Depoedu.com – Orang tua memang harus mendampingi anaknya ketika anak menghadapi saat-saat penting dalam hidupnya. Namun cara mendampingi anak harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan pertumbuhan anak.
Ada kalanya orang tua perlu terlibat secara intens dalam masalah anak, namun ketika anak mulai tumbuh di masa remaja, masa dewasa awal, hingga mulai memasuki masa dewasa, cara mendampingi; intensitasnya, disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan anak.
Jika intensitas pendampingannya tidak berkurang, di mana orang tua tetap dominan dalam proses pengambilan keputusan anak, pendampingan seperti ini akan berdampak tidak sehat bagi pertumbuhan anak.
Sebuah studi dari North Carolina State University seperti dilansir pada laman detikedu, menyimpulkan bahwa orang tua yang terlalu intens terlibat dalam kehidupan anak saat anak memasuki usia remaja akhir dan dewasa muda, justru menghambat perkembangan profesional anak.
Anna Manzoni salah satu penulis studi tersebut mengatakan pendampingan yang intens pada masa anak dan remaja, memberikan hasil yang positif dalam pertumbuhan mereka. Namun ketika anak memasuki masa remaja akhir dan dewasa awal, keterlibatan orang tua yang terlalu intens justru menghambat mereka.
Penelitian tersebut menganalisis praktik pendampingan orang tua lebih dari 2.600 anak berusia 18-28 tahun. Para peneliti menyimpulkan, mereka yang orang tuanya masih terlibat intens ketika anak menghadapi masalah atau mengambil keputusan, cenderung memiliki pekerjaan yang kurang prestisius dibandingkan dengan rekan mereka yang lebih mandiri.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menilai dua variabel utama modal sosial keluarga dan prestise pekerjaan setelah memantau responden selama dua dekade, Modal sosial keluarga merujuk pada hubungan, dukungan, kepercayaan, untuk memastikan perkembangan dan kesejahteraan anggota keluarga.
Sementara prestise pekerjaan merujuk pada linieritas tingkat pendidikan dan kepantasan pendapatan rata-rata dari suatu profesi. Keluarga ikut campur tangan dalam dalam dua variabel ini ketika anak bermasalah, atau mengambil keputusan di mana anak tidak mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dan penilaiannya sendiri.
Para peneliti menyimpulkan bahwa tingkat ikut campur tangan keluarga yang terlalu tinggi ternyata berkorelasi negatif dengan prestise pekerjaan anak muda. Sebaliknya tingkat kemandirian yang dominan karena keyakinan pada kemampuan anak justru memberi pengaruh positif pada prestise pekerjaan anak.
Baca juga : Edukasi Bullying dan Kesadaran Hukum Sejak Dini
Kesimpulan lain yang penting dari penelitian ini adalah pada masa transisi dari remaja akhir menuju ke masa dewasa awal, terlalu banyak dominasi dan keterlibatan orang tua dalam berbagai keputusan tentang profesi, justru dapat membatasi pertumbuhan anak, terutama pertumbuhan profesi anak.
Pesan bagi orang tua
Orang tua yang bertanggung jawab memang harus mendampingi anak pada setiap tahap perkembangan anak. Namun intensitas pendampingannya harus berbeda pada masing-masing tahap perkembangan anak. Jangan sampai terlalu intensitas bahkan mengarah ke dominasi.
Anak tetap harus diberi ruang bebas untuk mencoba. Orang tua perlu percaya pada kemampuan anak, mendengarkan keinginan dan opini anak. Mendengarkan adalah awal dari dialog. Kepercayaan dan dialog, pada anak remaja yang sedang memasuki masa dewasa awal, adalah cara untuk menumbuhkan kemandirian dan rasa tanggung jawab.
Nampaknya kemandirian dan tanggung jawab ini yang membuat karier seseorang di masa dewasa awal berkembang menjadi lebih prestise. Dan ini adalah landasan yang sangat kuat untuk perkembangan profesi di masa dewasa. Banyak orang tua punya pekerjaan rumah untuk belajar percaya, belajar mendengarkan, belajar berdialog dengan anak.
Foto: Orami

[…] Baca juga : Studi Ini, Memberi Pesan Bagaimana Orang Tua Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab dan Kemandirian Pada An… […]