Setelah Caesar Hendrik Meo Tnunay Juara, Lalu Apa? Pertanyaan Inilah Yang Harus Dijawab Pemerintah

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Caesar Archangels Hendrik Meo Tnunay, biasa dipanggil Nono, menjadi perbincangan publik lantaran bocah usia 8 tahun ini memiliki kecerdasan yang mengagumkan. Karena kecerdasannya, ia baru saja meraih juara pertama  Intenational Abacus World Competition.

Dalam kompetisi tersebut, ia menyelesaikan 152.010 soal Matematika secara virtual listening berbahasa Inggris dengan benar. Ia mengalahkan 7.000 peserta dari berbagai negara termasuk negara maju seperti Amerika Serikat. Setahun sebelumnya, dalam kompetisi yang sama, ia keluar sebagai juara 3.

Nono adalah wakil Indonesia yang pertama dalam sejarah kompetisi ini, yang menjadi juara dalam kompetisi international tersebut. Ia lantas mendapat apresiasi baik dari pejabat pemerintah di tingkat lokal, tingkat propinsi, hingga Kementrian Pendidikan, maupun dari lembaga swasta, berupa beasiswa dan berbagai hadiah lainnya.

Mengingat ia masih sangat belia, dengan perjalanan yang masih sangat panjang, kita berharap apresiasi-apresiasi tersebut, membuat Nono semakin termotivasi untuk belajar lebih tekun, bukan hanya untuk mempertahankan dan meraih prestasi baru, melainkan termotivasi untuk terus mengembangkan diri.

Menurut hemat saya, inilah tantangan Nono yang sesungguhnya; bagaimana Nono dengan kejeniusannya, dapat bahagia dalam tiap tahap hidupnya, dapat terus berkembang hingga menghasilkan karya inovasi jenius, yang bermanfaat untuk memecahkan masalah manusia?

Atau bagaimana keluarganya, sekolahnya, komunitasnya, termasuk pemerintah dapat memberi dukungan sehingga bakat jenius Nono dapat terus dipupuk dan dapat terus berkembang? Tanpa dukungan yang memadai, sulit mengharapkan pengembangan potensi, bahkan dapat memunculkan masalah sosial dan emosional pada anak seperti Nono.

Berikut ini 7 hal yang dapat dilakukan seperti dilansir pada laman BBC untuk memberi dukungan pertumbuhan pada anak jenius seperti Nono:

Baca juga : Ditemukan Peningkatan Kasus Diabetes Pada Anak, Karena Pola Makan Yang Tidak Sehat

1.Memberikan tantangan yang selalu baru

Anak-anak jenius selalu memerlukan  tantangan-tantangan baru untuk memelihara motivasi mereka. Tantangan-tantangan baru tersebut meningkatkan pengalaman, menumbuhkan keyakinan diri mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan mereka.

Menurut ahli psikologi, pengalaman menundukkan tantangan baru membuat anak jenius lebih nyaman dan berani ketika  mengulang hal yang sama dalam pengalaman sehari-hari. Ini membuat anak jenius lebih percaya diri sekaligus menyiapkan mereka untuk berani mencoba sesuatu yang berbeda pada saat yang akan datang.

Oleh karena itu, perlu disediakan tambahan dukungan, kebebasan belajar sesuai dengan irama anak jenius. Perlu keberanian untuk merekayasa sistem pendidikan di sekolah untuk memenuhi kebutuhan belajar mereka.

Di lingkungan sekolah, menyediakan tantangan yang selalu baru, tambahan dukungan dan kebebasan belajar masih harus diupayakan, karena pada banyak sekolah, guru masih fokus pada program remidial bagi anak bermasalah. Belum lazim sekolah menyediakan program enrichment bagi murid jenius seperti Nono.

2. Fokus memupuk bakat anak

Keluarga dan sekolah hendaknya fokus pada bakat masing-masing anak dan upaya untuk pengembangan bakat tersebut. Oleh karena itu, keluarga dan sekolah bersama anak, mengeksplor dan mengenali bakat anak masing-masing dan memberi dukungan pada pengembangan bakat tersebut.

Pada banyak kasus, guru dan orang tua fokus pada apa yang dikuasai, apa yang dapat disediakan, lalu memaksa anak menggunakan atau mengembangkan bakat yang bukan bakat mereka. Ini seperti melatih ikan terbang dan melatih burung berenang.

Semua anak perlu difasilitasi untuk mengembangkan bakat mereka masing-masing, sehingga anak bertumbuh menjadi diri mereka sendiri.

Baca juga : Tamparan Nono Sang “Malaikat Agung”: “Kemiskinan” Tak Menyilaukan Mata!

3. Dukung kebutuhan intelektual dan emosional anak

Ingin tahu adalah kebutuhan intelektual dan emosional yang penting bagi anak, sekaligus merupakan kunci dari semua pembelajaran. Anak jenius dapat menanyakan banyak pertanyaan yang jawabannya merupakan kunci pembelajaran lebih lanjut.

Oleh karena itu, meskipun pertanyaan sering kali merupakan ujian kesabaran bagi orang tua dan guru, orang tua dan guru ditantang untuk menjawabnya dengan bijaksana. Semakin banyak pertanyaan mengapa dan bagaimana dijawab secara  memuaskan, akan menjadi pemicu semangat belajar anak jenius.

Pada banyak kasus, pertanyaan anak jenius diangap sebagai ganguan oleh guru dan orang tua sehingga bukan hanya naluri bertanya anak jenius mati, melainkan  mati juga semangat belajar anak. Jika naluri bertanya anak mati, maka mati pula anak jenius dari keluarga dan sekolah  kita.

4. Fokus pada proses, bukan pada hasil

Agar anak bisa bertumbuh dalam proses belajar, fokus orang tua harus pada proses yang dilakukan oleh anak, bukan pada hasil. Anak akan belajar bereaksi melalui fokus orang tua tersebut. Jika ukurannya adalah hasil, orang tua akan dengan mudah menunjukkan kekecewaannya.

Jika fokus pada proses maka orang tua dan guru akan lebih mudah menunjukkan apresiasi, sehingga anak akan lebih merakasan dukungan. Ini akan lebih memperkuat keinginan anak untuk mengulang proses belajarnya.

5. Ciptakan iklim di mana anak tidak takut gagal

Proses belajar akan menjadi penuh tekanan jika anak takut gagal. Kegagalan harus menjadi bagian dari proses belajar. Belajar dari kegagalan harus menjadi kesempatan berikutnya untuk berkembang.

Melalui iklim ini, anak akan terbantu untuk memahami cara menangani masalah dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya. Anak harus tahu bahwa semua orang sukses adalah orang yang pernah gagal.

Baca juga : Dampak Pendidikan Yang Digegas Bagi Anak

6. Hati-hati dengan label

Jangan memberi label apapun, baik positif maupun negatif, karena label dapat membuat anak terasing dari kelompoknya. Sementara anak termasuk anak jenius membutuhkan teman sebayanya. Lebih dari itu, setiap anak memerlukan dukungan dari kelompoknya.

Label, apa lagi label yang negatif, dapat menyebabkan anak menjadi sasaran pelecehan kelompok sebayanya. Jika ini terjadi, akan menjadi hambatan yang serius dalam pertumbuhan anak.

7. Uji kemampuan anak

Untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan anak, kemampuan anak perlu diuji. Hasil ujian dapat digunakan untuk umpan balik dalam rangka melakukan perbaikan dalam program pendampingan.

Hasil uji kemampuan juga menjadi  umpan balik untuk mengungkap masalah dan ganguan dalam pertumbuhan anak, misalnya terkait tantangan sosial dan emosional pada anak.

Itulah 7 hal yang harus diupayakan untuk memberi dukungan pada anak seperti Nono agar  ia dapat terus bertumbuh menjadi anak jenius. Bagi lingkungan pendidikan di Indonesia, ini menjadi tantangan tersendiri karena keluarga dan sekolah tidak memiliki pengalaman melakukan enrichment.

Pemerintah pada umumnya dan pemerintah NTT pada khususnya harus menyiapkan dukungan untuk pertumbuhan Nono. Jangan samapai setelah reda kebanggaan dan eforia juara, pemerintah alpa memberi dukungan sehingga Nono bukannya bertumbuh melainkan menjadi masalah sosial di sekolahnya.

Foto:Netralnews.com

4.2 11 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Setelah Caesar Hendrik Meo Tnunay Juara, Lalu Apa? Pertanyaan Inilah Yang Harus Dijawab Pemerintah […]