Depoedu.com – Situasi Jakarta yang dinamis pada pertengahan Agustus 2026 memberikan pengalaman tersendiri bagi dunia pendidikan. Adanya aksi demonstrasi di sekitar gedung DPRD dan kondisi lalu lintas serta keamanan yang perlu menjadi perhatian mendorong SMP Tarakanita 1 mengambil langkah pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik
Keputusan tersebut bukan semata-mata untuk mengubah tempat belajar, tetapi menjadi bentuk kepedulian sekolah terhadap keselamatan, kenyamanan, dan keberlangsungan proses pendidikan.
Dalam kondisi seperti ini, pembelajaran Pendidikan Pancasila justru memperoleh konteks yang sangat relevan. Materi yang dipelajari adalah Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Baca Juga: Sekolah, Orang Tua, dan Perguruan Tinggi: Segitiga Penopang Keberhasilan Belajar
Peristiwa yang sedang berlangsung di lingkungan sekitar menjadi momentum bagi peserta didik untuk memahami bahwa hak dan kewajiban warga negara bukan hanya konsep yang terdapat dalam buku pelajaran, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan nyata sebagai anggota masyarakat dan warga negara.
Pembelajaran dilaksanakan secara jarak jauh dengan memanfaatkan Zoom dan berbagai perangkat digital. Guru tetap berusaha menciptakan suasana belajar yang aktif, interaktif, dan menyenangkan meskipun peserta didik tidak berada di dalam ruang kelas.
Salah satu media yang digunakan adalah Kahoot, sebuah platform kuis interaktif yang memungkinkan peserta didik menjawab pertanyaan secara langsung melalui perangkat masing-masing.
PJJ Sebagai Bentuk Adaptasi Pembelajaran
Pelaksanaan PJJ menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Perubahan pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran daring membutuhkan penyesuaian strategi, metode, dan media.
Guru tidak hanya perlu memastikan materi tersampaikan, tetapi juga harus menjaga keterlibatan peserta didik agar mereka tetap memiliki motivasi untuk mengikuti pembelajaran.
Pada awal pembelajaran, guru memberikan pengantar mengenai alasan pelaksanaan PJJ. Peserta didik diajak memahami bahwa perubahan pembelajaran dilakukan karena adanya situasi yang sedang terjadi di Jakarta.
Guru kemudian menghubungkan kondisi tersebut dengan materi Pendidikan Pancasila yang akan dipelajari. Pembelajaran diawali dengan pertanyaan sederhana: “Apa saja hak yang dimiliki warga negara dan apa kewajiban yang harus dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara?”
Pertanyaan tersebut menjadi pemantik bagi peserta didik untuk mengingat kembali pengetahuan yang telah mereka miliki.
Beberapa peserta didik mampu menyebutkan hak untuk memperoleh pendidikan, hak menyampaikan pendapat, hak mendapatkan perlindungan, serta berbagai hak lainnya.
Mereka juga mulai mengidentifikasi kewajiban seperti menaati hukum, menghormati hak orang lain, menjaga ketertiban, dan ikut menjaga kehidupan bersama.
Menghubungkan Materi dengan Realitas Kehidupan
Salah satu hal penting dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila adalah kemampuan peserta didik menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Guru tidak ingin pembelajaran berhenti pada hafalan pasal-pasal dalam UUD NRI Tahun 1945.
Dalam konteks situasi Jakarta, peserta didik diajak melihat bahwa menyampaikan pendapat merupakan salah satu bagian dari kehidupan demokratis. Namun, penggunaan hak tersebut juga harus disertai dengan tanggung jawab dan penghormatan terhadap hak orang lain.
Guru menekankan bahwa hak dan kewajiban merupakan dua hal yang saling berkaitan. Setiap warga negara memiliki hak, tetapi pada saat yang sama juga memiliki kewajiban untuk menghormati aturan, menjaga ketertiban, serta menghargai kebebasan dan keselamatan orang lain.
Pembahasan tersebut membuat materi menjadi lebih kontekstual. Peserta didik tidak hanya mempelajari definisi hak dan kewajiban, tetapi juga diajak berpikir kritis mengenai bagaimana seseorang menggunakan haknya secara bertanggung jawab.
Dalam pembelajaran, guru juga mengingatkan peserta didik agar tidak mudah mengambil kesimpulan dari informasi yang beredar di media sosial.
Peserta didik diarahkan untuk bersikap kritis, memeriksa informasi, dan tidak menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Sikap tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan sebagai warga negara di era digital.
Kahoot sebagai Media Pembelajaran Kreatif
Untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik, guru menggunakan Kahoot sebagai media evaluasi sekaligus pembelajaran interaktif.
Setelah materi disampaikan, peserta didik diarahkan untuk mengikuti kuis yang berisi pertanyaan mengenai hak dan kewajiban warga negara berdasarkan UUD NRI Tahun 1945. Kehadiran Kahoot memberikan suasana berbeda dalam PJJ.
Jika pembelajaran daring berpotensi membuat peserta didik pasif, kuis interaktif memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi secara langsung.
Setiap pertanyaan memberikan tantangan kepada peserta didik untuk berpikir dan menentukan jawaban dalam waktu yang telah ditentukan.
Unsur permainan dalam Kahoot juga membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Peserta didik dapat melihat hasil jawaban dan perolehan skor setelah menjawab pertanyaan.
Persaingan yang muncul diarahkan bukan sekadar untuk menjadi yang memiliki skor tertinggi, tetapi sebagai motivasi untuk belajar dan memahami materi dengan lebih baik. Guru menggunakan hasil kuis sebagai bahan untuk mengetahui pemahaman peserta didik.
Pertanyaan yang banyak dijawab kurang tepat menjadi bahan pembahasan kembali. Dengan demikian, Kahoot tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga menjadi sarana bagi guru untuk melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran.
Antusiasme dan Tantangan Peserta Didik
Meskipun pembelajaran dilaksanakan secara daring, peserta didik menunjukkan respons yang cukup baik terhadap penggunaan media interaktif. Beberapa peserta didik terlihat lebih antusias ketika mengetahui bahwa pembelajaran akan menggunakan Kahoot.
Namun, PJJ tetap memiliki berbagai tantangan. Tidak semua peserta didik memiliki kondisi jaringan internet yang sama. Ada pula peserta didik yang mengalami kendala perangkat maupun konsentrasi ketika belajar dari rumah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian guru agar pembelajaran tetap memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik untuk mengikuti kegiatan secara optimal.
Guru berusaha memberikan toleransi terhadap kendala teknis dan memastikan bahwa tujuan pembelajaran tetap dapat dicapai. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses dan pengalaman belajar peserta didik.
Penutup
Bagi guru, pengalaman melaksanakan PJJ dalam situasi tersebut menjadi pengingat bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung dalam kondisi yang ideal. Pendidikan harus mampu beradaptasi dengan keadaan tanpa kehilangan tujuan utamanya.
Penggunaan media Zoom dan Kahoot menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk menjaga interaksi antara guru dan peserta didik.
Media digital bukan sekadar alat untuk membuat pembelajaran terlihat menarik, tetapi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang aktif, reflektif, dan bermakna.
Baca Juga: Permainan Tradisional Warnai Waktu Istirahat di SMP Tarakanita 1
Situasi yang terjadi di Jakarta juga memberikan pelajaran bahwa Pendidikan Pancasila memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang mampu memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Peserta didik perlu dibekali bukan hanya dengan pengetahuan mengenai konstitusi, tetapi juga dengan sikap kritis, tanggung jawab, toleransi, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Pembelajaran Jarak Jauh di SMP Tarakanita 1 menjadi sebuah pengalaman pendidikan yang lahir dari situasi nyata. Di tengah kondisi Jakarta yang dinamis akibat adanya demonstrasi di sekitar gedung DPRD, proses pendidikan tetap dapat berlangsung dengan memanfaatkan teknologi dan kreativitas.
Penulis Adalah guru Pendidikan Pancasila SMP Tarakanita 1 Jakarta
