Depoedu.com-SMA Tarakanita Magelang berupaya meningkatkan kualitas penilaian akhir peserta didik dengan menerapkan soal-soal tipe Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Penggunaan soal tipe AKM menjadi bagian dari langkah strategis sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran yang relevan dengan tuntutan zaman.
Sebagaimana himbauan dari Kemendikbud, AKM merupakan salah satu instrumen penting untuk memotret kemampuan literasi membaca dan numerasi peserta didik, dua kompetensi dasar yang menjadi fondasi pembelajaran sepanjang hayat.
Pelaksanaan AKM juga menjadi respons terhadap kebutuhan global saat ini, di mana peserta didik dituntut untuk mampu beradaptasi dengan dunia yang cepat berubah serta berpartisipasi aktif dalam masyarakat.
Dengan demikian, AKM menjadi sarana bagi SMA Tarakanita Magelang untuk memastikan bahwa proses pembelajaran benar-benar membekali siswa dengan kompetensi esensial abad ke-21.
Sebagai langkah persiapan pelaksanaan AKM pada akhir semester ganjil tahun 2025, Hari Studi Guru bulan November 2025 menghadirkan narasumber Agung Tri Laksono, M.Pd., seorang penyusun soal AKM SD–SMP–SMA dari Puspenjar Kemendikbud, sekaligus penelaah soal AKM dan Fasilitator TKA Nasional.
Baca juga : KB-TK Tarakanita 5 Rayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa bersama Komunitas Hewan Bogor
Dalam pemaparannya, Pak Agung menjelaskan perbedaan antara soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) dan soal tipe AKM, terutama dalam hal ranah kognitif. Pada AKM, level kognitif dibagi menjadi tiga, yaitu pemahaman, aplikasi, dan penalaran.
Guru-guru diberikan contoh soal sederhana dan diminta mencoba mengerjakan sekaligus menjelaskan alasan di balik pilihan jawabannya. Setiap satu stimulus dapat digunakan untuk membuat sedikitnya tiga soal dengan level kognitif yang berbeda.
Pak Agung menegaskan bahwa: “Meskipun itu soal matematika, jangan terlalu ‘matematika sekali’. Artinya, bagaimana matematika digunakan sebagai alat untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari melalui cara berpikir matematis atau berhitung.”
Beliau juga menekankan agar soal yang dibuat tidak bersifat prasyarat, yaitu tidak bergantung pada jawaban benar dari soal sebelumnya. Keberhasilan peserta didik dalam menghadapi soal-soal tipe AKM dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sangat bergantung pada proses pembelajaran sehari-hari.
Untuk mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik, guru perlu mengubah paradigma pembelajaran dari sekadar penyampaian informasi menjadi proses yang mendorong siswa mencari, menemukan, menyimpulkan, dan menerapkan.
Pembelajaran yang menuntun siswa menemukan sendiri konsep akan membuat mereka lebih memahami dan mengingat materi, serta mampu mengemukakan alasan dan analisis terhadap suatu kasus.

Sebagai tindak lanjut, setiap hari peserta didik akan dibiasakan berlatih soal AKM selama 10 menit sebelum pembelajaran berakhir. Guru menyiapkan satu stimulus dengan tiga soal yang memiliki level kognitif berbeda.
Dengan pembiasaan ini, diharapkan peserta didik tidak lagi menganggap soal AKM sebagai hal baru atau asing, karena tidak berorientasi pada hafalan semata. Soal-soal AKM terdiri atas tiga level yaitu pemahaman tekstual (Level 1), pemahaman inferensial (Level 2) dan evaluasi dan apresiasi (Level 3).
Pada level yang lebih tinggi, jawaban tidak selalu tersurat dalam teks, melainkan tersirat dan memerlukan penalaran. Jenis soal AKM yang akan digunakan dalam TKA meliputi: Pilihan Ganda Tunggal, Pilihan Ganda Kompleks (Multiple Choice Multiple Answer / MCMA), dan Pilihan Ganda Kategori.
Dalam sesi diskusi, Bapak Anggoro menanyakan apakah stimulus pada setiap soal harus diambil dari sumber tertentu atau dapat dibuat sendiri. Pak Agung menjelaskan bahwa soal adalah bagian utama, sementara stimulus disusun menyesuaikan kebutuhan soal.
Karena itu, pembuatan soal AKM memerlukan waktu lebih lama agar setiap opsi jawaban benar-benar tepat dan berbasis analisis. Untuk sumber stimulus, guru dapat memanfaatkan kecanggihan AI dengan tetap melakukan verifikasi atau pengecekan ulang terhadap hasil yang diperoleh.
Sementara itu pertanyaan dari ibu Dewi terkait tantangan pembuatan soal kontekstual untuk mata pelajaran seperti Fisika dan Matematika, Pak Agung menjelaskan bahwa tidak semua materi dapat di-kontekstualkan karena perbedaan karakteristik tiap mata pelajaran.
Baca juga : Semarak Pakaian Perjuangan di Hari Pahlawan: SD Santo Carolus Gelar Upacara dan Karnaval Penuh Makna
Panduan pembuatan soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) dapat merujuk pada Perkaban Nomor 045/H/AN/2025 tentang Kerangka Asesmen TKA SMA/MA dan SMK/MAK, yang berisi muatan serta kompetensi yang akan diujikan.
Berdasarkan pembelajaran bersama dengan Bapak Agung Tri Laksono, M.Pd., guru-guru SMA Tarakanita Magelang berproses menyusun dan mempresentasikan contoh soal AKM yang telah dibuat untuk mendapatkan masukan dan perbaikan.
Dari kegiatan ini, para guru semakin siap menyusun soal tipe AKM dengan proporsi minimal 20% dari total soal yang akan digunakan dalam Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS) yang akan berlangsung pada 26 November–5 Desember 2025.
Melalui kegiatan hari studi guru dalam pelatihan penyusunan soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) ini, SMA Tarakanita Magelang akan terus mengupayakan untuk tetap berinovasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan penilaian.
Penerapan AKM tidak hanya menjadi sarana evaluasi semata, tetapi juga menjadi strategi penguatan kompetensi berpikir kritis, analitis, dan reflektif bagi peserta didik.
Semoga kegiatan pembelajaran yang berlangsung semakin menumbuhkan budaya belajar yang lebih bermakna di kelas.

[…] Baca juga : Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa SMA Tarakanita Magelang melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AK… […]
[…] Baca juga : Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa SMA Tarakanita Magelang melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AK… […]