BGN Akan Mengalihkan Penerima Manfaat MBG. Sekolah dengan Siswa Mampu Tidak Lagi Jadi Fokus

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Badan Gizi Nasional (BGN) akan melakukan evaluasi dan refocusing penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) dari fokus sebelumnya ke fokus baru yakni wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Hal ini disampaikan oleh Kepala BGN yang baru Nanik S. Deyang setelah ia ditunjuk menggantikan kepala BGN sebelumnya  Dadan Hindayana. 

Menurut Nanik, kebijakan tersebut tengah dipersiapkan oleh pimpinan BGN yang baru yang ia pimpin. Dia juga menyampaikan bahwa ke depan sekolah-sekolah yang dinilai berasal dari kelompok mampu berpotensi untuk tidak lagi menjadi prioritas penerima manfaat MBG. 

“Kami akan melakukan refocusing penerima manfaat MBG, dari fokus sebelumnya, ke fokus baru yakni daerah tertinggal, terdepan dan terluar. Selain itu sekolah-sekolah yang dinilai berasal dari kelompok mampu, berpotensi untuk tidak lagi menjadi prioritas MBG,” kata Nanik dalam pertemuan dengan wartawan di kantor BGN Jakarta Pusat. 

Nanik menegaskan bahwa langkah ini dilakukan agar penerima manfaat MBG lebih tepat sasaran, termasuk lebih dapat menjangkau kelompok yang benar-benar membutuhkan. Ia mengatakan dari data yang ada, selama ini daerah 3T belum terlayani secara optimal, padahal sebetulnya mereka sangat membutuhkan. 

Baca juga : Peran Musik dalam Perkembangan Otak dan Proses Belajar Manusia

Oleh karena itu ia menegaskan bahwa dengan refocusing, bisa jadi penerima manfaat akan bertambah yang sebetulnya tidak fokus selama ini. Nanik menegaskan bahwa fokus BGN yang ia pimpin bukan hanya sekedar memperluas jumlah penerima manfaat, melainkan memastikan kelompok rentan di daerah yang sulit dijangkau mengakses MBG. 

Pada kesempatan tersebut, Nanik juga menjelaskan bahwa selain wilayah 3T, BGN juga akan memberi perhatian pada kelompok 3B. Ini adalah kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Ia menjelaskan bahwa 3B menjadi sasaran yang penting karena masa awal kehidupan merupakan periode paling menentukan keberhasilan intervensi gizi. 

“Ini adalah hasil diskusi kami dengan para dokter anak, para ahli gizi. Menurut mereka, intervensi yang paling bagus adalah saat dalam kandungan, sejak bulan pertama sampai usia 9 tahun atau sampai SD. Kita akan kejar ke sana,” jelas Nani. 

Selain upaya refocusing, Nanik juga menegaskan bahwa ada tiga langkah lain untuk membenahi pelaksanaan MBG. BGN akan melakukan moratorium sementara pembangunan dapur MBG yang baru, sambil membenahi dapur yang telah beroperasi, dan memperluas pelaksanaan program di wilayah 3T dengan skema yang lebih efisien. 

Baca juga : Wujudkan Sekolah Ramah HAM, SD Tarakanita 3 Jakarta Gelar Pelatihan bersama Kementerian HAM

Pengumuman Resmi BGN

Sementara itu BGN pada tanggal 5 Juni 2026 mengeluarkan pengumuman nomor 02/BGN/06/2026 untuk menyikapi informasi yang menyatakan bahwa program MBG akan dihentikan sementara mulai Jumat 5 Juni 2026 karena adanya kendala teknis terkait dana operasional. 

Melalui pengumuman resmi tersebut BGN menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak benar (hoax) dan bukan merupakan pengumuman resmi dari BGN. BGN memastikan bahwa top up Dana Bantuan Pemerintah untuk seluruh satuan pelayanan akan dilakukan sesuai dengan jadwal. 

BGN menegaskan bahwa seluruh Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) harus menyampaikan informasi yang benar kepada seluruh yayasan dan mitra pelaksana di wilayah masing masing. 

BGN juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada kendala yang menghambat pelaksanaan program di lapangan dan layanan MBG tetap berjalan sebagaimana mestinya. Masyarakat dihimbau agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments