Depoedu.com – Di tengah gemerlap ajang kecantikan, Aulia Yeyen Ainistira Lamanepa memilih berdiri dengan cara yang berbeda. Baginya, Puteri Persahabatan 2026 bukan tentang siapa yang paling menonjol, melainkan siapa yang paling mampu memahami dan menghargai orang lain.
Yeyen adalah wakil Nusa Tenggara Timur nomor urut 11. Lahir di Witihama pada 22 April 2007, ia tumbuh sebagai anak ketiga dari empat bersaudara dalam keluarga yang menanamkan nilai tanggung jawab dan kesederhanaan.
Setelah menamatkan pendidikan di SMANSA Adonara Timur pada tahun 2025, Yeyen kini tengah menapaki fase baru dalam hidupnya.
Ketertarikan Yeyen pada Puteri Persahabatan bermula dari kegemarannya berada di ruang-ruang perjumpaan. Ia menyukai cerita manusia, perbedaan latar belakang, dan proses saling belajar. “Puteri Persahabatan bukan hanya soal tampil,” ujarnya. “Ini tentang belajar berinteraksi, mendengar, dan membangun hubungan yang sehat.”
Baca Juga: Untuk Para Perempuan Adonara yang Perkasa
Makna persahabatan bagi Yeyen sangat personal. Ia menggambarkannya sebagai rumah singgah—tempat orang datang apa adanya, berbagi cerita, lalu melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang. Pandangan inilah yang membuatnya merasa ajang ini selaras dengan nilai yang ia pegang.
Proses menuju Puteri Persahabatan 2026 tidak dilalui Yeyen dengan instan. Ia pertama kali menemukan informasi pendaftaran melalui media sosial Instagram.
Rasa ingin tahu membawanya berdiskusi dengan kakak yang pernah mengikuti ajang serupa. Dengan dukungan orang tua, ia memberanikan diri mendaftar dan mengikuti seluruh tahapan awal.
Perjalanan fisik menuju Jakarta menjadi simbol perjuangan tersendiri. Bersama sang tante, Yeyen menempuh perjalanan laut selama lima hari menggunakan kapal Pelni.
Baca Juga: Strategi Parenting dalam Dunia yang Serba Mendadak
Kelelahan, keterbatasan, dan ketidaknyamanan menjadi bagian dari proses yang harus diterima. Namun justru di sanalah ia belajar tentang kesabaran dan keteguhan.
Sesampainya di Jakarta, Yeyen langsung menjalani serangkaian tugas dari panitia. Ia melakukan photoshoot, membuat video pengenalan diri, video bakat, serta berlatih catwalk. Tidak hanya soal teknik berjalan, Yeyen juga belajar bagaimana berbicara dengan baik dan membawa diri secara percaya diri di ruang publik.
Kini, ia telah melewati seluruh tahapan awal dan menyatakan diri siap mengikuti masa karantina selama tiga hari. Segala kebutuhan, termasuk busana untuk malam pertama dan grand final, telah ia persiapkan dengan sungguh-sungguh.
Dalam menjalani semua proses ini, Yeyen berpegang pada nilai yang ia pelajari dari orang tuanya, Anwar Lamanepa dan Mardia Due Dulia. Mereka menjadi role model utama dalam hidupnya. “Dari orang tua, saya belajar bahwa jadi orang baik itu soal konsistensi, bukan pencitraan,” katanya.
Saat menghadapi persoalan besar, Yeyen memilih untuk berhenti sejenak dan berpikir sebelum bereaksi. Ia mengaku lebih takut mengecewakan orang lain dibandingkan kegagalan itu sendiri. Menurutnya, kegagalan bisa diperbaiki, tetapi kepercayaan adalah sesuatu yang sangat berharga.
Baca Juga: Perempuan Juga Berhak Mengenyam Pendidikan Tinggi
Yeyen juga menyimpan mimpi untuk berkiprah di ajang internasional. Ia ingin bertemu lebih banyak sudut pandang dan membawa nilai-nilai yang ia yakini ke lingkungan yang lebih luas. Bagi Yeyen, ajang internasional adalah ruang belajar, bukan sekadar panggung prestise.
Dengan kesukaan sederhana pada ayam geprek dan jus alpukat, serta langkah yang ditempuh dengan kesadaran dan ketekunan, Yeyen menempatkan dirinya bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pembelajar.
Puteri Persahabatan, baginya, adalah perjalanan menjadi manusia yang lebih utuh—yang mampu mendengar, memahami, dan tetap rendah hati di mana pun berada.
Eduers Dapat Memberikan Dukungan Untuk Yeyen dengan Klik Link Berikut

[…] Baca juga : Puteri Persahabatan Bagi Yeyen: Ruang Belajar tentang Mendengar, Menghargai, dan Menjadi Manusia yan… […]