Depoedu.com-Setelah pemerintah Finlandia tahun lalu memutuskan untuk meninggalkan perangkat digital dalam proses belajar mengajar, tahun ini pemerintah Swedia mengambil langkah serupa. Hal tersebut dilakukan setelah 15 tahun melakukan modernisasi sekolah dengan mengganti buku teks dengan buku digital yang diakses melalui komputer dan perangkat digital lainnya.
Ketika itu Swedia mempertimbangkan bahwa penggunaan buku digital dan perangkat digital lainnya dalam proses belajar mengajar, membuat para murid lebih lebih mudah mengakses materi pembelajaran. Selain itu, pembelajaran dibayangkan lebih menyenangkan, lebih efektif dan efisien bagi para murid.
Selain tujuan tersebut, penggunaan perangkat digital termasuk buku digital juga dimaksudkan untuk membiasakan dan menyiapkan para murid memasuki tuntutan digitalisasi pada abad 21.
Dampak buruk digitalisasi pembelajaran
Namun setelah proses belajar mengajar secara digital berlangsung selama kurang lebih 15 tahun, digitalisasi dalam proses belajar mengajar ternyata diikuti dengan berbagai permasalahan yang justru menghambat para murid dalam mencapai tujuan pendidikan. Ini tidak sesuai dengan tujuan digitalisasi pada awalnya.
Baca juga : Kilauan Emas 50 Tahun SMP Tarakanita 3
Misalnya, ditemukan penurunan kemampuan murid-murid Swedia dalam perkembangan keterampilan belajar dasar berupa membaca dan menulis. Selain itu, para pendidik di Swedia juga melaporkan bahwa para murid mengalami kesulitan konsentrasi dan kesulitan mengingat informasi, saat pembelajaran menggunakan layar digital.
Hal ini terkonfirmasi oleh hasil penelitian Dewan Riset Swedia yang melaporkan bahwa pembelajaran dengan menatap layar berjam-jam menghambat kemampuan murid dalam memproses informasi yang kompleks.
Peneliti lain, Anna Lindstrom dari Institut Pendidikan Nasional Swedia, seperti dikutip Kompas.com juga melaporkan dampak menatap layar dan lampu latar pada konsentrasi dan pemahaman, ternyata jauh lebih signifikan daripada yang diperkirakan.
Selain itu, Anna juga melaporkan bahwa para murid seringkali menyelewengkan penggunaan perangkat teknologi untuk bermain game atau menjelajah internet selama berjam-jam di sekolah, ketika jam pelajaran berlangsung, tanpa diketahui guru. Ini kata Anna, mengurangi keterlibatan murid dalam proses belajar mengajar.
Selain itu, Institut Karolinska Swedia juga melaporkan dengan menunjukkan bukti ilmiah bahwa penggunaan perangkat digital dalam proses belajar mengajar justru merusak proses belajar mengajar. Mereka kemudian ikut mendorong agar proses belajar mengajar dikembalikan ke buku cetak sebagai media pembelajaran.
Baca juga : Menag Siapkan ‘Kurikulum Cinta’ Melalui Pelajaran Agama di Sekolah
Kembali ke buku cetak
Menyikapi dampak buruk pembelajaran digital tersebut, pemerintah Swedia memutuskan untuk menggunakan kembali buku cetak dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Untuk itu, pemerintah menyediakan dana sebesar 1.748 triliun rupiah untuk pengadaan kembali buku cetak dan kampanye untuk mendorong kesadaran akan pentingya buku cetak.
Namun Lena Johansson, Menteri Pendidikan Swedia, seperti di lansir Kompas.com menegaskan bahwa ini adalah langkah untuk mengupayakan keseimbangan, di mana perangkat digital tetap diperlukan namun sebagai pelengkap, dan bukan menggantikan buku cetak, yang merupakan aspek mendasar dari pembelajaran.
Itu artinya, teknologi memang memiliki kelebihan namun tidak dapat menggantikan buku cetak. Karena buku cetak lebih mungkin menumbuhkan pemahaman dan keterampilan berpikir kritis pada para murid, yang menjadi tujuan pembelajaran, daripada peralatan digital.
Dengan mengembalikan buku cetak dalam pembelajaran dan tetap melengkapinya dengan peralatan digital, pemerintah Swedia mengupayakan tetap mengembangkan keterampilan belajar dasar; membaca dan menulis, sekaligus terampil menggunakan peralatan digital sebagai nilai tambah para murid.
Foto: Metro TV
