Dr. Boyke Dian Nugroho: Berbahaya, Penggunaan Istilah Ini Mengaburkan Resiko Seks Bebas

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Bagi orang yang aktif di media sosial, istilah baru mulai akrab di telinga seperti friend with benefit, atau sering disingkat FWB.

Awalnya istilah ini digunakan oleh anak muda di kota-kota besar Eropa dan Amerika, untuk menggambarkan hubungan pertemanan yang saling menguntungkan dan berorientasi seksual.

Biasanya hubungan tersebut terjadi antara dua orang, pria dan wanita, di mana masing-masing tidak boleh terbawa perasaan dengan tanpa ikatan dan tanpa status.

Trend ini kemudian menjalar lebih cepat melalui media sosial ke kota-kota besar di Asia, termasuk di Indonesia. Banyak pasangan muda di kota-kota besar menjalin hubungan FWB ini.

Mereka adalah para pekerja kelas menengah muda yang mulai mandiri secara ekonomi, atau kelas menengah mapan. Namun belakangan muncul juga di kalangan mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua.

Meskipun FWB melibatkan hubungan seks, namun karena tanpa ikatan sehingga jika hubungan berakhir, masing-masing sudah sepakat untuk tidak boleh sakit hati.

Baca juga : Lima Cara Menciptakan Pembelajaran Interaktif Dalam Kurikulum Merdeka

Belum juga mereda fenomena FWB, kini muncul fenomena baru yang menjadi sorotan banyak pihak. Gejala baru tersebut oleh anak muda disebut sleepover date.

Istilah sleepover date kemudian menjadi perbincangan hangat di media sosial. Dalam bahasa Indonesia, sleepover date berarti kencan menginap.

Istilah sleepover date adalah aktivitas sepasang kekasih menginap di hotel atau di tempat lain, di mana pasangan tersebut dapat melakukan aktivitas seksual.

Dilihat dari orientasinya, FWB dan sleepover date memiliki orientasi yang sama yaitu sama-sama berorientasi pada hubungan seksual.

Sedangkan yang membedakan keduanya adalah status hubungan antara kedua pasangan. Pada FWB keduanya berstatus teman, sedangkan dalam sleepover date, hubungan keduanya adalah kekasih.

Oleh karena itu, dua-duanya adalah bentuk hubungan seks di luar nikah di kalangan anak muda. Terhadap fenomena ini, Psikolog Anastasia Sari Dewi berpendapat bahwa penggunaan kedua istilah ini di kalangan anak muda untuk mencoba  menormalisasi seks bebas.

Baca juga : Tang Yu Robot Humanoid Pertama Dalam Sejarah, Diangkat Jadi CEO Perusahaan Teknologi

“Dari sudut pandang Psikologi, penggunaan kedua istilah ini sebagai upaya untuk mengubah persepsi seks bebas sebagai aktivitas yang dilarang, menjadi hal yang wajar,” jelas Anas.

“Semakin mudah dikatakan, seolah-olah menjadi normalisasi, seolah-olah seks bebas adalah hal yang normal dan wajar,” lanjut Anas, seperti dilansir pada laman detik.com.

Pakar seks Dokter Boyke Dian Nugroho pun sepakat dengan pendapat Psikolog Anas Sari Dewi tersebut. Ia kuatir, istilah semacam itu mengaburkan resiko perilaku seks bebas.

Ia juga sepakat bahwa fenomena FWB maupun sleepover date sama saja dengan praktik seks bebas sehingga sejumlah resiko dari hubungan seks bebas mengintai, termasuk resiko terkena HIV.

Dokter Boyke bahkan mengaitkan fenomena tersebut dengan tingginya kasus HIV baru, yang muncul di kota-kota besar seperti Bandung, dan Surabaya belakangan ini.

Oleh karena itu, kita berharap fenomena ini segera menjadi perhatian serius pemerintah.

Foto:Frayonion.com

5 2 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments