Bagaimana Guru Menghabisi Ilmu Pendidikan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Kemarin saya membaca sebuah opini yang sangat bagus di Kompas. Judulnya “Ilmu Pendidikan di Ujung Senja” yang ditulis oleh Prof Hafid Abbas di Kompas. Sedih rasanya membaca tulisan itu.

Tulisan itu banyak menyoroti tentang peran LPTK yang berubah dari IKIP ke Universitas dengan banyak jurusan. Yang terkesan fokus utamanya tidak lagi tentang pendidikan. Tentu masalah pendidikan tidak hanya dikarenakan hal tersebut.

Di kesempatan ini  sebagai guru, saya akan melakukan otokritik bagaimana kami, guru-guru juga berperan dalam menghabisi ilmu pendidikan.

Semua tentu berawal dari kelas kami. Tempat di mana seharusnya guru tidak hanya mengajar tapi juga belajar. Di mana seharusnya banyak perubahan terjadi. Tapi di tempat itulah awal mula ilmu pendidikan dihabisi.

Tahun demi tahun guru nyaris tidak mengubah cara mereka mengajar. Prinsip yang sering digunakan masih sama, “Saya mengajar sebagaimana saya dulu diajar”. Keberhasilan guru menuntut ilmu dijadikan patokan bagaimana murid yang ada di depannya saat ini diajar.

Di tempat inilah ilmu pendidikan yang dipelajari selama kurang lebih 4 tahun justru nyaris tak terlihat. Semua teori-teori belajar yang dulu dipelajari dengan susah payah pada akhirnya menguap begitu saja.

Baca juga : Pemerintah Kota Tangerang Selatan Perlu Merumuskan Program Pengembangan Pendidikan Lebih Jelas

Pada akhirnya guru mengikuti pola pengajaran yang sama: memberikan ceramah, latihan soal, lalu ujian. Pola inilah yang dialami 12 tahun selama mereka sekolah. Pola ini menjadi tradisi yang haram dianggap salah.

Di bangku kuliah maupun di ruang pelatihan, guru belajar bahwa hukuman dan kekerasan tidak efektif mendidik murid. Di ruang kelas guru justru sering memberikan hukuman baik fisik atau verbal dengan dalih proses pendidikan.

Guru banyak belajar bahwa motivasi murid untuk belajar tidak pernah disebabkan oleh ujian. Anehnya guru-guru banyak yang lebih mendukung ujian semacam UN diselenggarakan. Lalu ketika semua tindakan guru bertentangan dengan semua teori yang mereka pelajari dengan entengnya mereka mengeluarkan sabdanya, “ah cuma teori”

Yang tidak banyak disadari, berawal dari sabda itulah pada akhirnya guru mulai meninggalkan ilmu pendidikan. Ketika mereka semakin percaya pada praktik yang mereka lakukan meskipun salah, dan keberhasilan yang seringkali hanyalah over claim semata.

Pada saat itulah akhirnya tidak lagi dapat dibedakan mana guru yang pernah belajar ilmu pendidikan dan mana yang tidak. Dari titik inilah ilmu pendidikan mulai dianggap sebelah mata, sehingga banyak orang mulai merasa jadi guru itu mudah.

Ketika profesi guru dianggap mudah, maka tentu profesi itu menjadi murah. Ketika profesi dokter harus lahir dari orang yang belajar ilmu kedokteran, profesi hakim harus lahir dari mereka yang belajar hukum, lucunya untuk menjadi guru tidak harus dari mereka yang belajar ilmu pendidikan.

Baca juga : Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat Mencabut Izin Operasional SMK IDN Bogor

Inilah yang menjadi penyebab banyak yang menjadikan guru sebagai opsi karir cadangan, “kalau susah cari kerja, daripada nganggur, jadi guru saja, gampang masuknya”.

Ketika stok guru melimpah, maka berlakulah hukum ekonomi supply and demand. Profesi guru menjadi bernilai murah. Tak peduli guru itu pelita, pahlawan atau hegemoni lainnya. Selama profesi guru mudah dimasuki siapa saja, maka penawaran tenaga kerja guru terus meningkat.

Sementara di sisi lain permintaan tetap, sehingga yang terjadi adalah “turun harga”. Coba lihat saja di sekitar kita. Lowongan guru yang gajinya hanya 1 juta per bulan bisa diserbu puluhan bahkan ratusan pendaftar.

Jadi, jika saat ini profesi guru nyaris tidak ada harganya, semata-mata bukan salah sistem atau peraturan yang dibuat pemerintah. Melainkan juga ada andil dari guru sendiri yang meninggalkan ilmu pendidikan.

Padahal ilmu pendidikan tidak dibangun dalam satu malam. Ia adalah rentetan panjang hasil dari banyak eksperimen dan penelitian. Dari sanalah ilmu pengetahuan dan teori-teori itu dilahirkan.

Kalau guru sebagai seorang pendidik menafikkan ilmu pendidikan, lalu siapa lagi yang akan menghargainya? 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Bagaimana Guru Menghabisi Ilmu Pendidikan […]