Keteladanan di Era Digital: Menjadi Penabur Benih dan Pelabuhan Karakter

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Artikel mengenai “Peran Keteladanan Orang Tua dan Guru dalam Keberhasilan Pendidikan Karakter Anak” di www.depoedu.com (11 April 2026) terasa sangat relevan bagi saya. Di antara kita, mungkin ada yang berperan sebagai orang tua, atau sebagai guru. Bagi saya pribadi, kedua peran itu melekat sekaligus. 

Sebagai guru yang juga orang tua dari dua anak yang pernah bersekolah di tempat saya mengabdi, saya merasakan langsung dinamika memberikan teladan di rumah maupun di sekolah.

Keteladanan bukanlah soal telunjuk yang memerintah atau teriakan amarah saat anak tidak sesuai harapan. Ia adalah jejak langkah nyata untuk diikuti. Semangat ini membawa ingatan kita pada Injil Yohanes 13:14-15, saat Yesus membasuh kaki murid-Nya. 

Di sana, keteladanan bukan lagi soal pemimpin yang memberi komando, melainkan kerendahan hati untuk melayani dan keberanian untuk berbuat baik terlebih dahulu sebelum menuntut orang lain.

Dalam konteks sehari-hari, keteladanan biasanya mengalir dari orang dewasa kepada anak, atau pemimpin kepada pengikutnya. Namun, menjadi teladan bukan berarti memposisikan diri sebagai sosok sempurna. 

Apa yang kita anggap baik, belum tentu langsung diterima baik juga oleh orang lain. Keteladanan adalah kesadaran bahwa tugas utama kita hanyalah berbuat baik dan “memulainya terlebih dahulu”.

Prinsip ini menjadi pengingat tajam bagi saya. Sering kali kita menuntut kedisiplinan dan kejujuran dari murid atau anak kita, namun lupa berkaca pada diri sendiri. 

Saya belajar bahwa wibawa tidak dibangun dari instruksi verbal semata. Kata-kata kita hanya akan memiliki kekuatan jika tindakan kita selaras dengan apa yang diucapkan.

Saya teringat pesan mendalam dari Romo Willy Malim Batuah, CDD: “Kita jangan hanya kejam kepada orang lain, tetapi harus berani ‘kejam’ pada diri sendiri.” Tentu saja, “kejam” di sini bukan berarti menghukum secara fisik, melainkan kedisiplinan untuk taat pada aturan yang kita buat sendiri.

Jangan sampai kita membuat aturan yang hanya berlaku bagi orang lain, sementara kita mengecualikan diri sendiri.

Keteladanan di Jagat Maya dan Ruang Kelas

Namun, tantangan keteladanan kini menjadi jauh lebih kompleks ketika kita memasuki ruang digital. Di dunia di mana layar gawai lebih sering dipandang murid daripada wajah gurunya di depan kelas, sejauh mana jejak langkah kita masih bisa mereka ikuti?

Medan pelayanan kita kini tidak lagi dibatasi oleh pagar sekolah; ruang kelas telah meluas ke jagat maya yang tanpa sekat. Di sinilah integritas kita diuji. Keteladanan kini mencakup etika di media sosial. 

Murid-murid sering kali “bertemu” dengan gurunya melalui status WhatsApp, Instagram Story, atau komentar di Facebook. Guru masa kini harus sadar bahwa jari adalah perpanjangan dari lidah; jejak digital yang kita tinggalkan harus selaras dengan nilai-nilai yang kita ajarkan di dalam kelas.

Baca juga : Peran Keteladanan Orang Tua dan Guru dalam Keberhasilan Pendidikan Karakter Anak

Di tengah derasnya arus informasi, guru bersaing dengan ribuan influencer yang menjadi idola para murid. Namun, sadar atau tidak, kitalah influencer yang sesungguhnya bagi mereka. Oleh karena itu, keteladanan tidak boleh berhenti saat bel pulang berbunyi.

Ruang pelayanan kita meluas hingga ke momen-momen informal, di jam kosong atau rehat siang, saat murid memberanikan diri untuk berbagi beban hati. Kesediaan kita untuk mendengar adalah bentuk pelayanan yang nyata. 

Dengan mendengarkan hal-hal yang personal ini, kita menunjukkan bahwa guru bukan hanya pengajar logika, tetapi juga sahabat yang siap mendengar dengan tulus.

Demikian juga etika dalam menyusun bahan ajar hingga pembuatan materi sumatif yang adaptif adalah “kurikulum tak tertulis” yang mereka pelajari dari kita. 

Pendidik harus terus belajar menggunakan teknologi, sebab murid tidak akan tertarik jika kita masih mengajar dengan pola dan media yang kita terima berpuluh tahun lalu. Dengan terus beradaptasi, kita sedang memberi teladan bahwa kita pun adalah seorang pembelajar seumur hidup.

Lebih dalam lagi, dunia digital sering kali menyuguhkan narasi yang bertentangan dengan iman dan moral—mulai dari relativisme yang menganggap kebenaran itu subjektif, hingga budaya hedonisme. Kita hadir bukan sekadar untuk melarang atau menutup akses, melainkan untuk menajamkan hati nurani murid.

Tugas kita adalah membantu mereka membedakan yang benar dari yang salah, serta memampukan mereka menemukan nilai-nilai luhur untuk menjadi pribadi yang saleh sekaligus terpelajar.

Keteladanan pendidik harus berfungsi sebagai filter hidup. Ketika dunia maya menormalisasi kekerasan dan ketidaksopanan, kehadiran kita harus menawarkan alternatif yang menyegarkan: ajaran kasih, ketaatan, kerja sama, dan rasa hormat.

Murid perlu melihat bahwa aturan pembatasan gawai di sekolah bukanlah aturan usang yang mengekang, melainkan pagar yang melindungi martabat mereka.

Di dalam ruang kelas, keteladanan berarti menyelaraskan ucapan dengan tindakan. Kita sering bersemangat menggaungkan narasi kemajuan teknologi, namun jarang menunjukkan karya nyata dari alat-alat canggih tersebut. 

Ironisnya, sering terjadi kesenjangan moral saat kita menginstruksikan murid untuk berdiskusi mendalam, sementara kita sendiri justru tenggelam di balik layar ponsel demi urusan yang tidak relevan dengan pembelajaran.

Saat perhatian tercuri oleh gawai, kita kehilangan momen berharga untuk hadir secara utuh. Membangun keteladanan berarti berani meletakkan perangkat untuk benar-benar menatap mata mereka. 

Sebab, kehadiran fisik tanpa kehadiran perhatian adalah bentuk “ketidakhadiran” yang paling nyata bagi seorang pendidik.

Baca juga : Penjelasan Mendikdasmen Abdul Mu’ti Mengenai Rendahnya Hasil TKA Matematika SMP dan SMA

Pelabuhan Karakter di dalam Rumah

Jika di sekolah guru berjuang menjadi penabur benih karakter, maka di rumah, orang tua adalah pelabuhan pertama bagi karakter anak.

Pendidikan karakter di rumah bukan sekadar seremonial makan bersama atau rekreasi, melainkan tentang perhatian dan sapaan yang tak putus oleh jarak maupun waktu. 

Ketika seorang anak melihat keselarasan perilaku antara ayah, ibu, hingga orang-orang di sekitarnya, di situlah nilai-nilai luhur tertanam kuat sebagai modal persaudaraan seumur hidup. 

Dengan semangat saling mengingatkan dan senantiasa “nguwongke” (memanusiakan) satu sama lain, kita memastikan setiap sudut rumah menjadi saksi bisu tumbuhnya kasih yang tulus.

Memang, banyak orang tua yang harus bekerja menggunakan ponsel. Namun, kita perlu memiliki kesadaran kapan harus meletakkan gawai tersebut. Jangan sampai anak merasa orang tuanya ada secara fisik, tetapi “hilang” di balik layar.

Mari letakkan ponsel saat makan bersama. Bukalah diskusi ringan tentang pengalaman mereka sepanjang hari. Dan yang terpenting, ajaklah anak beribadah bersama selagi mereka masih berada dalam satu atap. Sebab, akan tiba saatnya mereka membangun keluarga sendiri dan berpisah secara fisik dari kita.

Suatu hari nanti, ketika anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang teguh prinsip dan peduli sesama, di situlah jejak keteladanan kita menemukan penggenapannya. 

Kita mungkin tidak selalu menyertai perjalanan mereka hingga akhir, namun melalui keteladanan, kita telah mewariskan energi positif yang akan terus menggerakkan hidup mereka selamanya.

Pada akhirnya, keteladanan di era digital bagi guru maupun orang tua adalah tentang keberanian menciptakan ‘ruang suci’ tanpa gangguan layar. 

Kita menunjukkan bahwa secanggih apapun teknologi, ia hanyalah alat, sedangkan hubungan antar manusia adalah yang utama. Dengan meletakkan gawai, kita sedang mengajar mereka bahwa penghargaan tertinggi bagi sesama adalah kehadiran yang utuh.

Tetap Bersemangat!

Penulis adalah seorang Guru dan Orang Tua

5 4 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments