pemurnian dan pembaharuan
Berbeda dengan pendidikan tradisional yang otoriter, sekolah Muhammadiyah sejak awal menawarkan hubungan guru-murid yang lebih akrab, serta kurikulum yang mengintegrasikan ilmu dan amal secara nyata dan berkelanjutan. Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan, bukan hanya baca Qur’an.
Ketiga, pendidikan progresif dan inklusif
Salah satu keunggulan sistem pendidikan Muhammadiyah adalah tidak eksklusif. Ini sangat terlihat di Indonesia Timur, jumlah mahasiswa Islam dan non-Islam di Kampus Muhammadiyah hampir berimbang. Di Maumere, NTT, mahasiswa boleh membayar UKT dengan hasil bumi. Ini bukan sekedar slogan tetapi layanan nyata.
Baca juga : Peran Pengawas Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Proses Belajar Mengajar di Sekolah
- Fase Baru; Dari kuantitas ke kualitas
Jika 100 tahun pertama adalah fase ekspansi kuantitas; mendirikan sekolah di setiap pelosok agar anak-anak tidak buta huruf, maka pada 10 tahun terakhir adalah fase konsolidasi kualitas.
Pimpinan pusat Muhammadiyah melalui Majelis Diktilitbang kini justru melakukan kontrol dan merger kampus. Jumlah PTMA yang sempat menyentuh 175-178 sengaja dikurangi menjadi 164. Ini bukan kemunduran, tetapi upaya mengendalikan pertumbuhan agar tetap sehat.
Fokusnya bukan lagi di setiap daerah harus ada Universitas Muhammadiyah tetapi bagaimana memastikan agar 21 kampus unggul Muhammadiyah itu bisa menjadi 50 di masa depan. Fokus lainnya adalah, bagaimana Fakultas Kedokteran di pelosok bisa melayani daerah 3T.
Inilah yang membuat Muhammadiyah berbeda dari ekspansi pendidikan komersial. Ketika banyak Perguruan Tinggi Swasta berlomba menambah prodi populer demi mendapatkan jumlah mahasiswa baru lebih banyak, Muhammadiyah membuka Prodi Kedokteran di Gorontalo, Kalimantan Timur, dan Kupang, daerah-daerah yang kekurangan dokter.
Ekspansi Muhammadiyah di pendidikan pada akhirnya adalah jawaban atas pertanyaan yang diajukan KH Ahmad Dahlan 113 tahun yang lalu: “Apakah ajaran Qur’an itu hanya untuk dihafal, atau untuk diamalkan?” Itulah jihad sosial-edukasi, yang sedikit bicara tetapi banyak bekerja.
Foto: Sentra KI-DJKI
