Waspada DBD Agar Tidak Lagi Ada Korban

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Sore hari ini, sebuah pesan singkat dari istri tercinta benar mengubah suasana hati. Seorang teman sekelas anak kami berpulang. Penyebabnya: Demam Berdarah Dengue (DBD).

Nama itu bukan nama asing. DBD sering kita dengar, sering kita anggap remeh, hingga suatu hari DBD benar-benar mengambil seseorang yang kita kenal, seseorang yang dekat dengan kita.

Tulisan ini adalah penghormatan bagi almarhum, sekaligus pengingat bagi kita semua: DBD bukan cerita lama yang sudah selesai. Ia masih nyata, masih dekat, dan masih berbahaya.

Data Kementerian Kesehatan RI mencatat sepanjang Januari hingga Oktober 2025 terdapat 131.393 kasus DBD di Indonesia, dengan 544 kematian (Media Indonesia, 24/11/2025). 

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada keluarga yang kehilangan, anak-anak yang tak sempat tumbuh dewasa, dan luka yang tertinggal lama.

Tingginya kasus, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa, menunjukkan satu hal penting: kita belum cukup waspada. DBD memang terasa “biasa” karena sering muncul, tetapi justru di situlah bahayanya.

Bagian Mana yang Harus Benar-benar Kita Waspadai?

DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini berbeda dengan nyamuk malam yang biasa mengganggu tidur. 

Aedes aktif pagi hingga sore hari, terutama sekitar pukul 08.00–10.00 dan 15.00–17.00. Artinya, risiko penularan justru tinggi saat anak-anak bersekolah atau saat kita beraktivitas di rumah.

Nyamuk dengue menyukai air bersih yang tergenang: bak mandi, ember, talang air, pot tanaman, bahkan tutup botol yang menampung air hujan. Ia berkembang biak cepat, diam-diam, tanpa suara.

Baca juga : Mengapresiasi Tugas Berat Para Guru TK

Gejala awal DBD sering menyerupai flu biasa: demam tinggi mendadak (hingga 39–40° C), sakit kepala dan nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, nafsu makan menurun, dan kadang muncul bintik merah pada kulit.

Masalahnya, banyak orang berhenti waspada di sini. Demam turun dianggap tanda sembuh. Padahal, pada DBD, turunnya demam justru bisa menandai fase paling berbahaya.

Masa Kritis: Saat yang Sering Terlewatkan

DBD memiliki fase yang khas: fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan. Masa kritis biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-7 sejak demam pertama, sering kali bertepatan dengan saat suhu tubuh mulai turun.

Di fase inilah pembuluh darah bisa menjadi bocor, menyebabkan cairan plasma keluar ke jaringan. Akibatnya, volume darah menurun dan bisa berujung pada syok dengue, kondisi yang mengancam nyawa.

Gejala masa kritis yang harus benar-benar kita amati antara lain: nyeri perut hebat atau perut terasa kembung, muntah terus-menerus, perdarahan (mimisan, gusi berdarah, muntah darah, BAB hitam).
Gejala lain yang juga dirasakan: lemas luar biasa, gelisah, atau mengantuk berlebihan, tangan dan kaki dingin dan jumlah urin berkurang drastis

Di titik ini, menunggu bukan pilihan. Pasien harus segera mendapatkan perawatan medis. Pemantauan ketat trombosit, hematokrit, dan keseimbangan cairan sangat penting. 

Banyak korban DBD jatuh bukan karena terlambat mengetahui penyakitnya, tetapi karena terlambat menyadari masa kritisnya.

Apa yang Harus Kita Lakukan Saat Orang-orang Terdekat Kita Mengalami DBD?

Saat anggota keluarga terdiagnosis DBD, peran keluarga menjadi sangat krusial. Tidak ada obat khusus untuk membunuh virus dengue, sehingga perawatan bersifat suportif dan bertujuan mencegah komplikasi.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan:

  1. Pastikan asupan cairan cukup. Air putih, oralit, jus buah (terutama jambu biji), dan sup membantu mencegah dehidrasi.
  2. Pantau suhu dan gejala secara rutin. Catat demam, muntah, nyeri perut, serta jumlah urin.
  3. Ikuti anjuran dokter sepenuhnya. Jangan tergoda obat bebas yang menjanjikan “trombosit naik cepat”.
  4. Hindari obat pereda nyeri tertentu seperti aspirin atau ibuprofen karena dapat meningkatkan risiko perdarahan. Gunakan parasetamol sesuai dosis.
  5. Berikan istirahat cukup dan lingkungan yang nyaman, bebas dari gigitan nyamuk agar tidak menularkan virus ke orang lain.
  6. Jangan panik, tapi jangan lengah. Kombinasi tenang dan waspada adalah kunci. Kehadiran keluarga —menemani, mengawasi, dan mengambil keputusan cepat— seringkali menjadi faktor penentu keselamatan pasien.

Baca juga : 10 Program Studi yang Ketinggalan Zaman dan 7 Program Studi yang Perlu Dipertimbangkan Menurut Harvard

Sebagai Bagian dari Masyarakat, Apa yang Bisa Kita Kontribusikan?

DBD bukan hanya urusan individu atau keluarga. Ia adalah masalah lingkungan dan perilaku kolektif. Satu rumah yang lalai bisa berdampak pada satu RT, satu sekolah, bahkan satu desa.

Sebagai pribadi, kita bisa:

  • Melakukan 3M Plus: Menguras, Menutup, Mendaur ulang, serta menggunakan kelambu, lotion anti nyamuk, dan menjaga kebersihan lingkungan.
  • Memeriksa tempat-tempat kecil yang sering luput: tatakan dispenser, pot tanaman, talang air.
  • Mengedukasi anak-anak tentang bahaya nyamuk dan kebiasaan hidup bersih.

Sebagai bagian dari masyarakat, kita bisa:

  • Aktif dalam kerja bakti dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
  • Melaporkan kasus DBD agar dilakukan penyelidikan epidemiologi.
  • Mendorong sekolah, tempat ibadah, dan fasilitas umum menjaga kebersihan lingkungan.
  • Tidak menyepelekan satu kasus, karena satu kasus sering menjadi penanda banyak kasus lain yang belum terdeteksi.

Waspada DBD bukan Berarti Takut, Tetapi Peduli

Kehilangan seorang anak karena DBD adalah luka yang tak akan pernah sepenuhnya sembuh. Namun dari duka itu, kita bisa belajar dan bertindak. Waspada bukan berarti takut, tetapi peduli.

DBD tidak memilih korban. Ia bisa datang ke rumah siapa saja, ke kelas mana saja. Dengan pengetahuan, kepekaan terhadap masa kritis, dan kerja bersama sebagai keluarga dan masyarakat, kita bisa menekan risikonya.

Semoga tidak ada lagi kabar duka yang datang diam-diam. Semoga kewaspadaan kita hari ini menjadi pelindung bagi anak-anak esok hari. 

Foto: Jawa Pos

Tulisan ini pernah tayang di eposdigi.com, ditayangkan kembali dengan seizin penulis.

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Waspada DBD Agar Tidak Lagi Ada Korban […]

trackback

[…] Baca juga : Waspada DBD Agar Tidak Lagi Ada Korban […]