Lidah, Kuasa, dan Sekolah: Etika Bahasa dalam Membentuk Peradaban

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Pagi hari di sekolah sering dimulai dengan sesuatu yang tampak sederhana: sapaan di gerbang, percakapan ringan di ruang guru, atau instruksi singkat di kelas. Kata-kata beredar tanpa seremoni—cepat, praktis, dan terasa biasa saja. 

Namun justru dalam keseharian itulah bahasa bekerja diam-diam membentuk suasana batin sebuah komunitas. Satu kalimat dapat membangun kepercayaan; kalimat lain dapat meruntuhkannya.

Di ruang pendidikan, bahasa bukan hanya sarana komunikasi administratif. Ia adalah medium pembentukan relasi, identitas, bahkan nilai moral. Ketika guru menegur siswa, ketika kepala sekolah memberi arahan, ketika orangtua berdiskusi dalam forum sekolah—semua terjadi melalui bahasa. Tanpa disadari, kualitas kata-kata itu menentukan kultur pendidikan yang sedang dibangun.

Pertanyaan mendasarnya menjadi relevan: apakah sekolah cukup memberi perhatian pada etika bahasa? Ataukah kita terlalu sibuk mengurus kurikulum, asesmen, dan teknologi hingga lupa bahwa peradaban pendidikan sesungguhnya tumbuh dari cara manusia berbicara satu sama lain?

Refleksi klasik tentang moralitas lidah, sebagaimana diangkat Richard Allestree, menunjukkan bahwa bahasa selalu terkait dengan kuasa sosial—membangun atau merusak kehidupan bersama (Allestree, 2005). Dalam konteks pendidikan kontemporer, refleksi ini terasa semakin mendesak.

Bahasa sebagai Tindakan Moral

Sejak tradisi filsafat Yunani, berbicara tidak pernah dianggap netral. Aristoteles menempatkan tindakan manusia—termasuk berbicara—dalam kerangka kebajikan moral yang harus dilatih melalui kebiasaan (Aristotle, 2004). 

Kejujuran, kehati-hatian, dan kesopanan bukan sekadar norma sosial, melainkan ekspresi karakter etis. Bahasa menjadi cermin habitus moral seseorang.

Allestree mengembangkan refleksi serupa dalam kerangka spiritual dan sosial. Ia menyoroti bagaimana gosip, penghinaan, atau kata-kata sembrono bukan hanya kesalahan individu, melainkan ancaman bagi kohesi komunitas (Allestree, 2005).

Dalam kehidupan sekolah, fenomena ini mudah ditemukan—labelisasi siswa, komentar sinis antara guru, atau narasi negatif yang menyebar tanpa verifikasi. Kata-kata semacam ini menciptakan realitas sosial yang nyata dampaknya.

Baca juga : Mengapa Banyak Sarjana Fresh Graduate Menganggur?

Pendekatan etika relasional Nel Noddings memperkaya perspektif ini. Ia menegaskan bahwa tindakan moral dalam pendidikan berakar pada relasi kepedulian (care). 

Bahasa yang etis lahir dari perhatian terhadap kesejahteraan orang lain, bukan semata kepatuhan pada aturan formal (Noddings, 2013). Dengan demikian, komunikasi pendidikan tidak cukup benar secara prosedural; ia harus juga merawat hubungan kemanusiaan.

Bahasa, Kuasa, dan Pembentukan Identitas

Bahasa tidak hanya mencerminkan moralitas individu; ia juga merupakan instrumen kuasa sosial. Michel Foucault menunjukkan bahwa wacana membentuk cara manusia memahami realitas dan dirinya sendiri (Foucault, 1988). 

Dalam sekolah, istilah seperti “berprestasi”, “bermasalah”, atau “unggulan” bukan sekadar deskripsi—ia menciptakan kategori identitas yang mempengaruhi perlakuan sosial.

Ketika label tertentu dilekatkan berulang kali melalui bahasa, identitas siswa atau guru perlahan dibentuk olehnya. Charles Taylor menyebut proses ini sebagai konstruksi narasi diri dalam ruang sosial (Taylor, 1989). Bahasa menjadi medium tempat individu mengenali dirinya sekaligus dinilai oleh komunitas.

Di era digital, dinamika kuasa bahasa semakin kompleks. Percakapan pendidikan kini berlangsung tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di grup pesan instan, media sosial, dan platform daring lainnya. 

Kata-kata yang diucapkan dalam ruang digital memiliki jangkauan luas dan jejak panjang. Kebebasan berbicara meningkat, tetapi refleksi etis sering tertinggal.

Disiplin Bahasa dalam Praktik Pendidikan

Jika bahasa memiliki kuasa moral dan sosial, maka pendidikan harus mengajarkan disiplin berbahasa. Foucault menggambarkan disiplin diri sebagai praktik pembentukan subjek melalui refleksi berkelanjutan (Foucault, 1988). Dalam konteks komunikasi, ini berarti kesadaran akan dampak kata-kata sebelum diucapkan.

Sekolah dapat menjadi ruang latihan disiplin ini. Guru berperan sebagai teladan komunikasi etis, bukan hanya melalui materi pelajaran, tetapi melalui interaksi sehari-hari. Cara memberi kritik, menyampaikan evaluasi, atau merespons kesalahan siswa adalah praktik pendidikan moral yang nyata.

Allestree menekankan kehati-hatian berbicara sebagai tanggung jawab terhadap komunitas (Allestree, 2005). Prinsip ini relevan dalam pengembangan literasi komunikasi di sekolah: mengajarkan siswa menimbang kebenaran, empati, dan dampak sosial sebelum berbicara atau menulis. 

Pendidikan semacam ini memperluas makna literasi dari sekadar kemampuan teknis menjadi kompetensi etis.

Baca juga : Kasus Bunuh Diri Anak SD di Ngada, Cermin Rusaknya Semua Pranata dalam Masyarakat Kita

Kebebasan Berbicara dan Kebijaksanaan

Modernitas sering mengagungkan kebebasan berekspresi sebagai nilai utama. Namun tradisi etika klasik selalu mengingatkan bahwa kebebasan memerlukan kebijaksanaan. Aristoteles menyebut kebijaksanaan praktis (phronesis) sebagai kemampuan menilai situasi konkret secara tepat (Aristotle, 2004).

Dalam lingkungan pendidikan, kebijaksanaan ini tampak dalam kemampuan menyesuaikan bahasa dengan konteks relasi. Kritik yang membangun membutuhkan sensitivitas; candaan memerlukan empati; dan diam kadang lebih bermakna daripada berbicara.

Foucault menambahkan bahwa kebebasan sejati bukanlah tanpa batas, melainkan kemampuan mengelola diri sendiri (Foucault, 1988). Dengan demikian, pengendalian bahasa bukan pembatasan ekspresi, melainkan bentuk pembebasan dari impuls yang merusak relasi sosial.

Menuju Peradaban Bahasa yang Merawat

Sekolah pada akhirnya adalah institusi pembentuk peradaban. Ia tidak hanya mengajarkan matematika atau sains, tetapi juga membentuk cara manusia berinteraksi. Bahasa menjadi fondasi proses tersebut.

Noddings menegaskan bahwa pendidikan yang manusiawi bertumpu pada komunikasi yang merawat (Noddings, 2013). Bahasa yang menghargai martabat manusia menciptakan ruang aman bagi pertumbuhan intelektual dan emosional. Sebaliknya, bahasa yang merendahkan melahirkan budaya takut dan ketidakpercayaan.

Refleksi Allestree mengingatkan bahwa disiplin lidah bukanlah warisan moral kuno yang usang. Dalam dunia pendidikan modern yang penuh teknologi dan kompleksitas sosial, pengendalian bahasa justru menjadi kompetensi peradaban.

Dari percakapan kecil di ruang guru hingga diskursus publik pendidikan, kualitas kata-kata menentukan arah budaya yang sedang dibangun.

Maka mungkin ukuran kemajuan sekolah bukan hanya prestasi akademik atau fasilitas modern, tetapi juga kualitas bahasa yang hidup di dalamnya. Peradaban pendidikan tidak lahir dari kebijakan semata, melainkan dari percakapan sehari-hari yang membentuk manusia. 

Dan disitulah lidah, kuasa, dan sekolah bertemu dalam tanggung jawab moral yang sama: membangun dunia melalui kata-kata. 

Foto: Guruinovatif.id

Penulis adalah Kepala SMA Regina Pacis Jakarta dan Penulis Buku From Philosophy to the Classroom

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Lidah, Kuasa, dan Sekolah: Etika Bahasa dalam Membentuk Peradaban […]