Depoedu.com-Li Ka-Shing, lahir di Guandong Cina, 13 Juni 1928. Li kecil tumbuh saat perang dunia kedua sedang berkecamuk. Ketika itu di desanya sering terjadi kontak senjata dan menjadi sasaran bom oleh Jepang.
Oleh karena itu, ayah Li Ka-Shing merasa Guandong tidak aman dan tidak menjadi tempat yang kondusif untuk pertumbuhan anak-anaknya. Ia kemudian memutuskan untuk memboyong keluarganya berpindah ke Hongkong.
Tidak lama setelah tiba di Hongkong, Li sekeluarga ditimpa penderitaan baru. Ayah Li yang adalah seorang Kepala Sekolah, meniggal karena TBC.
Pengalaman lepas dari perang dan ayah meninggal bukanlah pengalaman menderita yang terakhir. Li ternyata harus menerima kenyataan bahwa dirinya juga terinfeksi TBC. Ketika itu keluarga Li dalam keadaan jatuh miskin.
Dalam keadaan yang serba terbatas, ibunya berjuang mengupayakan pengobatan. Li akhirnya sembuh dan kembali ke sekolah. Di usia 14 tahun, Li kecil belajar di sekolah sambal bekerja di sebuah perusahaan plastik. Namun di usia 15 tahun, ia memutuskan untuk berhenti dari sekolah.
Di usia belia, Li sangat fokus bekerja. Sehari ia bisa bekerja hingga 16 jam selama seminggu penuh. 90 persen penghasilan yang ia peroleh, dikirimkan untuk Ibunya.
Di usia 22 tahun Li memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja dan dengan modal pinjaman, ia memulai perusahaannya sendiri. Perusahaan tersebut memproduksi mainan plastik. Ia menamai perusahannya Cheung Kong. Namun tidak lama setelah itu ia berubah haluan memproduksi bunga plastik.
Ketika memproduksi bunga plastik, Cheung Kong ternyata sangat sukses. Oleh karena itu ia memiliki modal untuk merambah ke investasi di bidang real estate. Tahun 1967, ketika terjadi kerusuhan parah di masa kepemimpinan Mao Zedong, dengan uang tabungannya ia membeli apartemen dan pabrik di seluruh Hongkong.
Baca juga : Kebenaran Yang Menggelisahkan, Kepastian Yang Tidak Bisa Terelakkan
Dari sini, pada tahun 1979, ia kemudian menjadi warga negara Tiongkok pertama yang membeli saham Hutchison Whampao, sebuah perusahaan yang menguasai Hongkong.
Di tangannya, Li berhasil mengembangkan Hutchison menjadi perusahaan yang paling berharga di dunia, dengan pendapatan tahunan lebih dari Rp 700 trilyun.
Oleh karena itu. Majalah Forbes tahun 2021 menobatkan Li Ka-Shing sebagai orang terkaya di Asia Timur dengan kekayaan USD 35.4 milyar, atau setara dengan Rp 495,6 trilyun.
Latar belakang dan situasi hidupnya yang seperti ini membentuk cara pandangnya tentang cara menggunakan uang, yang menurutnya misterius, seperti diuraikan di bawah ini:
- Uang untuk pengembangan diri
Menurut Li Ka-Shing, perkembangan dan perubahan zaman mengharuskan kita untuk terus menerus belajar. Oleh karena itu, uang untuk belajar dan mengembangkan diri harus dikeluarkan.
Menurut Li, mengeluarkan uang untuk mengembangkan otak sendiri adalah investasi paling aman meskipun, investasi untuk belajar tidak langsung kelihatan hasilnya.
Banyak orang mengatakan, buat makan sehari-hari saja tidak cukup, mana ada uang untuk belajar lagi. Menurut Li, orang semacam ini tidak akan menginvestasikan uangnya di otaknya. Padahal menurut Li, jika otak kita dibiarkan miskin, hidup pun akan tetap miskin.
Padahal, menurut pengalaman Li, jika kita benar-benar miskin, otakmu adalah aset terbesar kita untuk bangkit kembali. Itulah menurut Li, kita harus benar-benar berinvestasi dengan terus belajar.
Jadi belajar dan mengembangkan diri harus dilakukan. Oleh karena itu, harus rela mengeluarkan uang, bahkan sampai meminjam uang sekalipun. Li yakin, orang semacam ini akan memiliki banyak jalan untuk mengembalikannya.
Baca juga : Urgensi Praktisi Mengajar Dalam Ciptakan Sumber Daya Manusia Indonesia
Menurut Li, kalau ingin berubah tetapi untuk biaya pendidikan saja enggan dikeluarkan, bagaimana ada kemampuan yang cukup untuk menghadapi kesulitan?
- Uang untuk berbakti
Pada saat Li Ka-Shing masih bekerja pada orang lain, setiap bulan ia menyisihkan 90 persen gajinya untuk orang tuanya. Karena menurut Li, berbakti pada orang tua harus dilakukan.
Mungkin banyak orang berpikir, buat diri sendiri saja tidak cukup. Bahkan masih banyak hutang, bagaimana memberi uang pada orang tua?
Ada juga orang bilang, di rumah orang tua tidak kekurangan uang. Papa dan Mama punya cukup uang. Maka tidak perlu memberi uang pada orang tua.
Menurut Li, meskipun orang tua berada dalam keadaan berkecukupan, anak tetap harus memberi pada orang tua secara rutin. Sebaliknya, semiskin apapun, sebulan sekali harus menyisihkan uang untuk orang tua.
Li berargumen, dulu semiskin apapun orang tuamu, mereka tetap berjuang membesarkanmu. “Coba pikir, apa karena banyak hutang, tidak cukup uang, lalu orang tuamu meninggalkan tanggung jawab sebagai orang tua?”
Oleh karena itu, lanjut Li, semiskin apapun mereka tetap membesarkanmu, jadi sekarang, kamu mengembalikannya, itu sebuah keharusan.
Li yakin, banyak orang tidak tahu, berbakti pada orang tua itu ibarat sebuah restu alami. Berbakti pada orang tua, menciptakan relasi yang baik, akan meningkatkan kekuatan restu.
Menurut Li, berbakti pada orang tua juga untuk kebaikan diri sendiri. Maka uang untuk berbakti pada orang tua bukan saja untuk kebaikan orang tua, tetapi juga untuk kebaikan diri sendiri.
Baca juga : Butuh Waktu 30 Tahun Untuk Menyelesaikan S1, Boyamin Saiman Menjadi Mahasiswa Terlama
Li kemudian mengutip data, 500 pengusaha sukses di dunia adalah orang-orang yang berbakti kepada orang tua mereka. Maka ia menegaskan, berbakti pada orang tua tidak perlu tunggu kaya, tidak perlu dihemat.
- Uang untuk amal
Menurut Li, di dunia ini selamanya pasti ada orang yang kurang beruntung. Oleh karena itu, peliharalah kebiasaan beramal. Jika ada uang lebih, lebih baik didonasikan.
Untuk donasi, Li Ka-Shing memberikan patokan, jika kita punya tanggungan, sisihkanlah uang lebihmu sebesar 2 persen dari pendapatanmu untuk didonasikan.
Menurut Li, uang itu harus berputar. Jangan membuat uang berhenti di dirimu sendiri. Berikanlah pada orang yang membutuhkan bantuanmu.
Li juga mengingatkan, jika kamu adalah bos, ingatlah bahwa kemajuan usaha dan keberhasilanmu hari ini adalah buah kerja sama dengan seluruh karyawanmu.
Maka menurut Li, memberikan bonus pada karyawanmu adalah hal yang seharusnya. Dan bonus ini akan menjadi amal terbesarmu jika kamu melakukannya dengan tulus dan penuh rasa syukur.
Itulah pengalaman dan pendapat Li Ka-Shing tentang menggunakan uang untuk investasi diri, berbakti pada orang tua, dan beramal.
Bagi Li, ini misteri karena kamu menghabiskan uangmu, tetapi uang kamu tidak habis, melainkan malah bertambah dan hidup bersama kamu dengan sesama menjadi lebih bahagia, berkembang dan harmonis.
Foto:iNews.id

[…] Baca juga : Li Ka-Shing; Keluarkan Uangmu Untuk Tiga Hal Ini Dan Setelah Itu Alami Misterinya […]