Depoedu.com-Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional yang diperingati setiap 12 September, SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya bekerja sama dengan Rumah Sakit Katolik Vincentius A. Paulo (RKZ) Surabaya menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan gigi dan mulut bagi siswa kelas 4–6.
Kegiatan yang mengusung tema “Senyum Sehat, Gigi Kuat, Anak Hebat” tersebut berlangsung pada Senin, 14 September 2026, pukul 10.00–11.30 WIB di Ruang Seni SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya. Edukasi menghadirkan drg. Andreas Adi Tegar sebagai narasumber.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk memperoleh pengetahuan sekaligus membangun kesadaran bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kebiasaan hidup sehat.
Dalam sesi edukasi, siswa diajak mengenali berbagai masalah kesehatan gigi dan mulut serta memahami langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu materi yang diberikan adalah pengenalan mengenai plak, yaitu lapisan lengket yang mengandung bakteri dan terus terbentuk pada permukaan gigi. Siswa diberi pemahaman bahwa plak bukan sekadar sisa makanan, dan perlu dibersihkan secara rutin melalui kebiasaan menjaga kebersihan gigi. Plak yang tidak dibersihkan dapat berkontribusi terhadap terjadinya karies dan peradangan gusi.
Drg. Andreas juga menjelaskan hubungan antara konsumsi gula, bakteri plak, asam, dan risiko karies. Para siswa diajak memahami bahwa bukan hanya jumlah gula yang dikonsumsi, tetapi juga seberapa sering gigi terpapar gula yang perlu diperhatikan.
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga mendapatkan penjelasan mengenai manfaat fluoride sebagai salah satu pelindung gigi. Fluoride membantu gigi lebih tahan terhadap serangan asam dan mendukung proses remineralisasi permukaan gigi. Narasumber juga menekankan pentingnya penggunaan pasta gigi berfluoride secara rutin dan sesuai usia serta petunjuk kemasan.
Tidak berhenti pada pengetahuan, siswa juga diajak memahami teknik menyikat gigi yang efektif. Pesan yang ditekankan adalah bahwa menyikat gigi tidak perlu dilakukan dengan tekanan keras, melainkan dengan teknik yang tepat.
Bulu sikat diarahkan ke garis gusi, menggunakan tekanan lembut, dengan urutan membersihkan bagian luar, bagian dalam, dan permukaan kunyah. Waktu menyikat gigi yang dianjurkan dalam materi adalah sekitar dua menit, dua kali sehari.
Siswa juga diperkenalkan dengan penggunaan benang gigi sebagai bagian dari pembersihan area di antara gigi yang tidak selalu dapat dijangkau oleh sikat gigi. Narasumber mengingatkan agar penggunaan benang gigi dilakukan secara perlahan dan tidak kasar terhadap gusi.
Selain itu, drg. Andreas mengajak siswa memperhatikan kondisi gusi. Gusi yang mudah berdarah dapat berkaitan dengan peradangan atau plak. Karena itu, kebersihan gigi dan gusi tetap perlu dijaga dengan teknik yang lembut. Apabila perdarahan sering terjadi, banyak, atau menetap, siswa dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter gigi.
Para siswa juga diajak mengenali tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan, seperti nyeri gigi, gusi sering berdarah, adanya lubang atau perubahan warna pada gigi, sakit saat menggigit, gigi goyang atau mengalami cedera, serta pembengkakan atau keluarnya nanah.
Untuk membuat suasana pembelajaran lebih interaktif, kegiatan dilengkapi dengan sesi “Mitos atau Fakta?”. Siswa diajak mengangkat tangan dan menentukan apakah sejumlah pernyataan mengenai kesehatan gigi merupakan mitos atau fakta. Aktivitas tersebut membantu siswa menguji pemahaman mereka terhadap materi yang telah disampaikan.
Sebagai tindak lanjut, siswa diperkenalkan dengan “Tantangan 7 Hari: Gigi Sehat”. Siswa diajak memilih sedikitnya tiga kebiasaan untuk dilakukan secara konsisten selama tujuh hari, antara lain menyikat gigi pada pagi dan malam hari, memilih air putih, membatasi gula, membersihkan sela gigi, serta tidak menunda ketika mengalami masalah gigi.
Baca juga : SMA Tarakanita Magelang Hadirkan Education Fair 2026 untuk Mendukung Studi Lanjut Siswa
Kepala SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya, Antonius Gunarto, S.Pd., menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya kegiatan edukasi kesehatan gigi dan mulut melalui kerja sama dengan Rumah Sakit Katolik Vincentius A Paulo Surabaya.
“Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan anak secara keseluruhan. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang cara merawat gigi, tetapi juga diajak membangun kebiasaan sehat yang dapat mereka lakukan setiap hari,” jelas Kepala SD Santo Yosef.
Kami berharap edukasi dari drg. Andreas dapat menjadi pengalaman yang bermakna dan mendorong anak-anak untuk semakin peduli terhadap kesehatan dirinya,” lanjutnya.
Menurut Pak Gun, kegiatan edukasi kesehatan seperti ini juga sejalan dengan upaya sekolah dalam mendampingi siswa untuk tumbuh secara utuh, baik dalam aspek akademik maupun pembentukan karakter dan kebiasaan hidup sehat.
“Kami berterima kasih kepada Rumah Sakit Katolik Vincentius A Paulo Surabaya dan drg. Andreas Adi Tegar yang telah berbagi pengetahuan dengan anak-anak. Semoga kerja sama seperti ini dapat terus dikembangkan sehingga sekolah menjadi tempat yang semakin mendukung tumbuh kembang anak yang sehat, percaya diri, dan mampu menjaga dirinya dengan baik.”
Kerja sama antara SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya dan Rumah Sakit Katolik Vincentius A Paulo Surabaya dalam kegiatan ini menjadi bentuk nyata kolaborasi dalam memberikan edukasi kesehatan kepada anak-anak.
Dengan pengetahuan yang tepat dan kebiasaan yang baik sejak usia sekolah, diharapkan para siswa semakin peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
