Depoedu.com-Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Jakarta, ada pengalaman yang lebih bermakna daripada sekadar deretan teori di kelas. Sebuah perjalanan belajar yang menyentuh hati dan mengajarkan arti kehidupan sejati.
Itulah yang dialami oleh siswa kelas 11 SMA Regina Pacis Jakarta ketika mereka menjalani program live in di Dukuh Serut, Desa Kebon, Bayat, Klaten, pada 18-21 Februari 2025.
Empat hari yang diharapkan mampu mengubah cara pandang mereka tentang hidup, kesederhanaan, dan kebersamaan.
Rabu 19 Februari 2025, rombongan siswa tiba di Dusun Serut pada pukul 04.00 subuh setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta menggunakan Bus Trans Nusa.
Dengan mata yang masih berat karena perjalanan malam, mereka disambut dengan kehangatan oleh tim Ananta Tour dan warga setempat yang telah menunggu di base camp Dukuh Serut.
Rasa lelah pun seketika tergantikan oleh antusiasme, terutama saat mereka mulai mengenal lingkungan sekitar yang akan menjadi rumah mereka selama beberapa hari ke depan.
Kegiatan live in ini merupakan hasil kerja sama antara SMA Regina Pacis Jakarta dan PT Ananta Tour, yang telah menyiapkan seluruh aspek logistik dan akomodasi selama kegiatan berlangsung.
Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam bagi para siswa, bukan hanya secara akademik, tetapi juga dalam membangun keterampilan sosial, komunikasi, dan empati.
Melalui interaksi langsung dengan masyarakat desa, mereka diharapkan dapat memahami realitas kehidupan yang jauh berbeda dari keseharian mereka di kota besar.
Baca juga : Yayasan Tarakanita Surabaya Gelar Aksi Peduli Lingkungan di Hari Peduli Sampah Nasional
Melangkah Keluar dari Zona Nyaman
Tinggal bersama warga di pedesaan bukan sekadar pengalaman biasa. Para siswa yang terbiasa dengan kenyamanan perkotaan harus belajar beradaptasi dengan pola hidup masyarakat desa yang lebih sederhana.
Mereka tinggal di rumah-rumah warga, di kamar sederhana, serta membantu pekerjaan rumah. Beragam kegiatan telah disiapkan, mulai dari membuat batik jumputan, praktik gamelan, latihan tari kolosal, bercocok tanam, membuat kerupuk gendar.
Kegiatan lain yang mereka lakukan adalah bermain sepak bola dengan siswa lokal, mengajar di SD Negeri 1 Kebon, praktek batik tulis, merangkai janur, hingga perayaan syukur Misa Kudus di hari terakhir nanti.
Tidak ada teknologi canggih atau kemewahan, yang ada hanya interaksi tulus dan pengalaman belajar langsung dari kehidupan sehari-hari. Bagi Davito, siswa kelas XI Antonius, pengalaman live in ini memberikan kesenangan tersendiri sekaligus melatih kemandirian.
“Kita belajar untuk lebih mengandalkan diri sendiri, serta menghargai nilai-nilai kesederhanaan dalam hidup. Selain itu, program ini juga mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, seperti yang diajarkan oleh Santo Fransiskus Asisi,” ujarnya.
Sementara itu, Mattew dari kelas XI Elizabeth mengungkapkan bahwa program ini memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga.
“Live in ini mengajarkan saya banyak hal dalam kehidupan, membuat saya lebih mandiri dan bertanggung jawab. Saya merasa senang dapat mengikuti kegiatan ini karena saya bisa membuat kenangan bersama teman-teman. Saya juga lebih memahami bagaimana kehidupan di desa berlangsung.”
Baca juga : Menjalani Bulan Ramadhan yang Lebih Bermakna dan Menumbuhkan
Meneladani Fransiskus Asisi: Kesederhanaan yang Menyentuh Hati
Program live in ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk meneladani semangat Santo Fransiskus Asisi, seorang tokoh yang hidup dalam kesederhanaan dan mencintai semua ciptaan Tuhan. Hidup bersama warga desa membuat mereka memahami makna dari kepedulian, kasih, dan kerendahan hati.
Dalam kehidupan desa, mereka melihat bagaimana masyarakat berbagi dengan penuh kasih, saling membantu tanpa pamrih, dan selalu bersyukur atas hal-hal kecil dalam hidup.
Nilai-nilai ini begitu kontras dengan kehidupan kota yang serba cepat dan individualistis. Fransiskus Asisi mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah harta benda, melainkan kedamaian hati. Karena kebahagiaan bisa ditemukan dalam kesederhanaan.
Divya, salah satu peserta dari kelas XI Elizabeth, mengungkapkan bahwa live in ini benar-benar membuka wawasan baru. “Live in adalah suatu kegiatan yang menambah pengalaman yang bermanfaat dalam membentuk pribadi siswa menjadi karakter yang lebih unggul,” katanya.
“Dari kegiatan ini, kami dapat mengimplementasikan nilai-nilai CHIPS dalam kehidupan sederhana yang pada awalnya terasa asing bagi kami. Tujuannya adalah mendidik siswa agar lebih mandiri, tangguh, dan menghargai keadaan di sekitarnya,” lanjut Divya.
“Selain itu, bagi kami, Live in ini juga membawakan sejuta kenangan yang diisi dengan pengalaman edukatif tanpa menghilangkan keseruan dari kebersamaan melalui pembelajaran praktik nyata.” kata Divya lagi.
Kegiatan ini menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan pendidikan para siswa. Tidak hanya sebagai sarana pembelajaran di luar kelas, tetapi juga sebagai pengalaman hidup yang membentuk karakter mereka.
Dengan meninggalkan kenyamanan kota dan belajar dari kehidupan sederhana di desa, para siswa SMA Regina Pacis Jakarta membawa pulang lebih dari sekadar cerita. Mereka membawa nilai-nilai kehidupan yang akan melekat dalam diri mereka selamanya.
Penulis adalah Kepala SMA Regina Pacis Jakarta
