Makanan Bergizi Gratis: “Perang Melawan Stunting di Era Perang Modern”

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Perang modern tidak lagi selalu ditandai dentuman senjata dan pergerakan pasukan. Ia menjelma dalam bentuk yang lebih senyap namun mematikan: krisis pangan, ketimpangan gizi, dan kegagalan negara melindungi generasi masa depannya. 

Dalam konteks inilah stunting harus dibaca bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan medan pertempuran strategis. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menjadi salah satu senjata negara dalam perang generasi ini.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan prevalensi stunting nasional masih berada di angka 21,6 persen, jauh dari target WHO di bawah 20 persen (Kemenkes RI, 2023). 

Di wilayah Timur Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), angka ini bahkan melampaui rata-rata nasional. Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi tentang kehilangan potensi kognitif, produktivitas ekonomi, dan ketahanan bangsa dalam jangka panjang (UNICEF, 2021).

Baca juga : Karena Ada Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2025-2045, Hentikan Bongkar Pasang Kebijakan Pendidikan

Konsep perang modern atau non-kinetic warfare, menempatkan sumber daya manusia sebagai target utama. Negara yang gagal menjamin kecukupan gizi anak-anaknya sesungguhnya sedang kalah sebelum perang dimulai. 

Seperti dikemukakan Joseph Nye (2004), kekuatan suatu bangsa hari ini ditentukan oleh kualitas manusianya, bukan sekadar persenjataan.

Di sini, di titik inilah MBG menjadi relevan. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai intervensi gizi, tetapi juga instrumen negara dalam memastikan kehadiran negara hingga ke meja makan anak-anak sekolah. 

Bagi daerah seperti Flores Timur, MBG berpotensi menjadi pengungkit ekonomi lokal bila bahan pangan diserap dari petani, nelayan, dan UMKM setempat, bukan melalui rantai pasok terpusat yang panjang dan rapuh.

Baca juga : Jaga Kesehatan Ginjal Dengan Menghindari Konsumsi Jenis Makanan Ini

Namun, MBG juga menyimpan risiko. Tanpa tata kelola yang transparan dan berbasis data lokal, program ini bisa terjebak menjadi proyek logistik semata. 

Stunting adalah persoalan multidimensi: sanitasi buruk, kemiskinan struktural, rendahnya literasi gizi, serta akses layanan kesehatan ibu dan anak yang terbatas (Bappenas, 2020). MBG tidak akan menang sendirian tanpa orkestrasi kebijakan lintas sektor.

Perang melawan stunting adalah perang jangka panjang. Ia menuntut konsistensi, keberanian mengoreksi kebijakan, dan keberpihakan nyata pada daerah rentan. MBG hanyalah satu senjata. 

Kemenangan ditentukan oleh strategi menyeluruh dan kemauan politik untuk menjadikan anak-anak Indonesia sebagai pusat pertahanan bangsa. 

Tulisan ini pernah tayang di eposdigi.com, ditayangkan kembali dengan seizin penulis.

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments