Praktik Pembelajaran Demokrasi Siswa dari Depok, Jakarta Utara, Hingga Manggarai Flores

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Pemilihan Ketua OSIS di SMA adalah salah satu bentuk praktik hidup berdemokrasi di sekolah. Oleh karena itu, praktik pemilihan Ketua OSIS sering menghantar kita pada fakta tentang derajat kehidupan demokrasi dalam masyarakat kita.

Seperti terjadi baru-baru ini di SMAN 52 Jakarta Utara. Seorang guru berinisial E, yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah, mengarahkan Panitia Pemilihan Ketua OSIS untuk tidak meloloskan salah satu calon nonmuslim.

Siswa nonmuslin tersebut, berinisial PI, dalam proses seleksi termasuk satu dari lima calon yang lolos seleksi wawancara kandidat.

Melihat lima kandidat tersebut, dalam diskusi dengan Panitia Pemilihan, guru tersebut, seperti dilansir pada laman detik.com mengatakan, bakal calon kandidat nonmuslim jangan diloloskan karena menurut guru tersebut, tidak bisa dikontrol nanti pada saat pemilihan.

Oleh karena itu, pada wawancara berikutnya, calon nonmuslim ini hanya diwawancara dua sampai tiga menit. Dan setelah itu keluar pengumuman tiga calon, tanpa kandidat nonmuslim tersebut.

Proses penjegalan tersebut kemudian bocor ke publik, karena anggota DPRD dari Fraksi PDIP, Ima Mahdiah menerima laporan bahwa terjadi penjegalan oleh guru, dengan bukti rekaman pengarahan oleh Guru E tersebut.

Praktik seperti ini diduga masih terjadi di banyak sekolah. Misalnya pada tahun 2020 teradi juga di SMAN 6 Depok Jawa Barat. Dalam kasus ini bahkan terang-terangan terjadi penjegalan.

Dalam kasus ini bahkan Evan Clementine sudah terpilih. Namun panitia membatalkan kemenangan tersebut dengan alasan ada sekitar 250 murid belum menyalurkan hak pilihnya karena alasan kesalahan sistem.

Baca juga : Penandatanganan MOU Antara Yayasan Tarakanita Dan Himeji International School, Hyogo Jepang

Padahal dalam tangkapan layar yang diunggah oleh Evan, tampak bahwa ada 1019 suara yang telah masuk dari total 1095 suara. Oleh karena itu menurut Evan, itu hanya modus menjegal dirinya yang nonmuslim, untuk menjadi Ketua OSIS.

Kepala Sekolah membantah anggapan tentang penjegalan tersebut. Ia mengatakan, pengulangan pemilihan tersebut murni akibat ketidakoptimalan aplikasi, bukan karena identitas Evan yang nonmuslim.

Pemilihan ulang memang kemudian dilakukan, namun Evan memilih mundur dari calon Ketua OSIS. Di instagramnya Evan meminta maaf jika harus mengambil keputusan tersebut, kepada pendukungnya.

Jika benar, dua kisah ini tidak hanya menggambarkan buruknya proses belajar berdemokrasi di sekolah, melainkan juga menggambarkan sekolah sebagai lembaga pendidikan masih sangat jauh dari ideal.

Yang ideal adalah, sekolah seharusnya menjadi tempat persemaian praktik baik seperti demokrasi. Jadi praktik ideal demokrasi harus dimulai dari sekolah, lalu dibawa ke tengah-tengah masyarakat.

Sedangkan yang tercermin dari dua kisah ini adalah, para guru membawa situasi keterbelahan yang menandai buruknya praktik demokrasi dalam masyarakat kita, ke sekolah.

Praktik ini bukan hanya tidak mencerminkan hakikat sekolah sebagai lembaga pendidikan dan pembaharuan, melainkan juga menggambarkan buruknya demokrasi kita, bahkan buruknya praktik demokrasi di masa datang, karena itulah yang dipelajari oleh para murid di banyak sekolah kita.

Muncul Optimisme

Dua cerita di atas membuat kita prihatin. Namun cerita berikut ini memunculkan optimisme bagi kita sebagai bangsa yang besar dan beragam.

Ini adalah cerita pemilihan Ketua OSIS di SMA Katolik Santo Fransiskus Xaverius Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Pada Senin, 24 Oktober 2022, Aprilia Inka Prasasti terpilih sebagaiKetua OSIS di SMA ini.

Baca juga : Di Desa Ini, TV Dan Internet Dimatikan 90 Menit Setiap Hari, Agar Warga Bisa Ngobrol

Aprilia adalah Ketua OSIS untuk periode kepengurusan 2022/2023, menggantikan Maria F. N. Siba. Bagi SMAK St. Fransiskus Xaverius, ini menjadi momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya murid beragama Islam menjadi Ketua OSIS.

Aprilia Inka beragama Islam, menjadi Ketua OSIS di sekolah dengan mayoritas siswa beragama Katolik. Dari 1.181 murid, jumlah siswa non-Katolik ada 14 orang, 2 murid Islam, 11 murid Kristen Protestan, dan 1 murid beragama Hindu.

Kepala Sekolah, Romo Martin Wiliam, seperti dilansir oleh Katolikana, menyebut terpilihnya Inka sebagai bentuk gugatan atas praktik yang kerap terjadi saat ini di sejumlah tempat yang mendewakan agama dan mengesampingkan rasio dalam memilih pemimpin.

“Peristiwa ini boleh dimaknai sebagai kritik atas berbagai sikap atau tindakan detruktif atas nama agama,” kata Romo Martin.

Ia menjelaskan, selama proses, guru bersikap netral. Sekolah pada prinsipnya mendukung siapapun sejauh memenuhi kriteria menjadi kandidat Ketua OSIS.

Menurut Romo Martin, dengan proses pemilihan yang baik, terpilihnya Inka merupakan praktik pembelajaran demokrasi yang berbobot dan benar.

Mudah-mudahan praktik semacam ini tidak hanya menyajikan pembelajaran demokrasi yang berbobot saja, melainkan dapat menginspirasi sekolah lain untuk melakukan praktik yang sama.

Mari kita benahi praktik kehidupan demokrasi kita mulai dari sekolah, melalui wadah seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah.

Foto:Katolikana

5 3 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Praktik Pembelajaran Demokrasi Siswa Dari Depok, Jakarta Utara, Hingga Manggarai Flores […]