Laman Media Sosial O.K, Perpustakaan K.O; Salah Siapa?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu,com – Sudah jadi aktivitas biasa bagi saya untuk menghubungi kedua orangtua di pagi hari.Jika dulu harus menggunakan sambungan telepon, kini cukup pakai aplikasi WhatsApp Messenger saja. Praktis, cepat, murah(?), ya kan?!hehe.Saat komunikasi pagi di suatu hari itu ayah saya ternyata sudah berada di sekolah tempatnya mengajar.Dalam perbincangan singkat kami, beliau mengeluhkan orang-orang di sekitarnya yang kini semakin banyak lebih ranjing update informasi lewat media sosial.Sementara perpustakaan baik yang dikelola sekolah maupun pemerintah daerah setempat mati suri, tak ada pengunjungnya.Jangankan para siswa, orang-orang dewasa pun sama saja, tulisnya. Membaca ungkapan singkat dari ayah itu, saya tersenyum-senyum kecil.Perbincangan kami akhiri tak berapa lama sambil saya menjanjikan beliau tulisan ini.

Keluhan ayah saya sebenarnya bukan hal baru.Keluhan macam itu bisa kita dengarkan di mana-mana.Sampai-sampai Pemerintah dengan gencar menetapkan berbagai hari berkaitan dengan buku.Sebut saja Hari Buku Nasional yang jatuh pada tanggal 17 Mei.Konon dipilih karena sesuai dengan hari didirikannya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980 silam.Ada juga Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985.Ini membuktikan bahwa Pemerintah pun menyadari keprihatinan ini dan memilih menggalakkan berbagai gerakan untuk membantu masyarakat sadar dan mau berubah jadi gemar membaca.Namun, ada satu pikiran yang menyentil saya ketika mencoba kembali mengenang masa kecil saya.Para psikolog mengatakan, kegemaran dibentuk ketika seseorang masih balita dan melalu berbagai kebiasaan yang dominan ditanamkan.Lalu saya teringat, jika anak-anak di dunia Barat ditidurkan orangtua atau pengasuh mereka dengan membacakan cerita, anak-anak di Indonesia ditidurkan orangtua atau pengasuh dengan bercerita.Ya, warisan yang diberikan nenek moyang orang Indonesia secara turun temurun, bukanlah budaya membaca, melainkan bercerita.Jadi ini bukan salah siapa-siapa jika orang Indonesia, tidak peduli betapa banyaknya deretan hari penggerak yang dicanangkan Pemerintah soal menyoal buku dan kebiasaan membaca, lebih tertarik untuk mendengar cerita daripada membaca.

Karena keluhan ayah saya menyebut-nyebut perpustakaan, saya jadi ingat akan penampakan sederet perpustakaan yang pernah saya datangi. Jujur saja, hanya perpustakaan sekolah-lah yang pernah saya kenal sebelum akhirnya bisa belajar di kota Gudeg ini. Masing-masing di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Atas.Makanya saya sebut deretan, hehe.Mengenang itu, yang bisa saya gambarkan dari kata Perpustakaan adalah ruangan dengan beberapa lemari panjang, tempat buku-buku pelajaran yang (kadang) berdebu (kadang tidak), diletakkan.Garisbawahi frasa beberapa lemari panjang dan buku pelajaran.Ya, harus saya akui, perpustakaan-perpustakaan sekolah saya hanya berisi beberapa lemari saja.Dan buku-bukunya pun buku pelajaran.Saya berharap sudah ada perubahan pada tahun-tahun ini agar hipotesis kedua saya ini ada harapan untuk terbantahkan.Ketika konteksnya membandingkan dengan laman sosial, perpustakaan jelas-jelas knocked out. Saya yakin, siswa masuk perpustakaan karena diberi tugas. Mereka akan ‘terpaksa’ masuk perpustakaan untuk mencari referensi bacaan atas tugas yang diberikan gurunya. Mengapa terpaksa? Karena di sana hanya ada lemari, buku dan petugas jaga. Sementara mereka senang jika diminta berselancar di dunia maya untuk mendukung pengerjaan tugasnya.Mengapa senang? Karena di sana ada banyak gambar, warna, dan informasi lain yang menyertai, mudah diakses, dan tanpa debu. Ini membawa mereka pada kecenderungan lebih sering mengakses media sosial ketimbang pergi ke Perpustakaan dan duduk membaca.Nah, bagaimana dengan civitas sekolah lainnya?Sebut saja para guru, karyawan dan staf sekolah.Tanpa tugas, akankah mereka masuk Perpustakaan?Maaf saja, momen ‘sekali klik dapat semua’ tentu lebih mudah mengambil hati.

Sesungguhnya perpustakaan dan laman media sosial tidak jauh berbeda.Keduanya menyediakan informasi yang berjubel.Yang unik dari masing-masing hanyalah bahwa yang satu terbatas, yang satu tidak terbatas. Terbatas dan tidak terbatas dalam hal apa? Yang paling mudah, dalam hal cara mengaksesnya. Di Perpustakaan, orang harus mengambil satu persatu buku, membukanya (dan merasakan serpihan debu yang masuk mata) lalu membacanya. Di laman media sosial, kurang dari 2 detik dan apa pun yang ingin diketahui orang, bisa segera terpampang depan mata. Terbatas dan tidak terbatas juga tidak menutup kemungkinan pada hal yang kedua.Ini yang menjadi hipotesis ketiga saya, kenapa orang lebih suka mengunjungi laman media sosial ketimbang perpustakaan.Keduanya memiliki pembedaan yang mencolok dalam hal terbatas dan tidak terbatas ini. Ya, Perpustakaan menyediakan informasi yang terbatas pada tema atau item tertentu tanpa dicampur adukkan dengan hal-hal lain. Saat orang membaca buku tentang Sejarah Perjuangan Bung Karno, maka proses ia membaca hanya akan terekspos oleh topik itu saja. Tidak ada halaman iklan di buku-buku macam itu. Tidak ada ikon-ikon promo di cover luar maupun dalam buku-buku macam itu. Sementara di laman media sosial, link tentang perjuangan Bung Karno mungkin di-posting sebagai tautan pada dinding seseorang yang baru saja putus jalinan asmaranya lalu curhat di sana, atau baru oleh seseorang yang baru kembali dari luar negeri, tampak dari up-dated status-nya yang terakhir juga postingan foto-fotonya. Sembari terbit rasa penasaran, orang bisa tergoda untuk mengunjungi dulu laman pribadi itu dan turut memberikan jempol, kadang turut berkomentar dan mengagumi tempat-tempat yang dikunjungi si pemilik akun tadi.Hanya sekali klik dan kegiatan membaca bukan sesuatu yang kaku dan membosankan.Kapan saja mereka mau, mereka bisa dengan mudahnya kembali pada tautan tentang Sejarah Perjuangan Bung Karno tadi.Sambil belajar sejarah, orang bisa sambil bersosial, begitu kilahnya.Tanpa perlu membahas efek baik buruknya perilaku mengakses informasi seperti ini, apalagi melayangkan penilaian tentang benar dan salah, inilah fenomena yang mau saya paparkan sebagai hipotesis yang ketiga.Bahwa jelas, dibandingkan dengan laman media sosial, Perpustakaan sudah knocked out.Manusia multi-tasking jelas lebih nyaman berselancar dalam lautan informasi tak terbatas daripada duduk dan membaca di ruangan dengan beberapa lemari panjang berisi buku-buku pelajaran.

Kembali lagi pada konteks keluhan ayah saya, yang notabene adalah angkatan tahun 60-an, saya akhirnya tiba pada pemikiran tentang satu hal ini sebagai hipotesis saya yang terakhir.Orang Indonesia di masa dulu, akrab dengan keheningan, mudah mengkondisikan situasi tenang dan mampu menikmati aktivitas kontemplasi.Bisa jadi karena ketiadaan listrik sehingga tidak ada keributan dari Televisi di sepanjang hari.Sebagai penerang di malam hari, hanya ada pelita atau lentera yang remang-remang, memudahkan orang untuk berdiam dan menikmati keheningan.Ketimbang manusia Indonesia masa sekarang, masuk, duduk dan membaca di Perpustakaan yang jelas harus tenang dan hening sangat tidak nyaman.Keributan sekecil apa pun, sang petugas jaga akan mendelik galak atau bisa lebih parah mendatangi anda dan ‘mengusir’ secara halus. Ah, betapa menyiksanya. Sementara di laman media sosial, ada begitu banyak interupsi.Yang oleh manusia zaman sekarang dinikmati sebagai sesuatu yang menghibur dan mengusir hening.Kita tidak lagi menikmati ketenangan.Yang kita butuhkan sebaliknya, keributan, seliweran berbagai urusan dan itu membantu kita menjalani aktivitas termasuk menyerap informasi. Dibandingkan Perpustakaan, laman media sosial jauh lebih ahli menyediakan itu semua. Jelas lagi, dalam hal ini Perpustakaan sudah knocked out.

Jika ditanya ini salah siapa, mari kita renungkan. Hipotesis yang saya paparkan tidak bermaksud untuk menunjukkan jari pada pihak tertentu dan menghibahkan perasaan bersalah atau harus disalahkan.Tetapi itu kenyataan yang mungkin bisa jadi pertimbangan.Di samping keprihatinan yang kita layangkan soal minimnya minat baca masyarakat kita, ada hal yang ternyata jadi latar belakangnya.Siapa tahu dengan memahami latar belakang itu kita bisa memerangi bersama keprihatinan kita sendiri agar berganti jadi kebiasaan yang nyaman bagi semua tanpa kehilangan buah baik dari gemar membaca.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of