Depoedu.com-Abad 21 diwarnai oleh berbagai perubahan yang dipicu oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi di bidang informasi dan komunikasi. Temuan seperti internet dan komputer memicu secara luar biasa perkembangan dan perubahan pada cara memproduksi informasi dan menyebarkan informasi.
Temuan turunan seperti website dan media sosial membuat semua orang dapat menjadi pusat produksi informasi. Produksi informasi menjadi sangat masif dan individu dibanjiri dengan volume arus informasi yang besar dan terus menerus dan cepat.
Di tengah banjir arus informasi seperti ini, individu sangat perlu memiliki sikap dan kemampuan berpikir kritis untuk dapat memilah dan menggunakan informasi serta pengetahuan yang relevan untuk menciptakan solusi yang unik dan baru.
Hal ini telah disadari oleh banyak negara termasuk Indonesia dan meresponnya dengan pengembangan critical thinking dalam kebijakan pendidikannya. Kurikulum Merdeka yang diberlakukan di Indonesia secara eksplisit menjadikan critical thinking sebagai salah satu indikator penting kemampuan lulusan sekolah-sekolah di Indonesia.
Critical thinking bahkan sudah muncul satu dekade sebelumnya, melalui sebuah dokumen yang diterbitkan tahun 2010, dan berlanjut melalui kurikulum 2013 yang diberlakukan kemudian. Namun sebuah penelitian yang dilakukan oleh Maya Defianty dan Kate Wison, menyimpulkan bahwa guru di Indonesia masih sulit mengembangkannya di level murid.
Menurut peneliti dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan University of Canberra ini, guru masih terkendala mengajarkannya, karena masih terjebak pada kebiasaan lama yakni pembelajaran berbasis konten, hafalan, yang berorientasi pada mentalitas mengajar untuk ujian, bukan mengajar untuk menyiapkan murid untuk mampu mengatasi tantangan kehidupannya.
Hal ini juga disimpulkan dari laporan PISA terbaru tahun 2018, pelajar Indonesia masuk dalam peringkat 10 terbawah dari 80 negara peserta. Pelajar Indonesia meraih nilai yang sangat rendah pada indikator critical thinking. Kondisi yang sama juga kita baca dari hasil asesmen nasional terbaru. Ini krisis pengajaran kita.
Menelusuri Akar Masalah
Menurut Maya Defianty dan Kate Wilson, akar masalah dari kondisi ini adalah kebiasaan lama guru mengajar yang sudah mendarah daging. Misalnya terletak pada pertanyaan yang ditanyakan guru untuk dijawab oleh murid.
Baca juga : Isu Kesehatan Mental Menjadi Isu Penting Untuk Mewujudkan Cita-Cita Indonesia 2045
Dalam riset yang mereka lakukan di kelas mata pelajaran Bahasa Inggris di beberapa SMA, mereka menemukan bahwa banyak guru terpaku mengajar initiate-respond-evaluate. Artinya guru hanya mentransfer materi, mengajukan pertanyaan untuk menguji, dan memberitahu jawaban yang benar. Bukan mengajarkan murid berpikir dan berefleksi.
Mereka menemukan bahwa pola mengajar seperti ini masih sangat umum ditemukan di Indonesia. Menurut mereka ini merupakan dampak dari kebijakan ujian nasional yang diberlakukan sejak tahun 1965 hingga tahun 2020.
Meskipun ujian nasional tidak lagi dilakukan namun proses belajar mengajar dengan orientasi menyiapkan murid menjawab soal ujian dengan meraih skor yang tinggi masih menjadi orientasi guru. Riset mereka menemukan bahwa guru masih melewatkan peluang untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.
Situasi ini mematikan inisiatif murid untuk aktif berpikir, bertanya dan mencari tahu karena bagi mereka tidak banyak gunanya karena pada akhirnya hanya kemampuan menjawab pertanyaan bahkan dengan jawaban yang sama, yang menentukan kelulusannya.
Mengembangkan Critical thinking
Saat ini mestinya hambatan struktural ke arah pembentukan kemampuan critical thinking sudah tidak ada karena ujian nasional sudah tidak lagi diselenggarakan. Tinggal yang diperlukan sekarang adalah dorongan secara institusional untuk membiasakan guru mengajar dengan pendekatan konstruktif.
Melalui pembelajaran dengan pendekatan ini, murid dilatih untuk menemukan dan merumuskan masalah, dimulai dengan latihan mengamati baik gejala alam maupun gejala sosial, mengumpulkan data tentang kejadian terkait gejala yang diamati.
Dari data yang dikumpulkan mereka kemudian dilatih untuk merumuskan dugaan penyelesaian masalah atau hipotesis. Hipotesis ini kemudian menjadi patokan untuk melakukan pengumpulan data lebih lanjut untuk membuktikan apakah hipotesis tersebut terbukti atau tidak.
Baca juga : Kurikulum Unik Dan Manfaatnya Bagi Mahasiswa
Proses ini kemudian digunakan untuk menarik kesimpulan terkait kebenaran dugaan atau hipotesis tersebut. Kesimpulan tersebut kemudian dilaporkan dalam presentasi di mana murid mempunyai kesempatan untuk menguji dan mempertangungjawabkan rumusan masalah, hipotesis, data, dan kesimpulan mereka.
Salah satu metode yang umumnya digunakan untuk menjabarkan pendekatan konstruksi adalah metode proyek dan variasinya. Yang bagus dari metode proyek ini adalah latihan berpikir kritisnya, latihan mengelola prosesnya, tahap demi tahap, yang tidak hanya berdampak pada latihan berpikirnya, tetapi juga pada kemampuan bekerja sama.
Tentu saja dimulai dengan pelatihan yang terencana dengan baik, disain implementasinya di sekolah, implementasinya sendiri dan evaluasinya. Tentu saja dilanjutkan dengan tindak lanjut hasil evaluasinya dan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi tersebut.
Pembelajaran dengan metode proyek sungguh mendorong murid untuk mempertimbangkan berbagai alternatif, menemukan masalah, aternatif solusi dan melaporkan serta mempertangungjawabkan penalaranan mereka dan menjelaskan solusi mereka.
Agar proyek bisa berjalan, guru harus menyediakan ruang untuk mengekspresikan ide mereka, kebebasan mengemukan pendapat. Para murid terlibat aktif dalam merencanakan prosesnya, berdialog di antara murid dan berdialog dengan guru.
Upaya pengembangan critical thinking membutuhkan lingkungan belajar yang lebih demokratis dan inklusif, dengan proses belajar yang berpusat pada murid. Peran guru dibatasi pada upaya memfasilitasi proses pada titik yang dibutuhkan, dan menginspirasi serta memotivasi murid.
Hanya dengan begitu kemampuan critical thinking pada murid sungguh terbentuk dan merupakan terobosan yang penting. Dengan demikian krisis pengajaran teratasi dan sekolah tidak mengorbankan masa depan para muridnya, karena mereka jadi lebih siap menyongsong masa depan mereka.
Foto: Glints

[…] Baca juga : Krisis Pengajaran Sekolah Di Indonesia Dan Pertaruhan Masa Depan Murid […]
[…] Baca juga : Krisis Pengajaran Sekolah Di Indonesia Dan Pertaruhan Masa Depan Murid […]