Depoedu.com-Semua orang pernah merasa takut dan pernah mengalami kecemasan. Rasa takut adalah respon intens terhadap ancaman yang nyata sedang dihadapi. Rasa takut membantu kita untuk lebih sadar akan situasi bahaya dan bergerak cepat memutuskan aksi menangani ancaman tersebut.
Sedangkan rasa cemas adalah perasaan takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi. Durasinya lebih panjang. Dipicu oleh apa yang ada di dalam pikiran kita dan bukan merupakan ancaman nyata yang sedang kita hadapi. Hal ini disampaikan oleh Savira Anjani dalam seminar di Universitas Pelita Harapan (UPH).
Seminar ini diselengarakan oleh Mahasiswa S2, Hubungan Internasional, Angkatan 12 UPH, pada tanggal 29 April 2023 di Kampus UPH Semanggi. Seminar ini adalah aksi nyata untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan implementasi dari deklarasi G20 Bali tentang kesehatan global.
Dalam rangka membahas isu kesehatan mental, Psikolog Klinis Anak dan Remaja alumni Universitas Indonesia ini menegaskan bahwa kita membutuh rasa takut dan rasa cemas untuk menghadapi ancaman bahkan agar performa kita menjadi lebih baik.
“Kita butuh rasa takut dan cemas untuk menghindari bahaya, menyadari adanya ancaman dan mengantisipasinya atau membuat rencana, membuat kita lebih terjaga dan perform jadi lebih baik. Tetapi jangan berlebihan.” Kata Savira Anjani.
Baca juga : Operasi Ini Sudah Bisa Menjadi Solusi Bagi Anda Yang Ingin Memiliki Tubuh Lebih Tinggi!
Kata Savira Anjani, kecemasan yang pada dasarnya merupakan hal yang normal, telah menjadi ganguan bagi kesehatan mental jika kecemasan tersebut datang secara tiba-tiba entah datang dari mana, munculnya lebih intens dari biasanya, tidak realistis dan bertahan walaupun sumber masalahnya sudah teratasi.
Selain ketakutan dan kecemasan, gangguan kesehatan mental lain yang dibahas dalam seminar ini adalah kesedihan dan depresi. Menurut alumni Fakultas Psikologi UI ini, kesedihan adalah respon normal terhadap situasi kehilangan, masalah, atau situasi sulit lainnya.
Menurutnya, kesedihan cepat hilang, tidak berlarut-larut dan individu dapat berfungsi secara normal kembali dengan baik, karenanya belum menjadi gangguan mental. Sedangkan depresi adalah gangguan kesedihan yang berlebihan, berdurasi panjang yang mempengaruhi mood, konsep diri, dan cara pikir individu.
Oleh karena itu, depresi merupakan gangguan mental yang menyebabkan hilangnya rasa senang di segala kegiatan, berat badan turun atau naik secara signifikan, insomnia atau hypersomnia.
Depresi juga dapat menyebapkan rasa lelah dan tidak berenergi sepanjang hari, merasa tidak berharga, atau merasa bersalah, sulit berkonsentrasi dan sering berpikir tentang kematian.
Baca juga : Bill Gates Prediksi Khanmigo ChatGPT Versi Asia, Bisa Mengganti Peran Guru Dalam Waktu Dekat
Savira Anjani kemudian menampilkan data hasil penelitian terkait depresi. Penelitian tersebut menyimpulkan 21.8 persen responden yang berusia 15 tahun ke atas melaporkan mengalami depresi sedang maupun berat.
Penelitian tersebut juga melaporkan kesimpulan bahwa tingkat depresi tinggi ditemukan pada rentang usia remaja dan dewasa muda dan cendrung menurun tingkat depresinya seiring pertambahan usia.
Penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa orang yang tidak mengenyam pendidikan dasar atau menengah, memiliki prevalensi gejala depresi lebih berat dibandingkan dengan orang yang berpendidikan lebih tinggi.
Di akhir sesinya, Co-founder dari @Deepsmaltalk ini memperkenalkan tujuh teknik meng-handle kecemasan dan depresi seperti, Deep Breathing, Mind buble, Felings Journal & Tracker, Identify What We Can and Can’t Control, Mitigate What We Can’t Control, Behavior Activation Bingo dan Gratitude Journal.
Namun menurutnya, jika kecemasan dan depresi tersebut dialami lebih dari 2 minggu atau 1 bulan, maka sebaiknya pasien gangguan kesehatan mental menghindari self-diagnosis, melainkan mengakses profesional seperti konselor, psikolog atau psikiater. untuk asesmen dan penanganan yang lebih tepat.

[…] Baca juga : Memahami Kecemasan Dan Depresi Sebagai Ganguan Kesehatan Mental […]
Maaf ya, kolom ini diisi dengan komentar terhadap artikel. Bukan lingk ya. Minta tolong untuk dihentikan. Ini saya minta untuk kesekian kali.