Indahnya Budaya Negeri dalam Proyek Nusantara

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 8 Februari 2025 telah menjadi saksi bisu dalam sebuah acara perayaan budaya yang megah, mewah, dan meriah hingga menggetarkan jiwa, yang diselenggarakan oleh sekolah Candle Tree.

Dilakukan pada bangunan bersejarah di Jakarta Pusat, lebih dari 300 murid sekolah Candle Tree difasilitasi untuk menuangkan kreativitas, keanggunan, harmoni, dan nilai estetika melalui perpaduan dari empat cabang seni. 

Sebagai bentuk apresiasi mereka terhadap budaya Bali, siswa-siswi ini berhasil mengemas sebuah penampilan teatrikal yang spektakuler bertajuk Proyek Nusantara 2025. Namun bukan hanya penampilan empat cabang seni saja yang dapat disaksikan.

Pameran Seni dan Kewirausahaan 

Di sayap kanan, terpampang berbagai karya-karya menakjubkan dari para murid beserta guru yang masuk ke dalam divisi Pameran Seni. Terdapat wayang kulit tradisional, berbagai lukisan memukau di atas kanvas, dan karya topeng yang terbuat dari lilin; semuanya mengusung tema budaya Bali. 

Sebagian besar hasil karya ini dijual untuk umum selama ajang Pameran Seni masih dibuka. Sementara itu, di sayap kiri gedung terdapat anak-anak SMA dari divisi Kewirausahaan yang berjualan di dalam area bazar.

Di sini, para hadirin boleh membeli berbagai jajanan, mulai dari minuman yang segar hingga makanan-makanan ringan. Selama waktu ini pula, hadirin diperkenankan untuk mengabadikan setiap momen mereka dengan berfoto di sekitar Gedung Kesenian Jakarta. 

Layaknya acara besar sekolah Candle Tree pada umumnya, proyek Nusantara dibuka 17.30 dengan nyanyian lagu “Indonesia Raya” dan “Mars Candle Tree” oleh seluruh hadirin. Setelah seluruh lampu dimatikan dan auditorium menjadi sunyi, pertunjukkan pun dimulai.

Pertunjukan musik 

Di bawah arahan dan aransemen Mas Rakka, sebuah mahakarya musik dengan komposisi yang luar biasa, dilahirkan. Alunan gamelan tradisional khas Bali yang telah dilatih kepada para pemain selama 4 bulan, bertaut mesra dengan iringan instrumen dari musik modern. 

Pertunjukkan dimulai dengan vokal solo oleh Angelique, siswi kelas 12, yang membawakan lagu “Nyiur Hijau” dengan iringan lembut keyboard 1, menciptakan suasana syahdu sebelum transisi menuju aransemen dinamis “Jangi Janger” yang dimainkan oleh perpaduan instrumen modern dan gamelan.

Puncak pertunjukkan musik terjadi saat “Jangi Janger” kembali dimainkan serta paduan suara dan para pemusik lainnya yang meneriakkan “Cak-cak” dalam gaya kecak khas Bali, yang dimana merupakan sebuah inovasi dari Mas Rakka,  dengan tujuan memperkuat unsur budaya dalam format kontemporer.

Baca juga : Hari Studi Pembantu Pelaksana Yayasan Tarakanita Surabaya “Metode Menanam Terbalik”

Ketegangan semakin memuncak ketika solo gitar dengan aransemen “Don Dap Dape” yang emosional, menggema di auditorium, berpadu dengan instrumen tradisional dan modern, dilengkapi dengan biola, menciptakan pengalaman musikal yang mendalam.

Momen tersebut telah mencapai klimaks dari pertunjukkan, dengan membawa energi yang membara dan meriah. Sebagai penutup yang mengesankan, vokalis kembali membawakan “Tanah Airku” dengan penuh penghayatan, memberikan akhir yang megah.  

Lagu ini menjadi persembahan terakhir yang menggugah hati dan membangkitkan rasa cinta mendalam terhadap tanah air Indonesia, menghadirkan perjalanan musikal yang semakin memukau, siswa-siswi kelas 11 dan 12 dengan biola serta perpaduan anak-anak sekolah dasar. 

Ini menunjukkan daya tarik dan keahlian mereka dalam memainkan instrumen, menciptakan lapisan emosi lebih kaya dan mendalam bagi para penonton. Setiap nada yang dimainkan seakan merangkai kisah yang menginspirasi dan membangkitkan semangat Nusantara, baik bagi para pemain maupun penikmatnya. 

Ini membuktikan bahwa musik memiliki kekuatan untuk menyatukan serta menggerakkan hati, dan musik adalah bahasa universal yang melampaui batas ruang dan waktu.

Dengan mengusung tema Bali, alunan yang tersaji menghadirkan suasana eksotis yang mengalir di setiap nada, menampilkan harmoni yang menggambarkan perpaduan antara tradisi dan inovasi secara apik.

Inilah saat di mana tradisi dan inovasi saling merangkul, di mana perpaduan antara vokal dan orkestra yang luar biasa, beralun merdu sehingga berhasil menciptakan simfoni yang akan dikenang selamanya, oleh pemain, maupun penonton.

Pertunjukan tari

Setelah pertunjukan musik yang memukau, panggung berlanjut dengan pertunjukan tari, dimulai dengan tarian modern oleh siswa-siswi dari jenjang sekolah dasar, yang mencerminkan ekspresi kreatif generasi muda dalam seni gerak.

Transisi mengalir menuju Tari Pendet, di mana para penari dengan anggun menaburkan bunga dalam suasana sakral, melambangkan penyambutan dan ungkapan syukur khas budaya Bali, serta penghormatan terhadap budaya yang sudah turun-temurun.

Berikutnya, Tari Cendrawasih dibawakan oleh dua siswi kelas 12, menghadirkan gerakan lembut yang menggambarkan keindahan burung cendrawasih, simbol keharmonisan dan keagungan alam.

Energi panggung semakin meningkat dengan Tari Kecak yang dibawakan oleh para siswa SMA, yang menampilkan kekuatan spiritual dan keberanian dalam menghadapi kegelapan, diiringi dengan vokal ritmis “Cak cak cak” yang menggema di auditorium. 

Pertunjukan mencapai titik dramatiknya dengan perpaduan Tari Pendet dan Tari Kecak dalam sentuhan Genjek Bali Pangkas, yang menonjolkan keceriaan dan interaksi sosial khas masyarakat Bali dalam perayaan budaya mereka. 

Suasana semakin tegang dengan munculnya Tari Rangda & Leak, yang menghadirkan unsur mistis dan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan. Para penari Pendet berlarian ketakutan saat Rangda & Leak menampilkan gerakan khas yang melambangkan kegelapan dan kekuatan magis.

Dalam adegan klimaks, pendeta Bali memasuki panggung, membawa simbol perlawanan terhadap kekuatan jahat. Dengan gerakan dan mantra khasnya, ia menghadirkan harapan serta keseimbangan spiritual, dimana kebaikan dan kejahatan selalu berdampingan.

Sebagai penutup, seluruh penari—dimulai dari Tari Pendet, Kecak, Cendrawasih, hingga Rangda, Leak, dan pendeta Bali—bersatu dalam tarian megah dengan iringan lagu “The Beauty of Bali”. 

Koreografi ini menjadi simbol harmonisasi antara warisan tradisional dan eksplorasi seni modern, mengukuhkan visi Proyek Nusantara 2025 dalam menjaga serta mengembangkan budaya Nusantara agar tetap relevan di era kontemporer.

Pertunjukan Sendratari

Setelah pertunjukan tari yang mendapat tepuk tangan meriah dari audiens, para murid menampilkan sendratari dari wiracarita Ramayana, yang melibatkan 70 peserta didik dari SD hingga SMA.

Tokoh-tokoh utama dalam drama ini yaitu Rama (Gerrald XII IPA 2), Sinta (Grescia XII IPS), Hanoman (Jerome XII IPS), dan Rahwana (Demetrius XI IPA 2). Dalam pengasingan bersama istrinya, Rama menemani Shinta menyusuri hutan bersama dengan adiknya, Laksmana.

Baca juga : Keluarga Air Hidup Bagi Anggota Keluarga, Sesama, dan Tarakanita

Singkat cerita, Laksmana dan Rama terpisah dari Sinta karena jebakan dari Rahwana. Rahwana menculik Sinta dan membawanya kembali ke kerajaannya, Alengka. Sementara itu, masih berlokasi di hutan, Rama dan Laksmana bertemu dengan Hanoman, seekor kera putih yang sakti dan pemberani.

Ia bersama pasukan-pasukan kera membantu Rama untuk menyelamatkan Sinta. Rama meminta Hanoman untuk berangkat lebih dahulu dengan membawa cincin miliknya. Sesampainya Hanoman di kerajaan Alengka, ia memberikan cincin itu kepada Sinta dan hendak membebaskannya, namun aksinya gagal.

Sesampainya Rama dan Laksmana di kerajaan itu, mereka berperang melawan Rahwana dan pasukan-pasukannya. Pada akhirnya, Rahwana dibunuh oleh panah ajaib Rama dan Sinta berhasil diselamatkan. Namun, Rama meragukan kesucian Sinta sehingga ia merasa tersakiti dan memilih untuk pergi selamanya.

Kisah ini menggambarkan tentang kesetiaan, pengorbanan, keberanian, dan ketangguhan bahkan dalam masa-masa yang sulit. 

Panitia Proyek Nusantara 2025

Di penghujung acara, seluruh orang yang terlibat dalam proyek ini dipanggil untuk berkumpul di tengah panggung. Kata-kata penutup disampaikan oleh MC. Dengan lambaian tangan menjadi gestur perpisahan antara siswa-siswi dengan audiens, tirai pun ditutup dan Project Nusantara 2025 resmi selesai.

Di balik layar, terdapat banyak panitia yang ikut terlibat demi kelancaran Project Nusantara 2025. Selama lebih dari satu semester, seluruh murid yang terlibat dalam kepanitiaan rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja di dalam dan di luar jam sekolah.

Sebagai koordinator acara, siswi kelas 12 Patricia Ellena Chia patut diberikan apresiasi atas dedikasinya. Panitia yang lain juga tak kalah hebatnya, mulai dari wakil koordinator acara, koordinator divisi, sekretaris, bendahara, divisi kostum, divisi tata rias, divisi humas, divisi design digital, hingga guru-guru yang ikut mendampingi mereka.

Secara khusus, Yayasan Kasih Sehati telah mendanai sebagian besar dari acara ini bersama dengan sponsor yang bersedia untuk melakukan kerjasama. Semuanya telah berkolaborasi dengan kompak dan penuh kasih, menghasilkan sebuah proyek yang tiada taranya.

Melalui Proyek Nusantara 2025, sekolah Candle Tree berharap semakin banyak generasi muda yang mengenal keindahan budaya Nusantara. Dengan begitu, nilai budaya Indonesia akan tetap hidup dan diwariskan turun-temurun di masa depan. 

Penulis adalah siswa kelas XII SMA Candle Tree 

4.7 15 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments