Mengapa Sekolah Kita Belum Kembangkan Kecerdasan Finansial Peserta Didik?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Di era serba digital, segala kemudahan seperti tersedia di ujung jari. Asal ada uang, segala yang diinginkan bisa dengan mudah terwujud. Banyak orang bahkan memaksa diri memenuhi semua keinginan, meskipun secara real ada keterbatasan finansial. Orang menjadi sangat konsumtif. 

Situasi ini dipermudah oleh ketersediaan mekanisme ekonomi seperti pinjaman online di satu pihak dan godaan untuk menjadi seperti yang mereka lihat di media sosial di pihak lain, membuat keinginan dan hasrat untuk memenuhi seperti terus bermunculan. Dengan bantuan seperti pinjaman online, keinginan untuk sementara dapat terpenuhi semuanya. 

Namun situasi ini merupakan jebakan yang tidak hanya menghambat, melainkan juga merusak upaya untuk meraih hidup di masa depan yang lebih baik. Biasanya orang baru sadar ketika pendapatannya ternyata sudah habis untuk membayar hutang, karena menuruti  keinginan, padahal tuntutan kebutuhan yang lebih mendesak juga menunggu dipenuhi.

Di titik ini hidup menjadi sangat berat karena berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama sulit. Mau bayar hutang, atau bisa makan. Untuk tetap bertahan hidup, biasanya orang pinjam lagi, sehingga penghasilan yang diperoleh dari bekerja habis untuk bayar hutang. 

Baca juga : Dampak Buruk Brain Rot pada Kesehatan Mental Anak dan Remaja

Bagaimana  dapat meraih hidup bahagia ketika terjebak dalam situasi hidup seperti ini? Dan situasi ini juga dialami justru oleh orang yang terdidik. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Jawabannya karena sekolah kita terlalu akademis. Sekolah yang akademis adalah sekolah yang lebih menyiapkan peserta didik untuk ujian, bukan untuk hidup bahagia. 

Sejak dari Sekolah Dasar (SD), peserta didik kita belajar ekonomi agar dapat menjawab pertanyaan ujian mata pelajaran ekonomi, bukan supaya peserta didik memiliki kecerdasan finansial. Di pelajaran ekonomi peserta didik belajar topik  kebutuhan dan keinginan, tetapi dianggap telah mencapai tujuan ketika sudah mendefinisikan kebutuhan dan keinginan. 

Mereka tidak dilatih lebih lanjut untuk mengenali kebutuhan, belajar memenuhi kebutuhan sesuai dengan kemampuan. Belajar mengutamakan kebutuhan daripada keinginan.  Mereka juga tidak dilatih mengenali keinginan, berlatih mengendalikan keinginan. Padahal sesungguhnya latihan-latihan tersebut dapat dilakukan bahkan sejak dari SD. 

Peserta didik harusnya juga sejak dini dapat dilatih mengelola keuangan dan menabung. Uang itu dikelola, bukan dihabiskan. Di beberapa sekolah anak diwajibkan menabung namun guru sebagai pengelola tidak menangkap visi pendidikan kecerdasan finansialnya. Bahkan tabungan ratusan juta malah dipinjam dan tidak dikembalikan oleh oknum kepala sekolah. 

Baca juga : Pendidikan Holistik dan Pelajaran Olahraga dalam Kurikulum Indonesia dan China

Pendidikan kecerdasan finansial juga tidak terjadi di keluarga. Bahkan pada banyak keluarga, karena ketiadaan pendidikan finansial sebelumnya, banyak orang tua menjadi model yang buruk dalam mengelola keuangan keluarga, sebagaimana digambarkan pada bagian sebelumnya. 

Menurut saya situasi ini harus diperbaiki pemerintah. Di antaranya sekolah harus dijadikan arena untuk menyiapkan peserta didik untuk hidup, bukan sekedar menyiapkan peserta didik untuk menghadapi ujian. Dengan kata lain, sekolah yang akademis harus segera diakhiri. 

Di antaranya sangat mendesak, sekolah perlu kembangkan kecerdasan finansial pada peserta didik.

Foto: Pintar

5 3 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments