Pemikiran Dr. Nurcholish Madjid tentang Pendidikan: Membebaskan Manusia, Mendamaikan Tradisi dan Modernitas

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Untuk memahami pemikiran pendidikan Nurcholish Madjid atau Cak Nur, kita harus memahami dahulu dua dunia yang membentuknya: pesantren tradisional di Jombang, dan pendidikan sekuler-modern di Chicago. Dari panduan itulah lahir gagasan pendidikan Islam yang tidak anti modernitas, dan modernitas yang tidak anti-Islam. 

Cak Nur adalah salah satu dari sedikit pembaharu Islam yang mengalami dua kultur edukatif secara penuh; kultur Islam tradisional dan kultur Barat modern. Karena itu kritik dan gagasannya tidak lahir dari kebencian terhadap pesantren, melainkan dari kecintaan yang ingin menyelamatkan pesantren. 

Tulisan ini hendak mengajak Eduers secara singkat mengenal kritik membangun gaya Cak Nur, inti gagasan pendidikannya,  tiga pilar pembaharuan sistem yang Cak Nur dorong, dan ternyata semua pemikirannya  masih relevan hingga hari ini. Berikut uraiannya. 

  1. Kritik yang membangun; bilik-bilik pesantren

Dalam buku klasiknya: Bilik-bilik Pesantren; Sebuah Potret Perjalanan, Cak Nur membagi pesantren menurut cara pesantren merespon zamannya; pesantren yang penuh gairah memeluk modernitas; pesantren yang melek kemajuan tetapi mempertahankan tradisi; pesantren yang memahami modernitas tetapi menjadi jangkar tradisionalisme, dan pesantren yang antagonis terhadap modernisasi. 

Kritik utama Cak Nur ada dua. Pertama, ambivalensi orientasi. Banyak pesantren yang belum memiliki tujuan pendidikan yang jelas, sistemnya hanya mengacu pada pemilik pesantren dengan segala keterbatasannya. Akibatnya, pendidikan berjalan tanpa visi yang dirumuskan secara sadar. 

Kedua,  dikotomi ilmu. Ada pemahaman parsial yang memisahkan ilmu agama dan sains, seolah ilmu umum tidak lebih penting dari ilmu agama. Padahal kata Cak Nur, polarisasi itu tidak ada dalam Islam. Islam sangat mendukung kemajuan sains dan teknologi. 

Kritik ini ia perinci lagi pada materi; fiqih yang hanya mengulang ijtihad masa lalu tanpa konteks, tafsir yang hanya 8 kitab yang dipakai berulang seperti Tafsir Jalalain, hadis yang penguasaannya kurang, dan bahasa Arab yang diajarkan sebagai hafalan nahwu-sharaf, bukan sebagai alat berpikir. 

Baca juga : Dua Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo; Abaikan Dua Putusan MK, Hak Pendidikan Anak dan Kesejahteraan Guru Terancam

  1. Inti gagasan: Pendidikan untuk manusia merdeka

Bagi Cak Nur, pendidikan yang baik adalah yang dapat membentuk manusia yang liberal dan kritis. Di mana manusia tersebut dapat menjadi manusia merdeka. Kata kuncinya adalah liberal, dalam arti asli; terbebas dari belenggu taklid, mitologi, dan feodalisme. Cak Nur kemudian merumuskan tujuan pendidikan Islam ke dalam dua dimensi hidup manusia:

  • Dimensi Ketuhanan dan Kemanusiaan (Insan Kamil). 

Tujuan pendidikan adalah menyiapkan peserta didik tidak hanya  memiliki kecakapan atau keahlian, tapi juga rasa takwa kepada Allah dan rasa prikemanusiaan pada sesama di sekitarnya. 

  • Dimensi Abd Allah dan Khalifah Allah

Manusia menurut Cak Nur adalah hamba dan sekaligus wakil Tuhan di bumi. Kualitas kemanusiaannya belum selesai, masih berproses, sehingga memerlukan mujahadah; perjuangan terus menerus, melalui pendidikan yang benar. Bagi Cak Nur pendidikan adalah proses penyempurnaan fitrah yang suci dan hanif, agar tidak rusak oleh lingkungan. 

Oleh karena itu, Cak Nur menolak pendidikan Islam yang hanya mengedepankan aspek moral saja tanpa mengembangkan iptek. Jika hanya moral, maka sistem dan lembaga pendidikan Islam akan semakin lemah, tidak diakui, bahkan dapat lenyap. 

  1. Tiga pilar pembaharuan sistem

Dari kritik dan tujuan di atas, lahirlah tiga tawaran pembaharuan Cak Nur sebagai berikut:

Pertama, Integrasi ilmu: Islam Yes, Partai Islam No. 

Gagasan terkenalnya tahun 1970, “Islam Yes, Partai Islam No,” sejatinya adalah gagasan pendidikan. Islam harus dilibatkan dan terlibat dalam pergulatan modernistik dengan kekayaan khazanah tradisional yang mapan, sekaligus diletakkan dalam konteks, ke-Indonesia-an. 

Tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan umum. Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, harus tetap dipertahankan keasliannya sebagai kekayaan Indonesia, tetapi harus membaharui sistemnya dengan memasukkan ilmu pengetahuan umum, agar selaras dengan tuntutan  masyarakat. 

Kedua, Sekularisasi dan kebebasan berpikir 

Cak Nur membedakan sekularisasi sebagai proses sosiologis; membebaskan hal-hal duniawi dari sakralisasi yang berlebihan, dengan sekularisme sebagai ideologi. 

Baca juga : Pentingnya Regulasi Emosi pada Anak dan Peran Orang Tua dalam Membentuknya

Dalam pendidikan, sekularisme berarti, berani memikirkan kembali fiqih, tafsir, dan kalam secara historis dan kontekstual, bukan menganggap semua produk ulama masa lalu sebagai sakral yang tak tersentuh. Inilah yang disebut Idea of progress dan sikap terbuka. 

Ketiga, pendidikan multikultural-pluralistik    

Ini adalah mahakarya Cak Nur. Ia melihat kemajemukan sebagai sunnatullah, grand design of God, yang harus diterima dengan lapang dada. Fitrah manusia adalah plural. Maka pendidikan Islam harus mengajarkan inklusivisme, seperti konsep ahl al-kitab dan ahl al-dzimmah-mereka yang harus dilindungi. 

Gagasan ini Cak Nur lembagakan secara nyata melalui yayasan Paramadina dan Universitas Paramadina yang ia dirikan tahun 1998. Paramadina dirancang sebagai pusat kegiatan agama dan pendidikan yang memadukan tradisi dan modernitas dengan tujuan; keterbukaan, keilmuan dan kemerdekaan, tradisi ilmiah yang kritis, melalui dialog yang bernalar, dan sistem pendidikan agama yang maju dan kompetitif. 

Selebihnya konsep ini, kini lebih berkembang di kalangan Muhammadiyah daripada di kalangan NU, terutama di jenjang universitas. Tetapi sekolah-sekolah Muhammadiyah pun, hingga sekolah menengah atas, sampai sekarang masih tertutup. 

  1. Relevansinya hari ini

Di era ketika kita meributkan ijazah, sertifikat dan penyetaraan, pemikiran Cak Nur terasa sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa ijazah bukanlah tujuan. Tujuan pendidikan bagi Cak Nur adalah melahirkan manusia yang berkeadaban, yang mampu menjadi khalifah yang adil, bukan sekedar pemegang kertas. 

Ketika pendidikan direduksi menjadi formalitas administratif untuk syarat politik, maka yang hilang adalah esensi tarbiyah; penumbuhan seluruh potensi manusia secara total, bukan hanya kegiatan belajar mengajar di lembaga formal. 

Cak Nur tidak ingin kita memilih antara santri yang kolot atau sarjana yang tercerabut dari akarnya. Cak Nur ingin kita menjadi keduanya; santri yang kritis dan sarjana yang bertakwa. Menurut Cak Nur, itu adalah manusia merdeka yang sadar dari mana ia datang, dan tahu ke mana ia harus membawa Indonesia. 

Foto: Tebuireng Online

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments