O Felix Culpa: Dari Sukacita Paskah MPK Malang menuju Kilau 75 Tahun Hua Ind

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Mengawali tulisan ini, perkenankan saya membuka dengan ucapan: SELAMAT PASKAH.

Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Malang merayakan sukacita Paskah melalui Misa Paskah Bersama Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Dosen di lingkup MPK/KOMDIK Keuskupan Malang wilayah Malang Raya, Pandaan, dan Pasuruan.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 6 April 2026 ini dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Malang, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm.

Kegiatan ini dihadiri oleh 1.380 umat Katolik yang terdiri dari Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Dosen dari 14 Yayasan Katolik di wilayah MPK Keuskupan Malang. Jumlah yang cukup besar bagi kami yang berkarya di bidang pendidikan.

Dalam homilinya, Bapak Uskup mengingatkan kami bahwa Paskah adalah kesempatan untuk bersyukur dan merenung.

Bersyukur bahwa dengan kebangkitan Yesus kita semua bersukacita, sekaligus merenungkan bahwa Paskah membangkitkan pengharapan yang membuat kita bergembira untuk melangkah maju.

Sebagai umat beriman, kita bersyukur atas ‘O Felix Culpa’—suatu kesalahan yang membahagiakan.

Meski dosa Adam dan Hawa merupakan awal dari kejatuhan manusia, namun di sanalah kita justru melihat besarnya kerahiman Tuhan yang senantiasa bekerja untuk memperbarui hidup kita, mengampuni dosa, dan memulihkan kembali martabat kita sebagai anak-anak Allah.

Itulah sebabnya kita mempunyai pengharapan; di luar dugaan manusia, Tuhan bisa membuat sesuatu menjadi baik.

Pengharapan ini muncul saat kita menyadari bahwa para murid Yesus, meski dilingkupi kelemahan bahkan pengkhianatan, mereka tidak dibuang.

Sebaliknya, mereka dipulihkan dan tetap diutus untuk mewartakan sukacita kepada banyak orang.

Baca juga : Bersorak dan Bersukacita, Yesus telah Bangkit

Jika Allah bisa memakai mereka yang jatuh untuk menyatakan kasih-Nya, Ia pun bisa melakukan hal yang sama melalui hidup kita.

Kesaksian nyata atas kuasa Tuhan ini sungguh terlihat dalam perayaan Misa kali ini, yang dilayani oleh para murid dan pembina difabel.

Kita semua dibuat tercengang saat melihat seorang murid yang tidak bisa melihat, namun dikaruniai kemampuan untuk membacakan Sabda Tuhan dengan sangat lancar.

Melalui jari-jarinya, Tuhan bekerja secara luar biasa; meskipun mata raganya tak dapat melihat, jemarinya diubah menjadi sarana yang menyampaikan kabar baik bagi kita semua.

Peristiwa ini menjadi pengingat sekaligus pengharapan besar bahwa Tuhan tidak pernah terbatas oleh kekurangan manusia.

Dalam setiap persoalan dan kesulitan hidup, Ia selalu punya cara untuk mengubah keadaan. Jika Tuhan mampu mengubah keterbatasan fisik menjadi saluran berkat, maka Ia pun pasti mampu menyertai setiap langkah kita dalam menghadapi tantangan hidup.

Bagi kita yang bergelut di dunia pendidikan, momen ini menguatkan perutusan kita untuk terus memanusiakan anak-anak muda sesuai dengan keunikan dan keterbatasan mereka masing-masing.

Di sinilah tugas mulia kita: percaya bahwa di balik setiap kekurangan, ada kemuliaan Tuhan yang siap dinyatakan melalui kasih dan kesabaran kita dalam mendidik.

Setelah perayaan Ekaristi yang penuh syukur, kehangatan kebersamaan kita berlanjut dalam acara ramah tamah dan makan siang bersama.

Momen ini menjadi ungkapan nyata persaudaraan antara para Pendidik, Tenaga Kependidikan, serta Dosen di lingkup MPK/KOMDIK Keuskupan Malang.

Seluruh rangkaian acara pun ditutup dengan satu harapan besar: agar kita semua diberikan kesehatan dan berkat untuk dapat berjumpa kembali dalam sukacita Paskah di tahun mendatang.

Khusus bagi keluarga besar Yayasan Kolese Santo Yusup, sukacita Paskah kali ini terasa kian istimewa karena dirangkaikan dengan perayaan 75 Tahun Hua Ind.

Kegembiraan ini akan dilanjutkan melalui Kegiatan Kekeluargaan Yayasan (KKY) Kolese Santo Yusup pada 7–8 April 2026 di Ubaya Training Center, Trawas.

Mengusung konsep Gathering & Appreciation, momen ini menjadi ruang syukur atas perjalanan panjang pengabdian kami, sekaligus bentuk apresiasi bagi seluruh anggota yayasan yang telah bersama-sama merawat warisan pelayanan ini.

Kegiatan KKY kali ini diikuti oleh seluruh keluarga besar yayasan yang berjumlah 335 peserta. Kebersamaan ini mencakup para Konfrater CDD, Suster Pembina Asrama, Pendidik, serta Tenaga Kependidikan.

Tak ketinggalan, rekan-rekan Petugas Kebersihan dari sekolah dan kantor yayasan, serta seluruh unit pendukung mulai dari Poliklinik, Rumah Pembinaan Sawiran, hingga Kosayu Store juga turut serta.

Rombongan besar ini berangkat menuju Trawas menggunakan 7 bus serta armada elf panitia, membawa semangat persaudaraan yang satu.

Ibu Lidwina Utari, selaku Ketua Panitia KKY, menyampaikan bahwa rangkaian acara telah dirancang untuk mempererat keakraban.

Dimulai dengan Talk Show inspiratif bertajuk “Menghidupi Warisan Kosayu”, acara dilanjutkan dengan Panggung Gembira yang menampilkan kreativitas dari setiap unit.

Tidak ketinggalan, suasana santai dibangun melalui sesi Cangkrukan dan karaoke, serta kegiatan outbound yang penuh keseruan, hingga akhirnya seluruh rangkaian syukur ini dipuncaki dalam Misa Syukur bersama.

Ibu Maria Margaretha ASP, selaku Ketua Umum Panitia 75 Tahun, menekankan bahwa momentum “Pesta Intan” ini tidak boleh berlalu begitu saja.

Beliau menyampaikan bahwa diperlukan sebuah wadah untuk berhenti sejenak dari rutinitas, guna mensyukuri pencapaian bersama serta mempererat ikatan persaudaraan.

Lebih dari sekadar perayaan, momen ini adalah bentuk apresiasi terhadap loyalitas setiap pribadi yang telah menjadi “batu bata” penguat Yayasan Kolese Santo Yusup selama ini.

Inilah esensi sejati dari Kilau 75 Tahun: Semangat, Kebersamaan, dan Harapan.

Baca juga : Tanggung Jawab Merawat Ciptaan: Refleksi Perayaan Paskah 2026

Semua upaya ini bermuara pada satu titik utama, yaitu menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) yang tinggi di hati setiap orang.

Jiwa “Tetap Bersemangat” akan tumbuh subur dalam diri pendidik, tenaga kependidikan, maupun para murid, ketika mereka merasa benar-benar dihargai dan dilibatkan secara tulus untuk merawat sekolah kita tercinta.

Di sinilah letak pentingnya merawat kesejahteraan batin para pendidik dan tenaga kependidikan.

Kita diingatkan kembali bahwa kehadiran kita bukan sekadar untuk mengelola administrasi, melainkan untuk merawat manusia melalui keteladanan nyata kepada rekan kerja dan para murid.

Semangat pelayanan ini membawa ingatan kita pada pesan mendalam dalam Injil Yohanes 13:14-15, saat Yesus membasuh kaki para murid-Nya.

Melalui tindakan-Nya, keteladanan bukan lagi soal menjadi sosok sempurna yang hanya memberi perintah, melainkan tentang kerendahan hati untuk “membasuh kaki” dan keberanian untuk berbuat baik terlebih dahulu sebelum menuntut orang lain.

Tantangan keteladanan ini menjadi semakin kompleks saat kita melangkah masuk ke era digital.

Murid-murid zaman sekarang memiliki “radar” yang sangat tajam terhadap inkonsistensi. Di mata mereka yang semakin jeli, pendidik bukan lagi sekadar sumber informasi, melainkan model kehidupan nyata.

Mereka tidak lagi hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi dengan cermat mengamati apa yang kita lakukan. Pada akhirnya, mereka belajar lebih banyak dari “siapa kita” dibandingkan sekadar “apa yang kita ajarkan.”

Tetap Bersemangat! Dan Proficiat atas 75 Tahun Hua Ind yang terus mengabdi demi kemuliaan dunia pendidikan. 

5 2 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments