Setelah Tes Kemampuan Akademik (TKA) lalu Apa?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Rata-rata nilai TKA siswa SMA/MAN tahun 2025 hanya bertengger di angka 30 dari skala 100. Secara lebih spesifik, rata-rata nilai TKA untuk tiga mata pelajaran wajib: Bahasa Indonesia 55,38; Matematika 36,10; dan Bahasa Inggris 24,93.

Secara keseluruhan, jika dibagi ke dalam kluster Jawa dan luar Jawa: DI Yogyakarta mencatat nilai rata-rata tertinggi (65,69), DKI Jakarta (63,39), dan Jawa Tengah (61,56). Papua, Maluku dan NTT masih dibawah angka 40-an.

Soal ketimpangan ini tidak diperlukan penelitian pembuktian dan kerja penelitian sia-sia karena jawaban untuk alasan ketimpangan sudah menjadi catatan sejarah yang nyaris tak berubah dari waktu ke waktu.

Pertanyaan: Setelah mengidentifikasi ketimpangan nilai rata-rata di atas, apa yang sudah dilakukan, baik untuk menaikkan nilai rata-rata pada umumnya dan terutama untuk daerah di luar pulau Jawa? Nah di sinilah letak persoalannya.

Kita memiliki rekaman jelas tentang jebolnya nilai siswa Indonesia dalam berbagai ajang tes internasional seperti PISA dan TIIMS. 

Baca juga : Pelayanan Pendidikan di Lokasi Bencana Banjir Sumatera Mulai Kembali Pulih, 85 Persen Sekolah Mulai Kembali Beroperasi

Untuk menanggapi rekor buruk itu anggaran pendidikan lalu dinaikkan, kurikulum dibenahi, sistem ujian ditata ulang, peningkatan kapasitas guru lewat berbagai pelatihan termasuk peluncuran program guru penggerak, kurikulum berganti nama dan corak, tetapi tidak ada perubahan posisi Indonesia dalam peta pendidikan internasional dari tes yang satu ke tes yang lain. 

Haruskah siswa yang dijadikan kambing hitam terus? Apa yang salah?

Sistem penilaian yang sentralistik hanya mampu menangkap potret umum yang diwakili oleh nilai rata-rata. Maka solusinya pun bersifat generik oleh „dokter umum“ pendidikan di pusat yang tidak mengenal guru dan murid sebagai pasien ruang kelas di daerah. 

Satu terapi untuk semua penyakit dan semua pasien dari Sabang sampai Merauke: perbanyak pelatihan, adakan guru penggerak, dan sebagainya dan seterusnya. 

Kita belum pernah mendengar ada solusi ekspert berdasarkan hasil analisis TKA atau tes yang lain, bahwa titik rentan rendahnya kinerja pembelajaran itu ada di mana? 

Di sinilah kita tidak pernah mendengar analisis ahli kurikulum dan evaluasi pendidikan sebagai dokter spesialis pendidikan.

Baca juga : Perayaan Natal SD Santo Yosef Tarakanita Surabaya, Wujud Sukacita dan Talenta Siswa

Seharusnya para ekspert bidang kurikulum dan evaluasi pendidikan bisa menunjukkan bahwa perbaikan itu harus dimulai, misalnya, dari membenahi KBM di kelas, atau kompetensi menyusun RPP dengan taksonomi Bloom yang benar, atau kemampuan menyusun tujuan pembelajaran dan menyusun alat evaluasi level HOTS dengan implementasi dalam praksis KBM juga konsisten pada level HOTS.

Rejim pendidikan teknokratik menjawab persoalan kualitas dengan menaikkan anggaran, memperbanyak pelatihan untuk guru, tetapi semuanya berbentuk proyek di tangan orang pusat yang tak paham persoalan spesifik pendidikan di tiap daerah, tiap sekolah, dan tiap ruang kelas.

Kekonyolan, jika tak mau disebut kebodohan, dari pola mengatasi persoalan kualitas pendidikan dengan pendekatan seragam oleh pusat, dari waktu ke waktu, membenarkan apa yang dianggap sebagai pernyataan Albert Einstein: “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.“ 

Apa arti pernyataan ini? Silahkan belajar sendiri!

Pernyataan Einstein itu membenarkan ketidak-masuk-akalan (impossibility) dari suatu relasi dua variabel yang linear. Tetapi pernyataan itu bisa benar jika kita mengandaikan Einstein sedang berbicara mengenai fisika kuantum. 

Sayangnya, sekali lagi sayangnya, nama fisika kuantum saja belum pernah kita dengar. 

Foto: Garuda TV

Tulisan ini pernah tayang di eposdigi.com, ditayangkan kembali dengan seizin penulis

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments