Depoedu.com-Suasana SMA Regina Pacis Jakarta seketika berubah suasana dan semarak, suasana yang mampu menembus jiwa selama sepekan bulan Juli 2025, tepatnya 28 hingga 31 Juli.
Dua puluh satu siswi Fukuoka Kaisei Girls High School, Jepang, hadir dalam program Student Exchange, program yang tentunya mempertemukan dua budaya, berbeda bahasa, namun dalam satu ruang dengan rasa yang sama.
Kepala SMA Regina Pacis Jakarta, Yulius Gohang Maran dalam kesaksiannya menyebutkan bahwa program ini tak berjalan mulus dan sebelumnya ada keraguan sebelum program ini terlaksana.
“Awalnya sempat ragu dengan program student exchange ini. Alasan utamanya adalah perbedaan budaya, bahasa, dan tentu saja, tantangan dalam membagi anak-anak ke dalam keluarga asuh,” tuturnya jujur.
Ia juga mengaku bahwa dalam satu minggu mendekati program terlaksana, masih ada kendala yaitu belum semua siswi mendapat host family, tentu hal ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam.
Akan tetapi kepercayaannya akan penyelenggaraan Tuhan membuatnya semakin yakin bahwa semuanya pasti akan berjalan sesuai kehendakNya. “Dan puji Tuhan, semua rencana berjalan dengan baik dan lancar. Tidak hanya tawa, tapi juga air mata yang membawa rindu untuk kembali pulang,” tambahnya.
Nilai yang Tertanam, Pelajaran yang Hidup
Salah seorang guru yang juga adalah penanggung jawab program, Renaldi Dion, menyampaikan bahwa program ini bukan sekadar mempertemukan dua budaya yang berbeda tapi juga menyampaikan nilai-nilai nyata dari proses belajar.
“Saya sempat mengajar mereka dalam kelas Matematika, khususnya pada materi Probability, dan dari situ saya melihat langsung semangat belajar mereka yang patut diapresiasi. Mereka disiplin, kerapian dalam penampilan, serta rasa hormat yang tinggi terhadap lingkungan dan kepentingan bersama,” ungkapnya.
Ia juga tidak lupa menyampaikan apresiasi kepada para host family. Semua dukungan yang diberikan memberikan dampak yang begitu besar dalam program ini, mereka telah mengorbankan waktu dan tenaga untuk menerima para Siswi Jepang di rumah mereka.
“Dukungan dan keterlibatan kalian membuat program ini menjadi lebih bermakna dan berkesan, bukan hanya bagi para tamu tetapi juga bagi seluruh komunitas sekolah,” pungkasnya.
Belajar Menjadi Tuan Rumah
Menjadi seorang tuan rumah tentunya bukan hal yang mudah dilakukan, terlebih lagi tamu yang singgah memiliki banyak perbedaan, yang sangat mencolok adalah perbedaan bahasa, tetapi Fira Ananda Putri, siswi kelas 12 yang menjadi host bagi tiga siswi Jepang, mengaku sempat bingung karena terkendala bahasa.
Namun ia memiliki tekad yang kuat untuk mampu menerima para siswi Jepang secara hangat. “Tapi saya dan keluarga memutuskan untuk tetap mencoba,” katanya.
Ia mengajari siswi Jepang beberapa kosakata Bahasa Indonesia seperti “enak”, “mantul”, dan “apa kabar”, dan sebaliknya juga mempelajari budaya Jepang langsung dari sumbernya.
“Saya sangat senang dengan program ini karena bukan hanya menambah teman dari negara lain, tapi juga membuat diri saya berkembang,” ujarnya penuh semangat.
Pertemuan di Lapangan SMA yang Tak Terlupakan
Tidak hanya mereka yang terlibat secara langsung dalam program student exchange ini yang mendapat pengalaman berharga. Yessa Tania Kamalia, siswi kelas 12, merasa sangat terkesan saat berolahraga bersama para siswi Jepang.
“Kami memperkenalkan permainan seperti kasti dan tarik tambang. Meskipun mereka sudah mengenal permainan itu di Jepang, tapi mereka tetap menunjukkan antusiasme dan semangat yang luar biasa,” ungkapnya.
Yessa juga sempat menyadari bahwa hal ini merupakan pengalaman dan kesempatan tak ternilai yang boleh ia rasakan karena tidak semua orang bisa berolahraga bersama siswi-siswi Jepang secara nyata.
Menurut Yessa, kehadiran mereka membawa dampak dan menciptakan atmosfer yang baik bagi warga SMA Regina Pacis Jakarta. “Kami merasa dihargai. Mereka tidak hanya datang sebagai tamu, tapi juga sebagai teman yang hangat.”
Bahasa Tak Sama, Tapi Hati Bisa Menyatu
Tak lengkap rasanya jika tidak mendengar suara dari Ketua OSIS 2024/2025, Joshua Mosses, yang sekaligus menjadi MC dalam welcoming para siswi Kaisei Girls High School, menyampaikan kesannya dengan penuh semarak. Joshua Mosses menyampaikan bahwa suatu perbedaan bukan menjadi hal utama yang menghalangi untuk menjalin persahabatan.
“Selama acara kami tidak hanya menyambut secara formal, namun kami juga dapat bersenang-senang sebagai teman seumur, dan menurut saya bahasa bukanlah hambatan untuk kami berteman. Saya merasakan banyak sekali kenangan dan memori yang terjadi walau hanya bersama sekitar 3 hari. Ad Veritatem per Caritatem.” tutupnya.
Kesederhanaan yang Menyentuh Hati
Di balik seluruh kegiatan yang telah dijalani, kesan dan pesan tulus disampaikan oleh salah satu siswi Jepang, Ayane, semakin mengukir kenangan hangat bagi seluruh pihak sekolah.
“At my first overseas training, everyone talked to me a lot and helped me if there was something I didn’t understand, so I had a good time in class. I was most happy that we were able to get along very well even if we didn’t speak that language for a short three days. I look forward to seeing you again.”
Pertemuan singkat ini memang hanya berlangsung beberapa hari, tapi mampu melukiskan kisah perjalanan yang abadi, air mata jadi saksi perpisahan mereka. Dari ruang kelas sampai ruang makan, dari lapangan olahraga hingga kamar tidur.
Pertukaran pelajar, pertukaran budaya, hingga akhirnya menjadi pertukaran kisah. Setiap sudut selalu memiliki cerita menarik untuk mereka, untuk kami, untuk kita semua. Ukirlah cerita-cerita barumu, lalu pergilah kembali dan ceritakan kisahmu pada kami di sini.

Suasana SMA Regina Pacis Jakarta seketika berubah suasana dan semarak, suasana yang mampu menembus jiwa selama sepekan bulan Juli 2025, tepatnya 28 hingga 31 Juli.
Dua puluh satu siswi Fukuoka Kaisei Girls High School, Jepang, hadir dalam program Student Exchange, program yang tentunya mempertemukan dua budaya, berbeda bahasa, namun dalam satu ruang dengan rasa yang sama.
Kepala SMA Regina Pacis Jakarta, Yulius Gohang Maran dalam kesaksiannya menyebutkan bahwa program ini tak berjalan mulus dan sebelumnya ada keraguan sebelum program ini terlaksana.
“Awalnya sempat ragu dengan program student exchange ini. Alasan utamanya adalah perbedaan budaya, bahasa, dan tentu saja, tantangan dalam membagi anak-anak ke dalam keluarga asuh,” tuturnya jujur.
Ia juga mengaku bahwa dalam satu minggu mendekati program terlaksana, masih ada kendala yaitu belum semua siswi mendapat host family, tentu hal ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam.
Akan tetapi kepercayaannya akan penyelenggaraan Tuhan membuatnya semakin yakin bahwa semuanya pasti akan berjalan sesuai kehendakNya. “Dan puji Tuhan, semua rencana berjalan dengan baik dan lancar. Tidak hanya tawa, tapi juga air mata yang membawa rindu untuk kembali pulang,” tambahnya.
Nilai yang Tertanam, Pelajaran yang Hidup
Salah seorang guru yang juga adalah penanggung jawab program, Renaldi Dion, menyampaikan bahwa program ini bukan sekadar mempertemukan dua budaya yang berbeda tapi juga menyampaikan nilai-nilai nyata dari proses belajar.
“Saya sempat mengajar mereka dalam kelas Matematika, khususnya pada materi Probability, dan dari situ saya melihat langsung semangat belajar mereka yang patut diapresiasi. Mereka disiplin, kerapian dalam penampilan, serta rasa hormat yang tinggi terhadap lingkungan dan kepentingan bersama,” ungkapnya.
Ia juga tidak lupa menyampaikan apresiasi kepada para host family. Semua dukungan yang diberikan memberikan dampak yang begitu besar dalam program ini, mereka telah mengorbankan waktu dan tenaga untuk menerima para Siswi Jepang di rumah mereka.
“Dukungan dan keterlibatan kalian membuat program ini menjadi lebih bermakna dan berkesan, bukan hanya bagi para tamu tetapi juga bagi seluruh komunitas sekolah,” pungkasnya.
Belajar Menjadi Tuan Rumah
Menjadi seorang tuan rumah tentunya bukan hal yang mudah dilakukan, terlebih lagi tamu yang singgah memiliki banyak perbedaan, yang sangat mencolok adalah perbedaan bahasa, tetapi Fira Ananda Putri, siswi kelas 12 yang menjadi host bagi tiga siswi Jepang, mengaku sempat bingung karena terkendala bahasa.
Namun ia memiliki tekad yang kuat untuk mampu menerima para siswi Jepang secara hangat. “Tapi saya dan keluarga memutuskan untuk tetap mencoba,” katanya.
Baca juga : BNN Sosialisasikan Bahaya Narkoba di SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya: Edukasi Dini Bentengi Generasi Muda
Ia mengajari siswi Jepang beberapa kosakata Bahasa Indonesia seperti “enak”, “mantul”, dan “apa kabar”, dan sebaliknya juga mempelajari budaya Jepang langsung dari sumbernya.
“Saya sangat senang dengan program ini karena bukan hanya menambah teman dari negara lain, tapi juga membuat diri saya berkembang,” ujarnya penuh semangat.
Pertemuan di Lapangan SMA yang Tak Terlupakan
Tidak hanya mereka yang terlibat secara langsung dalam program student exchange ini yang mendapat pengalaman berharga. Yessa Tania Kamalia, siswi kelas 12, merasa sangat terkesan saat berolahraga bersama para siswi Jepang.
“Kami memperkenalkan permainan seperti kasti dan tarik tambang. Meskipun mereka sudah mengenal permainan itu di Jepang, tapi mereka tetap menunjukkan antusiasme dan semangat yang luar biasa,” ungkapnya.
Yessa juga sempat menyadari bahwa hal ini merupakan pengalaman dan kesempatan tak ternilai yang boleh ia rasakan karena tidak semua orang bisa berolahraga bersama siswi-siswi Jepang secara nyata.
Menurut Yessa, kehadiran mereka membawa dampak dan menciptakan atmosfer yang baik bagi warga SMA Regina Pacis Jakarta. “Kami merasa dihargai. Mereka tidak hanya datang sebagai tamu, tapi juga sebagai teman yang hangat.”
Bahasa Tak Sama, Tapi Hati Bisa Menyatu
Tak lengkap rasanya jika tidak mendengar suara dari Ketua OSIS 2024/2025, Joshua Mosses, yang sekaligus menjadi MC dalam welcoming para siswi Kaisei Girls High School, menyampaikan kesannya dengan penuh semarak. Joshua Mosses menyampaikan bahwa suatu perbedaan bukan menjadi hal utama yang menghalangi untuk menjalin persahabatan.
“Selama acara kami tidak hanya menyambut secara formal, namun kami juga dapat bersenang-senang sebagai teman seumur, dan menurut saya bahasa bukanlah hambatan untuk kami berteman. Saya merasakan banyak sekali kenangan dan memori yang terjadi walau hanya bersama sekitar 3 hari. Ad Veritatem per Caritatem.” tutupnya.
Kesederhanaan yang Menyentuh Hati
Di balik seluruh kegiatan yang telah dijalani, kesan dan pesan tulus disampaikan oleh salah satu siswi Jepang, Ayane, semakin mengukir kenangan hangat bagi seluruh pihak sekolah.
“At my first overseas training, everyone talked to me a lot and helped me if there was something I didn’t understand, so I had a good time in class. I was most happy that we were able to get along very well even if we didn’t speak that language for a short three days. I look forward to seeing you again.”
Pertemuan singkat ini memang hanya berlangsung beberapa hari, tapi mampu melukiskan kisah perjalanan yang abadi, air mata jadi saksi perpisahan mereka. Dari ruang kelas sampai ruang makan, dari lapangan olahraga hingga kamar tidur.
Pertukaran pelajar, pertukaran budaya, hingga akhirnya menjadi pertukaran kisah. Setiap sudut selalu memiliki cerita menarik untuk mereka, untuk kami, untuk kita semua. Ukirlah cerita-cerita barumu, lalu pergilah kembali dan ceritakan kisahmu pada kami di sini.
