Depoedu.com-Beberapa minggu ini, saya mengisi waktu Ramadhan dengan menonton video ringkasan alur cerita film yang ada di YouTube. Menyenangkan karena tidak perlu usaha seperti bayar sewa Netflix atau nyari link download yang sekarang makin ribet.
Film yang durasinya 2 jam bisa disingkat menjadi hanya 30 menit. Saya juga tidak perlu susah payah memahami filmnya, sebab si pencerita sudah menjelaskan sedetail mungkin.
Semula terasa baik-baik saja sampai saya menyadari ada yang salah. Kesadaran itu muncul saat saya menonton film sungguhan (bukan ringkasan). Ada yang aneh. Saya menjadi begitu malas mengikuti cerita dalam film.
Otak saya terasa pasif, enggan berpikir, dan kehilangan rasa penasaran. Saya coba ganti film lain dan rasanya sama. Saya mulai kehilangan keseruan menonton film.
Kegelisahan itu membawa saya teringat kata-kata Paul Lockhart dalam bukunya yang terkenal The Mathematician’s Lament. Menurutnya, kelas matematika kitalah yang membunuh keseruan dalam matematika dan menghilangkan rasa penasaran dalam diri murid.
Saya coba renungkan, apa yang sebenarnya terjadi di kelas kita sampai matematika terasa tidak menarik bagi banyak murid?
Baca juga : Gelora Imlek 2026 di Sekolah Santo Yosef Lahat, Kobarkan Energi Dinamis dan Keberanian
Saya menduga mungkin salah satunya karena pembahasan soal yang sering kita lakukan. Kelas matematika kita biasanya penuh dengan latihan soal lalu diakhiri dengan pembahasan soal oleh guru yang sering kali dilakukan secara klasikal.
Hal ini dilakukan dengan tujuan sekaligus mengoreksi jawaban murid. Di sini saya mulai melihat sisi gelap pembahasan soal yang sering dilakukan guru matematika.
Sebagaimana menonton ringkasan alur cerita film, pembahasan soal membuat otak murid cenderung pasif. Mereka memilih menunggu bagaimana solusi dari soal nantinya akan dijelaskan oleh guru. Akibatnya murid tidak mengeluarkan potensi terbaiknya sehingga mengerjakan soal sekadarnya.
Saat menonton ringkasan alur cerita film, kita disodori pemahaman versi si pencerita. Kita tidak benar-benar mendapatkan pemahaman kita sendiri atas film itu.
Inilah yang disebut ilusi pemahaman. Dalam pembahasan soal, yang dipahami murid adalah pemikiran guru terhadap soal matematika, bukan pemahaman mereka sendiri.
Baca juga : Perayaan Imlek di SMA Tarakanita Gading Serpong Padukan Aksi Lingkungan, Budaya dan Teater Edukatif
Ringkasan alur cerita film juga meminimalisir kita dari kebingungan. Sebab si pencerita menjelaskan semuanya sejak awal.
Begitu juga pembahasan soal mencegah murid untuk kebingungan sering kali menghindarkan murid dari kebingungan (konflik kognitif), padahal fase stuck ini penting dilalui saat bermatematika sampai akhirnya murid menemukan momen “aha”-nya.
Ringkasan alur cerita film seringkali menceritakan semuanya di depan dalam durasi pendek. Akibatnya kita tidak sempat mengalami rasa ingin tahu.
Dalam bermatematika, pembahasan soal yang dilakukan guru sering kali membunuh rasa penasaran murid. Jawaban yang terlalu cepat diberikan membuat murid kehilangan hasrat untuk mencari tahu.
Durasi ringkasan alur cerita film memaksa penonton memakan semua plot cerita yang seharusnya dinikmati perlahan. Pembahasan soal yang dilakukan guru tidak memberikan waktu pada murid untuk memahami matematika secara utuh.
Padahal seharusnya murid mendapatkan scaffolding (bantuan bertahap), bukan jawaban yang diberikan langsung oleh guru.

[…] Baca juga : Sisi Gelap Pembahasan Soal Matematika […]