Depoedu.com-SMA Tarakanita Magelang mengadakan seminar budidaya jamur dalam kegiatan kokurikuler MIPA Kelas X dengan tema “Eksplore Jamur Tiram Dari Sekolah” dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang ada Bapak Agus Dwi Sutrimo, S. P dan Bapak Muhlasin, S. P.
Kedua narasumber tersebut merupakan pakar dalam bidang pertanian. Kegiatan Kokurikuler MIPA Kelas X kali ini memiliki banyak sekali manfaatnya, tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk budidaya jamur mulai dari menanam sampai memanen.
Lebih dari itu peserta didik diajarkan untuk menumbuhkan ilmu, karakter, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar terutama lingkungan sekolah.
Banyak hal dan ilmu baru yang disampaikan oleh narasumber kita kali ini mulai dari pengenalan jamur tiram dikarenakan ada beberapa anak yang tidak tahu mengenai jamur tiram.
Melalui penjelasan narasumber peserta didik lebih mengetahui jamur tiram memiliki bentuk yaitu seperti payung dengan ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dengan tudung berbentuk setengah lingkaran yang mirip cangkang.
Jamur tiram ini merupakan jamur pangan yang tumbuh bergerombol. Jamur tiram layak untuk dikonsumsi karena mengandung banyak protein nabati dengan kisaran 10-30%, dapat diolah menjadi beberapa masakan seperti campuran sup, salad, pepes atau diolah menjadi keripik jamur.
Selain mengandung protein, jamur tiram juga mengandung lemak, fosfor, besi, thiamin dan riboflavin yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain.
Budidaya jamur tiram memiliki peluang yang menjanjikan dikarenakan dengan modal yang relatif kecil dan terjangkau oleh masyarakat dapat menghasilkan keuntungan yang besar.
Semua lapisan masyarakat dapat melakukan budidaya jamur tiram ini karena menggunakan teknologi yang terjangkau dan fleksibel sehingga dapat dilakukan dimana saja, kapan saja.
Budidaya jamur tiram juga tidak mengenal musim, dapat dijalankan dalam skala rumah tangga kecil. Budidaya jamur tiram ini mempunyai waktu panen yang singkat 1,5 bulan sudah dapat untuk dipanen.
Baca juga : Pemberkatan Asrama Karyawan Putri Yayasan Tarakanita Wilayah Surabaya
Ketika akan melakukan budidaya jamur tiram perlu diperhatikan beberapa teknologi dalam menyiapkan bangunan untuk budidaya jamur diantaranya 1) ruang persiapan, ruang persiapan ini digunakan untuk melakukan kegiatan pengayakan, pencampuran, pewadahan, dan sterilisasi;
2) ruang inokulasi, ruangan ini berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, perlu diperhatikan ruang ini harus mudah dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi dari mikroba lain;
3) ruang inkubasi, ruangan ini berfungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah diinokulasi. Kondisi ruangan diatur pada suhu 22-28° C dengan kelembaban 60-80 %;
4) Ruang penanaman (kumbung jamur), ruang ini digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur, ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16-22° C dengan kelembaban 80-90%.
Tak hanya itu narasumber juga membagikan teknik budidaya jamur mulai dari 1) alat dan bahan meliputi: mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, kantong plastic, karet, kapas, cincin, plastik, centong, serbuk kayu, bekatul, kapur, dan sukrosa;
2) pengayakan, serbuk kayu mempunyai Tingkat keseragaman yang kurang baik, sehingga menyebabkan tingkat pertumbuhan miselia tidak merata. Untuk mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu diayak;
3) pencampuran, bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50-60% atau bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup;
4) pengomposan, merupakan proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membungkus campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastik;
5) pembungkusan atau pembuatan baglog, pembungkusan ini dengan menggunakan plastik polipropilen dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkusnya dengan memasukkan media ke dalam plastic kemudian ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan filler kemudian disimpan;
6) sterilisasi, dilakukan dengan menggunakan alat sterilizer yang bertujuan mematikan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur;
7) Inokulasi atau pemberian bibit, setelah di sterilisasi baglog ditiriskan selama 1 malam, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas atau koran bekas;
8) Inkubasi atau masa pertumbuhan miselium, inkubasi jamur dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu, inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40-6- hari;
9) Panen jamur, panen ini dilakukan setelah pertumbuhan miselium jamur mencapai tingkat yang optimal, biasanya dalam waktu 1 – 2 minggu sejak pembukaan tutup baglog. Pemanenan biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur.
Baca juga : TK B Santo Yosef Tarakanita Belajar Sambil Bermain: Serunya Melengkapi Angka yang Hilang!
Narasumber juga membagikan tips dan trik ketika pemanenan jamur yang merupakan hal-hal penting antara lain, 1) sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk memperhatikan kesegaran dan mempermudah pemasaran;
2) lebih baik tidak menggunakan kuku tangan, tetapi menggunakan pisau yang telah disterilkan;
3) tinggalkan atau sisakan sedikit pangkal buah jamur yang di panen;
4) media tidak boleh terangkat.
Selain tips dan trik dalam pemanenan jamur dibagikan juga tips dan trik dalam pemeliharaan yaitu 1) menjaga kebersihan dalam melakukan budidaya jamur tiram baik kebersihan alat;
2) selama melakukan penanaman perlu menggunakan masker untuk memperkecil kontaminasi;
3) menjaga kelembaban ruang dengan kelembaban 80%-90% dapat dengan membasahi ruangan dengan semprotan air atau membasahi rantai;
4) pengaturan sirkulasi udara yang baik dengan jendela yang dilengkapi paranet.
Terlihat peserta didik sangat antusias ketika narasumber menyampaikan materi dan sesi tanya jawab, peserta didik menyampaikan beberapa pertanyaan yang akan digunakan sebagai bekal praktik budidaya jamur tiram pada pertemuan selanjutnya.
Setelah seminar selesai, narasumber bersama dengan para guru pendamping melihat ruangan yang akan digunakan budidaya jamur di sekolah.
Pada sesi tersebut narasumber memberikan masukan serta saran baik untuk mempersiapkan ruangan budidaya jamur agar nantinya ketika praktik budidaya jamur dapat menghasilkan hasil yang baik.
