Studium Generale MPLS Hari ke-5 SD Tarakanita 5 “Aku dan Kamu, Kita Bertumbuh Bersama”

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-SD Tarakanita 5 Rawamangun menyelenggarakan kegiatan Studium Generale sebagai penutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari ke-5. Kegiatan ini mengusung tema “Aku dan Kamu, Kita Bertumbuh Bersama” dan menghadirkan narasumber inspiratif, Ibu Ai Rahmayanti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2022–2027. 

Kegiatan ini dirancang untuk menanamkan kesadaran kepada peserta didik tentang pentingnya menciptakan relasi yang sehat, saling menghargai, serta membangun lingkungan sekolah yang bebas dari tindakan perundungan (bullying).

Dalam pengantar kegiatan, Bapak Filemon Sagala selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan menyampaikan pesan penting yang sangat relevan bagi kehidupan sosial anak-anak. Beliau mengajak peserta didik untuk mulai memahami perbedaan antara bercanda yang menyenangkan dan perilaku yang justru bisa menyakiti perasaan teman. 

Sering kali, bullying tidak disadari karena bermula dari candaan atau kebiasaan sehari-hari yang dianggap biasa, namun bisa berdampak negatif bagi mental dan emosional orang lain. Beliau mengingatkan bahwa setiap ucapan dan tindakan memiliki pengaruh, sehingga penting bagi setiap siswa untuk bersikap bijak, peka, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi.

Sekolah, menurut beliau, bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter yang peduli, sopan, dan mampu membedakan mana perilaku yang benar dan yang salah.

Dalam sesi utama, Ibu Ai Rahmayanti memberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya perlindungan terhadap anak, sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak yang mengatur hak-hak anak usia 0–18 tahun untuk hidup dalam lingkungan yang aman dan nyaman.

Baca juga : Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Jadi Materi MPLS di SMP Tarakanita 2 Jakarta

Beliau menjelaskan bahwa bullying bisa hadir dalam banyak bentuk—baik fisik, verbal, sosial, maupun digital—dan sering kali dilakukan dengan alasan bercanda. Namun, sekalipun tanpa niat jahat, tindakan tersebut tetap bisa melukai dan merusak kepercayaan diri seseorang.

Oleh karena itu, peserta didik diajak untuk lebih sadar terhadap dampak dari tindakan kecil sekalipun, serta lebih peka dalam menilai situasi sosial di sekitar mereka.

Sesi ini berlangsung secara aktif dan interaktif. Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengikuti diskusi, menjawab pertanyaan, dan membagikan pengalaman mereka. Ibu Ai juga memperkenalkan konsep “ruang aman” bagi anak-anak. 

Ruang aman tersebut terdiri dari tiga aspek utama: keamanan fisik (terhindar dari kekerasan dan perundungan), keamanan emosional (memiliki kebebasan untuk mengekspresikan perasaan), dan keamanan sosial (merasa diterima dan dihargai dalam pergaulan). Ia menekankan bahwa semua warga sekolah memiliki peran dalam mewujudkan ruang aman ini.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, peserta didik diajak untuk berani bersikap ketika melihat tindakan bullying terjadi. Mereka dapat mengingatkan teman secara baik, mendampingi korban, dan mengajak mereka kembali ke dalam lingkaran pertemanan yang sehat.

Memberikan dukungan dan semangat juga menjadi cara membangun self-resilience atau daya tahan diri bagi mereka yang pernah mengalami perundungan. 

Dalam menangani bullying, Ibu Ai menekankan bahwa pendekatannya tidak boleh dengan kekerasan, tetapi dengan cara yang baik, edukatif, dan mendukung pemulihan.

Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Bapak Sarwono dari Satuan Pelaksana Pendidikan Pulogadung, yang hadir dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MPLS di SD Tarakanita 5. 

Dalam kunjungannya, beliau menyampaikan apresiasi atas jalannya kegiatan yang tidak hanya informatif tetapi juga membangun karakter anak.

Beliau juga menekankan pentingnya kegiatan pembinaan seperti ini untuk membentuk generasi muda yang sadar akan hak dan kewajibannya, serta mampu menjaga diri dan orang lain dari tindakan kekerasan atau perundungan.

Kehadiran beliau sekaligus menjadi bentuk dukungan dari pihak eksternal terhadap pelaksanaan pendidikan karakter di lingkungan sekolah dasar.

Melalui kegiatan Studium Generale ini, SD Tarakanita 5 menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi rumah kedua yang aman, nyaman, dan mendukung pertumbuhan karakter siswa.

Baca juga : Hari Kedua MPLS SD Tarakanita 5 Jakarta: Menanamkan Nilai Dasar dan Profil Lulusan yang Inspiratif

Harapannya, para peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menjadi pribadi yang peduli, berani membela kebenaran, dan menciptakan suasana sekolah yang penuh kasih dan persaudaraan. 

Semangat “Aku dan Kamu, Kita Bertumbuh Bersama” diharapkan dapat terus hidup dalam setiap langkah mereka di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih dari itu, pencegahan bullying tidak bisa hanya dilakukan oleh pihak sekolah saja. Diperlukan kerja sama yang kuat dan berkelanjutan antara sekolah, guru, orang tua, serta lembaga-lembaga terkait. 

Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak dan pihak sekolah, sementara guru dan tenaga pendidik diharapkan terus membimbing dan memberi teladan dalam perilaku sehari-hari. 

Kolaborasi lintas pihak ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan budaya sekolah yang aman, peduli, dan bebas dari kekerasan. Dengan dukungan bersama, setiap anak berhak merasakan lingkungan belajar yang sehat untuk tumbuh dan berkembang secara utuh. 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments