Indeks Pembangunan Manusia Kota Tangerang Selatan dan Langkah Anomali Birokrasi Pemerintah

DEPO Peduli
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Salah satu indikator untuk menilai keberhasilan pembangunan di suatu negara atau daerah adalah capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) negara atau daerah tersebut. IPM adalah ukuran menyeluruh untuk menilai kesejahteraan manusia sebagai hasil dari pelaksanaan program pembangunan.  

IPM pertama kali dikembangkan tahun 1990 oleh Amartya Sen seorang Ekonom pemenang nobel ekonomi dari India dan Mahbub ul Haq seorang Ekonom Pakistan. Indeks ini kemudian digunakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk menggantikan model sebelumnya yang hanya berfokus pada pendapatan perkapita dan bukan pembangunan manusianya. 

IPM mencakup tiga dimensi utama yakni pertama, bagaimana pembangunan berhasil mengupayakan warga hidup sehat dan umur lebih panjang. Ini disimpulkan dari angka harapan hidup saat lahir, warga hidup lebih sehat dan harapan hidup lebih lama atau usia lebih panjang. 

Kedua,  bagaimana pembangunan di bidang pendidikan membuka akses lebih luas bagi warga untuk mengakses pengetahuan yang diukur melalui dua indikator yakni rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah yang menggambarkan terbukanya akses pendidikan dan kualitas pendidikan.  

Ketiga, bagaimana pembangunan berhasil mendorong peningkatan standar hidup layak yang diukur melalui pendapatan nasional bruto per kapita  atau pengeluaran perkapita. Capaian ini  menunjukkan kemampuan warga memenuhi kebutuhan dasar dan menikmati hidup lebih layak. 

Perlu ditegaskan bahwa capaian IPM suatu daerah tidak selalu mencerminkan capaian kinerja birokrasi pemerintah pada daerah tersebut semata-mata, melainkan juga merupakan prestasi swasta, bahkan merupakan prestasi karena peran serta warga masyarakat yang mendiami wilayah tersebut.  

IPM Kota Tangerang Selatan

IPM Kota Tangerang Selatan tahun 2024 mencapai 84,16 persen. Capaian ini menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan capaian tahun 2023 yang berada pada poin 83,57 persen. Dengan capaian ini Tangerang Selatan masuk kategori sangat tinggi, melampaui rata-rata nasional yang hanya mencapai 75,02 persen. 

Baca juga : Lanjutan Tulisan Tentang Bagaimana Membentuk Rasa Percaya Diri Pada Anak

Peningkatan IPM Kota Tangerang Selatan ini didukung oleh peningkatan standar hidup layak yakni peningkatan pengeluaran riil perkapita pertahun dari Rp. 16.225.000 pada tahun 2023 menjadi Rp. 17.028.000 pada tahun 2024. Juga terjadi peningkatan di bidang pendidikan dan kesehatan. 

Di bidang pendidikan, rata-rata lama sekolah meningkat dari 11,85 tahun menjadi 11,86 tahun dan harapan lama sekolah meningkat dari 14,68 menjadi 14,70 tahun. Ini berarti rata-rata orang Tangerang Selatan masih bersekolah sampai SMP dan berharap untuk melanjutkan pendidikan sampai sekolah Menengah Atas.  

Sedangkan di bidang kesehatan, harapan hidup dari 75,64 tahun menjadi 75,80 tahun. Ini terjadi karena terjadi perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Kota Tangerang Selatan.  

Meskipun demikian capaian Kota Tangerang Selatan masih berada di bawah capaian Kota Yogyakarta yakni mencapai 87,18. Itu berarti Kota Tangerang Selatan berada di urutan kedua secara nasional. Sedangkan Kabupaten Sleman di DI Yogyakarta berada di urutan ketiga.

Data ini menunjukkan bahwa Kota Tangerang Selatan masih berada di atas lima wilayah di  DKI Jakarta seperti Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Utara yang masing-masing mencapai 81,90/ 82,97/ 81,76/ 81,56/ 80,51.

Kota di Pulau Jawa yang mendekati capaian Kota Tangerang Selatan adalah Kota Salatiga dan Kota Semarang dengan capaian masing-masing 83,60 dan 83,55. Capaian kota di Jawa yang lain seperti Kota Bandung dan Kota Surabaya masing-masing mencapai 81,96 dan 82,31 persen, bahkan lebih rendah dari capaian kota Salatiga dan Kota Semarang. 

Langkah Anomali Pemerintah

Paparan data ini menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Namun seperti ditegaskan di atas bahwa capaian ini bukan sepenuhnya merupakan capaian pemerintah semata-mata. Di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, peran swasta masih dominan. Banyak langkah anomali dari pemerintah  yang membuat birokrasi tidak efektif.  

Baca juga : SMA Tarakanita 2 Jakarta, Gelar Latihan Kepemimpinan untuk Pengurus OSIS Baru

Di bidang ekonomi, izin usaha masih belum efisien, masih banyak pungutan yang membebani swasta. Meskipun sudah ada izin usaha melalui satu pintu, tetapi untuk mendapatkan izin usaha masih memerlukan berbagai rekomendasi dari berbagai instansi yang harus diurus sendiri, dan masing-masing memerlukan biaya yang tidak sedikit. 

Di bidang pendidikan, sekolah swasta belum diproteksi dengan baik. Ini terlihat pada saat pendaftaran peserta didik baru. Dalam menetapkan kuota penerimaan peserta didik baru sekolah negeri, pemerintah belum melibatkan sekolah swasta. Padahal masa depan banyak sekolah swasta bergantung pada peserta didik baru setiap tahun. 

Bagi masyarakat menengah bawah dan masyarakat bawah, pungutan tidak resmi pada saat pendaftaran peserta didik baru di sekolah-sekolah negeri, masih memberatkan mereka. Setelah mereka masuk, banyak pungutan dengan berbagai alasan di sekolah-sekolah negeri, padahal setiap pemilu, calon kepala daerah selalu mengkampanyekan pendidikan gratis.

Di bidang kesehatan, banyak lini pelayanan masyarakat masih perlu diperbaiki. Warga masyarakat yang sakit seringkali harus menunggu berjam-jam untuk mendapat pelayanan yang hanya berlangsung 5 sampai 10 menit. Bahkan kadang-kadang pelayanan perlu dijeda hanya karena petugasnya perlu istirahat. 

Di seluruh Kota Tangerang Selatan, pemerintah memang telah menyediakan 26 Puskesmas  non-rawat inap dan 9 puskesmas rawat inap. Namun pelayanan di puskesmas ini pada umumnya masih perlu diperbaiki. Para petugas perlu dilatih menjadi pelayan yang memahami komunikasi dan psikologi orang sakit, sehingga pasien terlayani dengan baik.      

Ini semua menunjukkan bahwa pemerintah masih perlu memperbaiki penyelenggaraan birokrasi pemerintahan yang berdampak pada efektivitas pelayanan pada masyarakat. Jika perbaikan tersebut dapat dilakukan, maka saya yakin akan terjadi peningkatan besar-besaran dalam IPM Kota Tangerang Selatan di masa depan. 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Indeks Pembangunan Manusia Kota Tangerang Selatan dan Langkah Anomali Birokrasi Pemerintah […]