Mewaspadai Modus Penipuan yang Membahayakan dan Merugikan Orang Tua

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Aneka modus penipuan terjadi di sekolah yang membahayakan murid dan merugikan orang tua. Karena motif penipuan adalah ekonomi maka terjadi di sekolah-sekolah favorit. Oleh karena itu, sekolah-sekolah favorit diharapkan selalu wapada. Berikut ini tiga modus yang terjadi di beberapa sekolah.

Modus Beasiswa

Satu hari setelah menerima rapor semester satu, Ibu Susi –-sebut saja begitu– dihubungi seseorang melalui telepon. Orang itu menyampaikan selamat karena prestasi anaknya sebagai ranking satu pada angkatan kelas anaknya. Ia pun menyampaikan bahwa karena prestasi tersebut pemerintah melalui Dinas Pendidikan memberikan beasiswa. Namun agar beasiswa tersebut cair, Ibu Susi diminta oleh penelpon tersebut untuk mentransfer uang Rp 5.000.000 untuk mengurus pajak dan memproses pencairan uang beasiswa tersebut. Ia berjanji, dua hari kemudian anaknya akan mendapat beasiswa sebesar Rp 30.000.000, yang akan diserahkan dalam upacara di sekolah.

“Meskipun datanya akurat, (dia tahu jumlah nilai anak saya, tahu nama wali kelas dan Kepala Sekolah) dan saya percaya, namun sebelum saya transfer uang yang orang itu minta, saya memutuskan untuk cek terlebih dahulu ke sekolah. Saya telepon ke sekolah dan ternyata itu penipuan”, kata Ibu Susi menjelaskan. Sekolah kemudian menyebarkan berita ini ke WhatsApp group orang tua murid, dan pesan ini ternyata membantu mencegah penipuan. Setelah pesan WhatsApp tersebut beredar, lima orang tua yang lain melaporkan mendapat telpon yang sama, namun mereka diselamatkan oleh pesan WhatsApp dari sekolah tersebut.

Modus Kecelakaan Anak

Belum lama ini Polda Metro Jaya membongkar penipuan bermodus kecelakaan anak. Komplotan penipu beraksi dengan memanfaatkan data siswa dari sekolah. Pelaku memperoleh data siswa dengan berpura-pura menjadi petugas dari Dinas Pendidikan. Begitu data di tangan, pelaku menghubungi target setelah melihat data latar belakang calon korban. Modus ini terencana dengan baik, sehingga pelaku mengetahui semua petugas, mulai dari penjaga sekolah hingga guru. Mereka pun dapat berperan seperti petugas tersebut. Jika aksi mereka berkaitan dengan dokter dan rumah sakit, mereka pun dapat berperan sebagai dokter dan mengetahui situasi rumah sakit. Oleh karena itu, banyak korban diperdaya.

Biasanya mereka menelpon kepada orang tua, mengabarkan bahwa anak mereka kecelakaan dan memerlukan tindakan cepat. Oleh karena itu, orang tua perlu segera mentransfer uang dalam jumlah tertentu. Biasanya mereka mengatakan bahwa, jika tidak ada tindakan segera, anak akan kehilangan nyawa, atau lumpuh. Jika korbannya berasal dari sekolah favorit dan orang tua mapan secara ekonomi, dana yang mereka minta Rp 50.000.000 atau Rp 100.000.000, bahkan lebih.

Jika menghadapi situasi itu, AKBP Budi Hermanto Kasubdit 3 resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya menghimbau agar jangan panik. “Jangan panik, tenangkan diri, Hubungi sekolah, hubungi wali kelas anak Bapak Ibu. Apabila penelpon seolah-olah dokter dan mengarahkan ke rumah sakit, tanya nama rumah sakitnya. Jika dia menolak menyebutkan nama rumah sakitnya, itu pertanda penipuan. Jika menyebutkan nama rumah sakit, cari nomor telepon UGD dan lakukan konfirmasi. Saat ini nomor telepon rumah sakit, termasuk nomor UGD bisa kita dapat dengan mudah melalui Google. Sebelum lakukan hal-hal ini, jangan lakukan pembayaran apapun”, Kata Budi Hermanto menjelaskan.

Modus Ojek Online

Berikut ini ada modus yang lebih baru. Belum lama ini beredar melalui WhatsApp pesan ini. Dikirim oleh seorang staf administrasi sebuah sekolah dasar swasta favorit di Bintaro, Tangerang Selatan. Ia meneruskan pesan dari seorang Ibu yang anaknya sekarang duduk di kelas VI A sekolah tersebut. “Siang Mommies, untuk anak-anak yang dijemput memakai jasa ojek online, mohon diwaspadai, karena kemarin anak saya mau dijemput ojek online yang tidak saya order. Anak saya menolak karena tahu saya akan menjemput. Kata ojek online tersebut kepada anak saya “Papamu order untuk jemput kamu”. Anak saya bertanya “Papaku namanya siapa?” pelaku hanya sebut namanya sudah diaplikasi. Habis itu saya datang, anak saya masuk mobil dan kami langsung pulang. Anak saya bercerita di perjalanan. Mohon orang tua dan sekolah waspada agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Anak-anak kita harus dilatih untuk menghadapi situasi seperti itu”, demikian bunyi pesan WhatsApp tersebut.

Pesan Artikel ini

Itulah tiga modus penipuan yang sudah terjadi. Eduers diharapkan berhati-hati. Pesan penting dari artikel ini adalah sekolah harus menjaga keamanan datanya agar tidak jatuh ke tangan orang jahat yang dapat menggunakan data secara tidak bertanggung jawab. Bagi orang tua, jika ada informasi positif atau negatif tentang anak, hubungi sekolah, lakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum bertindak lebih jauh.

Sekolah maupun orang tua harus selalu meng-update data dan informasi penting seperti perubahan nomor telpon dan informasi penting lainnya. Ini bermanfaat ketika sekolah atau orang tua menghadapi situasi di atas. Orang tua diharapkan menjaga komunikasi positif dengan sekolah, termasuk menjadi anggota group komunikasi seperti group WhatsApp untuk up date informasi dan memudahkan komunikasi antara orang tua dan sekolah. Termasuk untuk lebih cepat mencegah dan mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

Foto: Jawapos.com

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga : Mewaspadai Modus Penipuan Yang Membahayakan Dan Merugikan Orang Tua […]