Depoedu.com-Emosi adalah bagian yang penting, alami dan tak terpisahkan dari kehidupan manusia, termasuk dalam kehidupan anak-anak. Namun membentuk, mengenali, memahami, dan mengelola emosi dengan tepat yang disebut regulasi emosi, bukanlah kemampuan yang muncul dengan sendirinya.
Kemampuan meregulasi emosi harus dilatih sejak dini, dan di sinilah peran orang tua menjadi fondasi yang paling utama dan penting. Regulasi emosi yang baik akan menjadi bekal yang berharga bagi anak agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, mampu beradaptasi, dan harmonis dalam berinteraksi dengan orang lain.
Tulisan ini akan membahas topik yang penting ini bagi orang tua, mulai dari mengapa regulasi emosi itu sangat penting bagi anak? Bagaimana orang tua berperan membentuk regulasi emosi pada anak? Berikut uraiannya.
Mengapa regulasi emosi sangat penting bagi anak?
Regulasi emosi itu bukan berarti pembelajaran menekan atau menyembunyikan perasaan. Sebaliknya regulasi emosi adalah kemampuan anak untuk merespons perasaan sendiri dan perasaan orang lain dengan cara yang sehat dan tepat.
Ketika anak memiliki regulasi emosi yang yang baik, ia akan lebih mampu menahan dorongan hati, tidak mudah meledak dalam kemarahan, kebahagiaan atau kesedihan yang berlebihan. Anak dengan regulasi emosi yang baik juga lebih cepat pulih dari suasana hati yang buruk.
Baca juga : Kabar dari Ditjen GTK; Tunggakan Tunjangan Profesi Guru Non-ASN Mulai Cair Pekan Depan
Beberapa manfaat regulasi emosi yang perlu diketahui antara lain:
- Memiliki kesehatan mental yang lebih baik; anak yang regulasi emosinya terlatih, tidak terjebak dalam kecemasan, kesedihan, atau kemarahan yang berkepanjangan. Mereka akan lebih dapat mengendalikan emosi.
- Hubungan sosial akan lebih baik dengan orang lain; anak akan lebih mudah bergaul, lebih mudah diterima orang lain, dapat berbagi, dan mampu menyelesaikan konflik dengan orang lain tanpa kekerasan.
- Memiliki kemampuan konsentrasi dan lebih berprestasi; anak yang mampu mengelola emosi, lebih mudah memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang dihadapi, lebih mudah belajar, oleh karena itu lebih dapat menyelesaikan tugas, dan lebih berprestasi.
- Ketahanan diri; pada saat mengalami kesulitan atau kegagalan, anak dengan regulasi emosi yang baik tidak mudah menyerah, dan mampu bangkit kembali.
Sebaliknya jika anak tidak memiliki regulasi emosi yang baik, mereka cenderung bertindak impulsif, sering tantrum, sulit bergaul, dan rentan mengalami tekanan psikologis dalam interaksinya dengan orang lain.
Peran orang tua dalam membentuk regulasi emosi anak
Orang tua, ayah dan ibu, adalah guru pertama dan paling utama, paling penting, bagi anak dalam hal pembelajaran regulasi emosi. Berikut adalah cara-cara orang tua dalam membentuk kemampuan regulasi emosi pada anak:
- Menjadi contoh yang baik
Anak belajar paling banyak dari apa yang mereka lihat dan alami. Jika orang tua mampu mengelola emosinya dengan tenang; tidak mudah marah, bisa bicara dengan sopan dengan nada terkendali, meski sedang keberatan, itulah contoh baik kemampuan regulasi emosi orang tua. Anak akan meniru kebiasaan baik tersebut.
Sebaliknya jika orang tua sering meluapkan emosi, dengan kemarahan dan teriakan, anak akan menganggap cara tersebut sebagai cara merespon yang wajar. Ini akan berpengaruh pada pembentukan regulasi emosi anak.
- Membantu anak mengenali emosi, dan memberi nama emosi
Dalam interaksi dengan orang lain, anak seringkali merasa bingung dengan apa yang ia rasakan. Orang tua dapat membantu anak dengan menyebutkan perasaan tersebut, misalnya: “Kamu kelihatan kesal karena mainanmu diambil ya?” Atau, “Kamu tampak senang bisa bermain dengan teman hari ini?”
Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa setiap perasaan yang dirasakan itu adalah perasaan yang wajar, perasaan-perasaan yang kita rasakan itu semuanya memiliki nama.
- Menerima perasaan anak tanpa menghakimi
Orang tua perlu menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya. Katakanlah bahwa merasa sedih, marah, atau takut itu adalah hal yang manusiawi. Semua orang bisa mengalami perasaan-perasaan tersebut.
Hindari menegur dengan ucapan seperti; “Jangan cengeng!” atau “Anak hebat ga boleh takut.” Kalimat seperti itu, membuat anak merasa perasaannya salah dan oleh karena itu harus disembunyikan atau ditekan.
- Mengajarkan cara mengelola emosi yang sehat
Setelah anak mengenali perasaannya, ajarkan anak cara menyalurkan perasaannya dengan tepat. Misalnya, saat marah; tarik nafas dalam-dalam, bicara dengan tenang, atau melakukan aktivitas yang menenangkan seperti, menggambar, atau berjalan sebentar. Orang tua juga dapat membantu anak menemukan solusi atas pemicu emosi tersebut.
- Memberikan dukungan dan kehadiran penuh
Saat anak sedang diliputi emosi yang kuat, kehadiran orang tua yang menenangkan jauh lebih efektif daripada menasehati anak. Pelukan, hadir, dan mendengarkan dengan tulus, sabar, membuat anak merasa aman, sehingga secara bertahap belajar menenangkan dirinya sendiri.
Itulah regulasi emosi pada anak, dan bagaimana anak dibantu mempelajari regulasi emosi sebagai hal yang sangat penting dalam pertumbuhannya. Bahkan regulasi emosi adalah fondasi kesehatan mental dan jalan menuju kesuksesan sosial anak di masa depan.
Pembentukan kemampuan regulasi emosi tidak terjadi dalam semalam, melainkan tumbuh melalui prose belajar yang panjang, dengan orang tua sebagai pendamping utamanya. Ketika orang tua hadir dengan empati, kesabaran, dan keteladanan, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tumbuh matang secara emosional.
Anak yang mengalami pertumbuhan yang demikian, akan mampu memahami dirinya sendiri, dan menghargai orang lain. Inilah tiket penting anak untuk tumbuh sehat secara mental, ia akan menjadi dewasa dan bahagia.
Foto: Haibunda
