Di Jepang, Robot Menjadi Jalan Tengah Mengatasi Masalah Murid Bolos dari Sekolah?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Di kota Kumamoto, sebuah kota di Barat Daya Jepang, pada tahun  2018, ada 1.283 anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah yang tidak mau hadir di sekolah. Setelah pandemi tahun 2023, angka anak yang tidak mau hadir di sekolah meningkat tajam menjadi 2.760 orang.

Angka ini mengusik pemerintah kota tersebut untuk memahami dan berupaya mengatasi feneomana tersebut.  Tim yang bekerja untuk mengatasi masalah tersebut berkesimpulan, di Jepang kasus bolos dari sekolah, merupakan fenomena yang kompleks karena menyangkut banyak aspek.

Di antaranya, sekolah di Jepang kerap dikaitkan dengan ekspektasi akademis yang tinggi dan jadwal belajar yang ketat. Di samping itu, para murid dituntut untuk berprestasi di kelas. Ini menyebabkan para murid terbebani dan stres yang menyebabkan mereka memilih tidak bersekolah sama sekali.

Selain itu, di Jepang ada fenomena budaya yang dikenal sebagai Hikikomori yakni ketika remaja menarik diri dari kehidupan sosial dan menghabiskan banyak waktu untuk mengisolasi diri di rumah. Bagi tim yang ditugaskan untuk menangani fenomena ini, fenomena ini bukanlah hal yang mudah.

Mereka tidak mungkin menurunkan ekspektasi akademis lembaga pendidikan di kota tersebut. Di sisi lain, kasus ini ada akar budayanya dalam masyarakat Jepang karena terkait budaya Hikikomori, yang nampaknya berkaitan dengan krisis identitas remaja pada umumnya.

Baca juga : Otorita IKN Menggandeng 3 Top Universitas Di Belanda Untuk Terlibat Dalam Pembangunan IKN

Menghadapi fenomena seperti ini, memaksakan anak untuk datang dan belajar ke sekolah bukanlah hal yang sederhana. Yang paling realistis adalah mencari jalan tengah, toh tujuannya adalah agar remaja bisa terus belajar bahkan ketika mereka sedang bermasalah.

Di tengah perkembangan teknologi, robot kemudian menjadi solusi atas fenomena ini. Mereka kemudian melakukan uji coba menggunakan robot, untuk menggantikan murid yang bolos tersebut, agar meskipun berada di rumah, namun tetap ikut belajar seperti teman-temannya yang hadir di kelas.

Setelah rangkaian ujicoba yang berhasil, teknologi ini tidak hanya dapat memungkinkan anak tetap belajar, tetapi juga menghilangkan rasa cemas yang pada umumnya dialami oleh semua anak yang membolos. Dalam banyak kasus, bunuh diri remaja di Jepang terkait dengan gejala bolos sekolah ini.

Kini teknologi robot, telah digunakan di kota Kumamoto untuk membantu anak dan remaja untuk tetap belajar, meskipun harus berada di rumah pada jam-jam sekolah. Robot dipasang di kelas untuk menggantikan anak yang tidak masuk.

Robot tersebut dilengkapi dengan fitur yang dirancang untuk melibatkan murid, di mana murid dapat memberikan umpan balik secara real-time sehingga dapat secara efektif bertindak sebagai perpanjangan tangan murid yang membolos tersebut.

Baca juga : Tentang Pungutan Dan Sumbangan Di Sekolah Negeri NTT

Robot tersebut juga memungkinkan komunikasi dua arah yang pada dasarnya berfungsi sebagai avatar murid yang berada di rumah. Fungsi tersebut dapat terjadi karena robot tersebut dilengkapi dengan mikrofon, speaker dan kamera.

Selain itu, murid yang berada di rumah dapat mengendalikan robot tersebut dari rumah. Misalnya menjawab pertanyaan guru, terlibat dalam diskusi kelas, bahkan dengan pengendalian murid yang ada di rumah, robot dapat pergi ke kantin, pergi ke perpustakaan, bahkan terlibat dalam acara sekolah.

Semua fungsi tersebut, membuat murid yang berada di rumah tetap mengikuti proses belajar mengajar di sekolah dengan baik. Meskipun ini merupakan inisiatif awal, namun jika berhasil, ini menjadi inisiatif penting untk mengatasi berbagai masalah di bidang pendidikan.

Jika ekperimen ini berhasil, inisiatif ini akan membuka jalan bagi penerapan robot lebih luas di lingkungan pendidikan. Di antaranya, nampaknya kehadiran guru di kelas pun pada saat yang akan datang, dapat digantikan robot dalam proses belajar mengajar.

Maksudnya, guru tidak lagi harus datang ke sekolah, tetapi tetap dapat mengajar di kelasnya. Dan bisa jadi suatu saat, ruang kelas kita hanya berisi robot, sementara murid dan guru berada di rumah masing-masing.  Eduers, sudah membayangkan ya, arah perkembangan peradapan pendidikan kita? 

Foto: Detik.com

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments