Depoedu.com-Saat ini Nanyang Technological University (NTU) Singapura sedang menyiapkan program magister baru di Faculty of Science in Psychology. Program magister baru tersebut akan menjadikan Thanatology sebagai spesialisasinya. Thanatology adalah ilmu yang mengkaji segala sesuatu tentang kematian manusia.
Di antaranya mencakup, tanda-tanda kematian, perkiraan waktu kematian, proses fisiologis setelah kematian, aspek hukum kematian seperti forensik bagi kematian tidak wajar, proses perdukaan, termasuk cara memberikan dukungan psikologis bagi individu, keluarga, atau komunitas yang menghadapi kematian.
Mahasiswa yang mengambil master ini termasuk akan dilatih memberikan pendampingan dari sisi psikologis, sosial, hingga spiritual bagi mereka yang mengalami kedukaan. Lulusan program ini disiapkan untuk bekerja di rumah sakit, hospice, layanan paliatif, hingga menangani konseling krisis dan pendampingan kedukaan.
Baca juga : Guru di Era Digital: Antara Tantangan dan Peluang
Selain Thanatology, spesialisasi lain yang ditawarkan oleh program ini adalah Community Health, Neuropsychology dan Forensic Psychology. Community Health Psychology akan mempelajari intervensi kesehatan mental berbasis komunitas, termasuk menangani isu kesehatan mental di tingkat masyarakat.
Sedangkan spesialisasi Neuropsychology mendalami perkembangan manusia, fungsi otak, dan kesehatan mental. Salah satu fokusnya adalah neuropsychology pendidikan. Mereka yang mendalami spesialisasi ini akan dilatih membantu kebutuhan kognitif anak usia sekolah.
Selain itu, peserta spesialisasi Forensic Psychology disiapkan untuk mampu menerapkan Psikologi dalam sistem hukum dan peradilan pidana, termasuk di lembaga pemasyarakatan. Selain itu mereka juga disiapkan untuk ikut terlibat dalam proses forensik kasus kematian yang tidak wajar.
Program ini merupakan program magister pertama di universitas di Asia. Program ini menargetkan pada tahap awal ini akan menerima 40 mahasiswa angkatan pertama. Tentang spesialisasi Thanatology Kata Andy Ho, topik kematian masih dianggap tabu bagi masyarakat Asia pada umumnya.
Baca juga : Pendidikan Inklusif: Membangun Masyarakat yang Lebih Adil
Namun belakangan ini kebutuhan pelayanan terkait kematian mulai ada. Menurut Profesor Psikologi di NTU ini, mulai muncul kebutuhan perawatan akhir hayat dan kebutuhan dukungan bagi keluarga yang berduka. Andy Ho mencatat, di Singapura setiap tahun ada sekitar 30.000 kematian.
Menurutnya, keluarga-keluarga ini menghadapi proses kehilangan yang tidak mudah. Mereka sering merasa sendirian. Oleh karena itu, kata Andy Ho, program pendidikan khusus di bidang ini dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas tenaga profesional juga dalam mendukung kesehatan mental masyarakat.
Sedangkan direktur program ini, Rebecca M. Nichols dalam keterangannya mengatakan program ini dirancang untuk menyiapkan tenaga profesional yang mampu bekerja tidak hanya di bidang klinis, tetapi juga di tingkat komunitas dan kebijakan publik.
Program master ini akan akan berlangsung selama 1,5 tahun yang mencakup 500 jam praktik lapangan. Dirancang untuk melengkapi program Psikologi terapan yang sudah lebih dahulu ada di Singapura.
Foto: Universitas Muhamadiyah
